Bayern Muenchen kembali berusaha memecahkan teka-teki yang diciptakan Xabi Alonso bersama Bayer Leverkusen. Teka-teki itu belum terjawab selama dua tahun lebih.
04 Mar 2025 20:58 WIB · Olahraga
MUENCHEN, SELASA — Bagi Bayern Muenchen, Pelatih Bayer Leverkusen Xabi Alonso adalah sosok yang melambangkan ironi. Setelah menutup karier cemerlang sebagai pemain di Bayern, Alonso justru menciptakan raksasa yang tidak mampu ditumbangkan Bayern. Ironi itu menyapa lagi di babak 16 besar Liga Champions.
Bayern boleh saja unggul delapan poin atas Bayer Leverkusen dalam persaingan gelar juara Liga Jerman. Namun, dalam duel teranyar nanti, Leverkusen lebih diunggulkan. Wajar saja, sejak Alonso melatih Leverkusen pada akhir 2022, Bayern tidak pernah mengalahkan tim rival dalam enam pertandingan beruntun (3 kalah, 3 seri).
Termasuk musim ini, dua raksasa Jerman itu sudah bertemu tiga kali. Dua kali berakhir imbang dan sekali dimenangi Leverkusen. Bayern tidak bisa berbicara banyak. Realitas tersebut membayangi tuan rumah Bayern saat menjamu Leverkusen dalam laga pertama di Stadion Allianz Arena, Kamis (6/3/2025) dini hari WIB.
Alonso benar-benar menjadi tokoh antagonis untuk Bayern. Bukan hanya karena mantan pemain kebanggaan yang pindah ke tim rival, melainkan juga akibat taktik-taktik yang selalu membuat Bayern tidak berkutik. Contohnya baru terjadi dua pekan lalu, saat kedua tim bermain imbang 0-0 dalam pertandingan Liga Jerman.
Laga memang imbang, tetapi Leverkusen mendominasi penuh permainan. Bayern yang datang sebagai tamu, hanya berhasil melakukan dua kali percobaan tembakan tanpa satu pun yang tepat sasaran. Tembakan pertama Bayern dihasilkan pada menit ke-73. Skuad asuhan Alonso hanya kurang beruntung di depan gawang.
Liga Champions lebih emosional, tidak selamanya tim terbaik menang. Hanya dengan 5 menit yang buruk, Anda bisa tersingkir.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/18/ec294360-f2f5-4cee-925a-d9f2e5b67806_jpg.jpg)
Strategi Alonso menjadi sorotan. Dia menerapkan pertahanan man to man untuk setiap pemain lawan, tidak terkecuali penyerang lawan. Bayern menggunakan formasi 4-4-2 dengan duet penyerang Harry Kane dan Jamal Musiala. Kedua pemain itu dijadikan ”penyerang palsu” atau sering mundur ke bawah saat fase membangun serangan.
Alonso mengambil risiko untuk mengejar kedua penyerang lawan ke mana pun. Bek tengah Edmond Tapsoba dan Jonathan Tah sering mengawal hingga separuh pertahanan lawan walaupun meninggalkan lubang di belakang. Hasilnya, rencana Pelatih Bayern Vincent Kompany tidak bekerja sama sekali.
Meskipun diunggulkan, Alonso enggan sesumbar. ”Mereka adalah tim besar. Mereka ingin bermain di final karena berlangsung di Muenchen. Liga Champions lebih emosional, tidak selamanya tim terbaik menang. Hanya dengan 5 menit yang buruk, Anda bisa tersingkir,” ucap Alonso, dua kali juara Liga Champions sebagai pemain, kepada Sky Sports Jerman.
Tradisi memisahkan Bayern dengan Leverkusen. Bagi Bayern yang sudah juara enam kali, Leverkusen hanyalah anak ”kemarin sore”. Tradisi itu berhubungan dengan mentalitas. Banyak yang tidak percaya dengan pengaruh mentalitas di kancah Eropa, tetapi tim-tim raksasa seperti Bayern dan Real Madrid sudah membuktikannya.
Musim lalu, misalnya. Di bawah pelatih Thomas Tuchel, Bayern disebut sebagai versi tim terburuk dalam satu dekade terakhir. Namun, semua berubah ketika tampil di kompetisi Eropa. Manuel Neuer dan rekan-rekan masih mampu menembus semifinal, termasuk menyingkirkan Arsenal yang sedang dalam tren performa terbaik.
Kompany mengatakan, akan sulit mengalahkan Leverkusen. Tim tamu sangat efektif saat bertahan dengan garis tinggi maupun rendah. Mereka berupaya menyiapkan respons untuk kedua skema itu. ”Kami akan berhadapan lima kali musim ini. Itu akan menjadi rivalitas menarik untuk dua tim terbaik di Jerman saat ini. Kami ingin menang,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/01/21f86d31-c6bf-4ca8-9636-eaf23d696a18_jpg.jpg)
Jika dilihat dari pertemuan musim ini, laga Bayern versus Leverkusen selalu sepi gol. Total, hanya tercipta tiga gol dalam tiga pertemuan terakhir. Pertarungan sengit serupa kemungkinan tersaji lagi di dua laga balas kandang nanti. Artinya, tim yang lolos ke perempat final akan ditentukan dengan margin sangat tipis.
Kualitas individu pemain pun akan menjadi pembeda. Bayern memiliki Kane yang sudah menghasilkan 7 gol dan 1 asis dalam 9 pertandingan Liga Champions dan penyerang sayap Michael Olise (5 gol dan 1 asis). Di tim tamu, gelandang serang Florian Wirtz (6 gol dan 1 asis) kembali menjadi tumpuan.
Wirtz, terakhir kali bertemu Bayern, sukses mengacak-acak pertahanan lawan. Dia diturunkan sebagai penyerang dalam formasi 4-4-2 pada daftar susunan pemain awal. Namun, ketika dalam penguasaan, dia sedikit mundur dan memerankan gelandang serang dalam formasi 2-2-1-5. Wirtz menjadi sumber kreativitas Leverkusen.
Leverkusen memang diunggulkan berkat sejarah pertemuan, tetapi sebenarnya belum ada pemenang yang sahih antara Alonso versus Kompany pada musim ini. Satu-satunya kemenangan Leverkusen (1-0) musim ini terjadi di Piala Jerman. Hasil diraih setelah Neuer diganjar kartu merah pada menit ke-17. Alonso belum pernah mengalahkan Kompany dalam situasi 11 lawan 11. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji Dewabrata