Duel Inter versus Monterrey menandai era baru dari kedua tim. Sorotan besar tertuju ke Inter yang mengawali kisah baru bersama Chivu setelah ditinggal Inzaghi.
16 Jun 2025 19:34 WIB · Olahraga
Kisah Pelatih Simone Inzaghi bersama Inter Milan sudah berakhir. Namun, warisannya akan tetap terjaga di tangan sang suksesor, yaitu Christian Chivu. Setelah mengabdi sebagai pemain, Chivu akan memulai era kedua di Inter dalam Piala Dunia Antarklub 2025.
Debut Chivu sebagai pelatih baru akan tercipta dalam laga Grup E antara Inter dan CF Monterrey di Stadion Rose Bowl, Los Angeles, Rabu (18/6/2025) pukul 08.00 WIB. Mantan bek Inter yang sempat meraih tiga kali scudetto dan satu trofi Liga Champions itu kembali dengan tugas berbeda.
”Rasa tanggung jawabnya besar, sama seperti saat saya datang ke sini sebagai pemain. Saya sudah di sini (Inter) selama 13 tahun, dengan sedikit jeda di antaranya, tetapi saya selalu di sini,” kata Chivu yang sebelumnya melatih Parma, dari pertengahan Februari sampai awal Juni 2025.
Akhir era Inzaghi memang berakhir getir dengan kekalahan telak di final Liga Champions. Meskipun begitu, tidak bisa dimungkiri, dia adalah sosok pelatih paling berpengaruh untuk Inter dalam satu setengah dekade terakhir. Inzaghi sukses mengembalikan taji ”Si Ular Besar” di Italia dan Eropa.
Itulah alasan mengapa para petinggi Inter kemudian memilih Chivu di antara banyak kandidat, salah satunya Patrick Vieira. Vieira lebih teruji di dunia kepelatihan dengan rekam jejak bagus di Crystal Palace hingga Genoa. Jauh dibandingkan dengan Chivu yang baru melatih klub senior sejak Februari lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/19/2031a4bb44283200799b24aca7335779-wires_photo_2025_05_19T134142.655.jpg)
Walaupun demikian, Chivu punya kelebihan yang tidak dimiliki Vieira. Dia dinilai bisa meneruskan warisan Inzaghi. Sebelum pindah ke Parma, dia sempat melatih tim muda Inter selama tiga tahun (2021-2024). Pelatih asal Romania itu belajar langsung di bawah kepemimpinan Inzaghi.
Menurut media Italia, Gazzetta dello Sport, salah satu pertimbangan utama penunjukan Chivu adalah sistem bermain. Inter telah mempertahankan formasi 3-5-2 sejak era Antonio Conte hingga Inzaghi walaupun berbeda pendekatan detail. Chivu berkomitmen menggunakan formasi serupa.
Di Parma, Chivu memulai perjalanannya dengan formasi empat bek, dari 4-3-3, 4-2-3-1, hingga 4-1-4-1. Setelah sebulan melatih, dia memutuskan untuk mengganti formasi jadi 3-5-2. Formasi baru tersebut yang kemudian membawa Parma bertahan dari jeratan zona degradasi.
Inter menginginkan kesinambungan, bukan perubahan total. ”Proyek ini terasa baru, tetapi juga familiar. Kami harus melanjutkan apa yang sudah dihasilkan sebelumnya. Standar telah naik dalam beberapa tahun terakhir (di era Inzaghi), kami harus tetap berada di sana,” ujar Chivu.
Chivu mendapatkan banyak ilmu dari banyak pelatih hebat selama bermain. Salah satunya adalah Jose Mourinho yang pernah membawa era keemasan Inter saat meraih treble winner pada musim 2009-2010. Menurut Chivu, dia sempat berbicara dengan Mourinho lewat telepon setelah kembali ke Inter.
Maicon, eks bek sayap Inter (2006-2012), sangat mengenal Chivu. Baginya, tidak ada sosok yang lebih tepat saat ini untuk memimpin Si Ular Besar selain mantan rekannya di lini pertahanan tersebut. Chivu memahami kultur dan psikologis tim serta kualitas para pemain muda.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/01/a85023bb202394a7f68e82c7f51d1cdc-APTOPIX_Germany_Soccer_Champions_League_Final_4_.jpg)
Masalahnya, Chivu sudah dinanti tugas berat di Piala Dunia Antarklub. Dia harus segera mengobati trauma skuad Inter yang dialami pada penghujung musim lalu. Selain kehilangan gelar Liga Italia di pekan terakhir, mereka juga kalah 0-5 dari Paris Saint-Germain di final Liga Champions.
”Dia dinanti tugas sangat berat. Itu tidak mudah karena rasa sakit setelah kekalahan besar pasti sangat dalam. Saya tahu betul karena saya pernah kalah 1-7 (bersama Brasil) dari Jerman di Piala Dunia. Namun, jika ada orang yang bisa membangkitkan mereka, itu adalah Chivu,” ucap Maicon.
Monterrey, klub asal Meksiko, siap merusak debut Chivu. Kualitas skuad mereka mungkin jauh di bawah inter. Hal itu tecermin dari harga pasar skuad Monterrey yang hanya 71,5 juta (Rp 1,24 triliun) atau sekitar 10 kali lipat di bawah Inter.
Meskipun begitu, Monterrey juga datang dengan motivasi besar untuk memulai era baru. Mereka baru mengganti Pelatih Martin Demichelis dengan Domenec Torrent. Adapun Torrent sempat bekerja sebagai asisten pelatih Josep Guardiola di Manchester City pada 2016-2018.
Skuad Monterrey juga tidak bisa diremehkan begitu saja. Mereka diperkuat para pemain veteran yang pernah bersinar di Liga Spanyol, seperti bek Sergio Ramos dan gelandang Sergio Canales. ”Kami harus hati-hati dengan Sergio karena baru pulih cedera, tetapi dia sudah siap bermain. Dia adalah pemimpin di tim ini,” kata Torrent kepada Bein Sports.
Chivu berkata, semua peserta Piala Dunia Antarklub pasti berambisi menang. Dia mewaspadai motivasi lebih dari klub-klub di luar Eropa yang tidak diunggulkan. ”Kami telah mempelajari mereka, kemungkinan perubahan yang dilakukan setelah pergantian pelatih. Mereka selalu bermain proaktif dan punya pemain dengan kemampuan individu yang baik,” ujarnya. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar Alexey