Selepas Larang UNRWA, Israel Mengganas di Beit Lahiya

Lebih dari 100 orang warga Palestina yang tinggal di Beit Lahia jadi korban serangan udara Israel. Dunia hanya bisa mengecam.

30 Okt 2024 19:32 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad - [email protected]

GAZA, RABU — Pembantaian kembali dilakukan oleh militer Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza. Lewat dua serangan udara pada, Selasa (29/10/2024) malam, israel menghancurkan satu blok permukiman. Serangan itu menewaskan sedikitnya 100 orang. Sementara puluhan lain terperangkap di bawah puing bangunan yang hancur akibat serangan Israel.

Begitu brutalnya serangan itu sampai Amerika Serikat pun mengecam. Padahal, Israel bisa terus menyerang Gaza, antara lain, karena pasokan senjata besar-besaran dari AS.

Washington menyebut serangan itu mengerikan. Sayangnya, tidak jelas apa tindakan lanjutan AS terhadap Israel yang sudah berulang kali menunjukkan kekejaman di Gaza.

Juru Bicara Badan Pertahanan Sipil Gaza Mahmud Bassal khawatir, jumlah korban tewas terus meningkat. Seorang saksi mata, Rabie al-Shandagly (30) mengatakan, semula dirinya mengira ledakan yang terjadi adalah baku tembak antara pasukan Israel dan anggota kelompok Hamas.

Hal itu berlangsung setiap hari. Akan tetapi, dirinya tak mengira suara keras yang terjadi pada Selasa malam adalah ledakan besar di sebuah blok tempat tinggal warga Palestina yang mayoritas adalah pengungsi.

Seorang ibu dan lima anaknya—beberapa di antaranya sudah dewasa—dan seorang ibu kedua dengan enam anak, termasuk di antara mereka yang tewas dalam serangan di gedung berlantai lima itu, menurut Layanan Darurat Kementerian Kesehatan Gaza.

Rekaman video yang diperoleh Reuters memperlihatkan puluhan jenazah terbungkus selimut di tanah di luar gedung yang menjadi sasaran serangan.

”Saya pikir itu adalah penembakan. Tetapi, ketika saya keluar setelah matahari terbit, saya melihat orang-orang menarik mayat, anggota tubuh, dan yang terluka dari bawah reruntuhan,” kata Rabie al-Shandagly (30), seorang saksi mata.

Dia menambahkan, para korban terluka tidak bisa mendapatkan pertolongan pertama yang layak. Sebab, tidak ada rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.

Beberapa orang pria mengangkat tubuh seorang pria dari reruntuhan bangunan permukiman di Beit Lahiya yang menjadi sasaran serangan militer Israel, Selasa (29/10/2024). Diperkirakan lebih dari 100 warga sipil Palestina tewas dalam serangan tersebut.

Rumah Sakit Kamal Adwan, tidak jauh dari lokasi kejadian, kewalahan dengan korban luka yang dibawa dan membutuhkan perawatan. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.

Hossam Abu Sayifa, direktur rumah sakit tersebut mengatakan, para korban membutuhkan tindakan medis darurat, termasuk operasi. Akan tetapi, mereka tidak memiliki sarana dan sumber daya yang memadai, terutama setelah militer Israel menahan puluhan petugas kesehatan yang dicurigai merupakan anggota Kelompok Hamas.

”Situasinya sangat buruk dalam segala hal. Dia menambahkan, satu-satunya dokter yang tersisa adalah doker anak. Sistem perawatan kesehatan telah runtuh dan membutuhkan intervensi internasional segera,” katanya.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Miller mengatakan, Pemerintah AS telah meminta penjelasan mengenai serangan tersebut pada pemerintah Israel. ”Ini adalah insiden yang mengerikan,” katanya, sekaligus menyalahkan kejadian itu sepenuhnya tak terlepas dari tanggung jawab Kelompok Hamas.

Sejak 6 Oktober, menjelang peringatan satu tahun Operasi Badai Al Aqsa yang dilancarkan Kelompok Hamas terhadap Israel, militer Israel melancarkan serangan membabi buta ke wilayah Gaza utara, khususnya di sekitar Jabalia, Beit Lahiya, dan Beit Hanoun. Meski wilayah ini merupakan tempat pengungsian warga Palestina di Gaza, militer Israel tutup mata.

Militer Israel menuding tempat-tempat itu menjadi lokasi pertemuan para anggota kelompok Hamas tersisa setelah pembunuhan para pemimpin utama mereka, Ismail Haniyeh dan Yahya Sinwar.

Seorang gadis cilik tengah mencari sesuatu di antara reruntuhan bangunan pemukiman di Beit Lahia, Gaza utara, yang menjadi sasaran serangan udara militer Israel, Selasa (29/10/2024). Diperkirakan lebih dari 100 orang warga sipil Palestina tewas akibat serangan tersebut.

Tel Aviv selalu mengklaim bahwa serangan yang dilakukan tepat sasaran sekaligus menghindari melukai warga sipil. Akan tetapi, serangan-serangan itu sering kali menewaskan perempuan dan anak-anak.

Militer Israel juga tidak pernah menjelaskan identitas orang-orang yang menjadi sasaran. Semua dianggap sama: pendukung Kelompok Hamas.

Sejak operasi militer Israel dilaksanakan, 8 Oktober 2023, korban warga Palestina telah mencapai lebih dari 43.000 jiwa, yang sebagian besar merupakan warga sipil.

Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan keterkejutannya terhadap serangan ke Beit Lahiya dan menilainya sebagai salah satu serangan tunggal yang paling mematikan bagi warga Palestina di Gaza, selama tiga bulan terakhir. Lembaga itu menyerukan penyelidikan yang cepat dan transparan atas peristiwa tersebut.

Terperangkap

Dinas Darurat Sipil Palestina menyebutkan, sekitar 100.000 warga Palestina terjebak di Jabalia, Beit Lahia, dan Beit Hanoun tanpa pasokan makanan dan alat kesehatan yang memadai. Para korban terluka dan kritis akibat serangan Selasa malam, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, mungkin tidak bisa tertolong nyawanya karena ketiadaan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai.

”Kasus kritis tanpa intervensi akan menyerah pada takdirnya dan meninggal,” kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan.

Israel Klaim Temukan Terowongan Hamas di Bawah Kantor UNRWA Gaza

Militer Israel menyatakan, tengah menyelidiki serangan pertama di Beit Lahiya, tak lama setelah serangan berlangsung.

Serangan tersebut terjadi di tengah desakan Pemerintah AS agar pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengambil langkah untuk memperbaiki situasi kemanusiaan di Gaza. Surat desakan dikirimkan Biden pada Netanyahu awal Oktober.

Akan tetapi, menurut Miller, Washington tidak melihat banyak kemajuan atas sejumlah hal yang dinyatakan Biden dalam surat tersebut. Bahkan, menurut Miller, Washington terganggu dengan keputusan Israel melarang badan bantuan PBB untuk Palestina UNRWA beroperasi di Gaza.

Serangan Selasa malam terjadi sehari setelah parlemen Israel mengesahkan undang-undang untuk melarang badan bantuan PBB UNRWA beroperasi Gaza dan dikhawatirkan memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah mengerikan di sana.

Kepala UNRWA Philippe Lazzarini menyebut tindakan Israel merupakan hukuman kolektif terhadap warga Palestina. (AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Kris Mada