Ironi Boca Juniors Dipersembahkan Duo Argentina

Laga terpanas di awal Piala Dunia Antarklub disajikan Boca Juniors dan Benfica. Boca, dibantu dukungan penonton, harus merelakan tiga poin di depan mata.

17 Jun 2025 11:50 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

MIAMI, SENIN — Klub Argentina, Boca Juniors, menelan kenyataan pahit di laga pertama Piala Dunia Antarklub 2025. Walaupun seperti bermain di kandang dan sempat unggul dua gol, mereka harus berbagi poin dengan Benfica. Kekecewaan Boca dipersembahkan dua pemain Argentina, Angel Di Maria dan Nicolas Otamendi.

Duel panas yang berakhir 2-2 itu tersaji dalam laga Grup C di Stadion Hard Rock, Miami, Selasa (17/6/2025) WIB. Tiga kartu merah di antara Boca dan Benfica bisa sedikit menggambarkan atmosfer dan intensitas pertandingan. Mereka sama-sama menyudahi pertarungan dengan sepuluh pemain.

Wajar saja jika laga berlangsung sengit. Stadion diisi sekitar 55.000 penonton yang mayoritas pendukung Boca. Boca enggan menyia-nyiakan dukungan itu, apalagi setelah mampu unggul 2-0 lebih dulu pada awal laga. Gol dari penyerang Miguel Merentiel dan gelandang Rodrigo Battaglia sempat meninggikan Boca.

Bayang-bayang pesta Boca dirusak oleh Di Maria dan rekan-rekan. Benfica menyergap dengan sepasang gol yang bermula dari skema sama, tendangan sudut. Kedua gol itu melibatkan bek Otamendi. Gol pertama datang dari penalti Di Maria setelah Otamendi dilanggar. Gol kedua dihasilkan langsung lewat sundulan Otamendi.

Kemasukan gol kedua pada menit ke-84 terasa sangat pahit bagi Boca mengingat Benfica ketika itu sudah bermain dengan sepuluh orang. Penyerang Andrea Belotti diganjar kartu merah akibat mengangkat kaki terlalu tinggi saat perebutan bola. ”Rasanya aneh. Itu meninggalkan kepahitan,” kata Merentiel, kapten tim Boca.

Referee Cesar Ramos shows the red card to Boca Juniors' Nicolas Figal during the Club World Cup group C soccer match between Boca Juniors and Benfica in Miami Gardens, Fla., Monday, June 16, 2025. (AP Photo/Rebecca Blackwell)

Pertahanan Boca seperti tidak belajar dari kesalahan. Mereka membiarkan Otamendi bergerak bebas di kotak penalti dalam skema tendangan sudut sebelum akhirnya dilanggar Carlos Palacios. Otamendi kembali berdiri bebas menyambut umpan tendangan sudut dari Orkun Kokcu dalam gol penyeimbang.

Uniknya, pil pahit diberikan Di Maria dan Otamendi yang sudah sering menghadirkan kebahagiaan untuk publik Argentina. Mereka adalah fondasi tim nasional Argentina saat menjuarai Piala Dunia Qatar 2022. Hanya saja, dalam karier profesional, mereka lebih melekat dengan klub-klub Portugal. Mereka lebih lama bermain di Portugal daripada di negara sendiri.

”Kami mencoba memenangi pertandingan. Kami tahu seperti apa sepak bola Argentina. Kami tahu bagaimana kami harus bermain, tetapi di babak pertama kami tidak tampil seperti seharusnya. Di babak kedua, kami bermain jauh lebih baik. Kami mencoba memenangi pertandingan di akhir, tetapi tidak berhasil,” ujar Di Maria.

Boca pada akhirnya juga menyudahi laga dengan sepuluh pemain. Bek Nicolas Figal menerima kartu merah langsung akibat pelanggaran keras. Pada pengujung paruh pertama, pemain Boca, Ander Herrera, juga menerima kartu merah akibat ”adu mulut” dengan pemain lawan. Hanya saja, Herrera sudah ditarik sejak menit ke-20.

Quote

Saya pikir, untuk kami tim-tim Argentina, jaraknya masih terasa dengan klub-klub Eropa. Semoga itu bisa diperkecil suatu hari nanti. Kami akan terus bekerja untuk itu. - Miguel Russo -

Perspektif terhadap kepemimpinan wasit asal Meksiko, Cesar Palazuelos Ramos, terbelah. Di Maria berkata, wasit terlambat mengeluarkan kartu sehingga laga berjalan cenderung keras dan sulit dinikmati. Sebaliknya, Pelatih Boca Miguel Russo menilai sang wasit terlalu reaktif. Russo tidak setuju dengan keputusan penalti dan kartu merah.

Benfica's Nicolas Otamendi (30) scores his side's second goal during the Club World Cup group C soccer match between Boca Juniors and Benfica in Miami Gardens, Fla., Monday, June 16, 2025. (AP Photo/Rebecca Blackwell)

Seperti hasil akhir, pertandingan sebenarnya berlangsung seimbang. Benfica lebih mendominasi permainan dengan unggul jauh dalam penguasaan bola, 60,5 persen. Namun, Boca lebih efisien dalam menerjemahkan serangan menjadi peluang. Boca unggul dalam jumlah tembakan, 10 : 8.

Jarak kualitas

Menurut Russo, masih ada jarak kualitas yang terlihat di antara kedua tim. ”Lawannya sulit. Kami punya keuntungan dan mereka menyamakan kedudukan. Saya pikir, untuk kami tim-tim Argentina, jaraknya masih terasa dengan klub-klub Eropa. Semoga itu bisa diperkecil suatu hari nanti. Kami akan terus bekerja untuk itu,” tuturnya.

Lewat hasil itu, persaingan Grup C akan semakin ketat. Bayern Muenchen memimpin klasemen sementara setelah menang 10-0 atas tim semi-profesional, Auckland City. Di atas kertas, Bayern akan melaju sebagai juara grup. Satu tiket lagi kemungkinan diperebutkan hanya oleh dua tim, yaitu Boca dan Benfica.

Boca dan Benfica harus bisa mencuri poin dari Bayern dan menang sebesar mungkin atas Auckland. Boca akan menghadapi ujian Bayern pada Kamis pagi, sementara Benfica bertemu Auckland pada Rabu pagi. Dengan dukungan penonton sangat besar, Boca tidak bisa diremehkan. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari