Buruknya kualitas udara akibat debu material longsor serta cuaca yang masih kerap hujan diduga menjadi pemicu utama. Sanitasi lingkungan juga menjadi tantangan.
08 Des 2025 19:25 WIB · Politik & Hukum
KOMPAS/YOLA SASTRA
AGAM, KOMPAS — Memasuki pekan kedua pascabencana hidrometeorologi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kondisi kesehatan ribuan pengungsi mulai menurun. Infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA menjadi penyakit yang paling banyak menyerang warga terdampak di pengungsian.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Agam, Hendri Rusdian, membenarkan tren penurunan kesehatan warga tersebut. Berdasarkan pemantauan harian dari posko-posko kesehatan di lokasi bencana, gangguan pernapasan menjadi keluhan utama.
”Dalam beberapa hari ini, dari laporan masing-masing posko kesehatan yang ada di lokasi bencana, penyakit yang banyak diderita masyarakat adalah ISPA, gastritis (gangguan lambung), hipertensi, dan infeksi kulit,” ujar Hendri, Senin (8/12/2025).
Data Situation Report (Sitrep) Dinas Kesehatan Kabupaten Agam per 7 Desember 2025 mengonfirmasi pernyataan tersebut. Tercatat kasus ISPA menduduki peringkat tertinggi dengan jumlah 626 kasus. Buruknya kualitas udara akibat debu material longsor serta cuaca yang masih kerap hujan diduga menjadi pemicu utama.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/08/007de6e972a1471980a9e7cf5fe17c3d-IMG20251208141055.jpg)
Selain ISPA, data lapangan menunjukkan tingginya kasus demam atau febris sebanyak 242 kasus. Sementara itu, gangguan lambung atau gastritis juga tercatat signifikan dengan 74 kasus. Kondisi ini mengindikasikan pola makan yang mungkin terganggu atau faktor stres pada pengungsi.
Masalah lingkungan pengungsian dan sanitasi yang belum sepenuhnya pulih pun memicu munculnya penyakit kulit. Data mencatat sebanyak 108 kasus dermatitis atau peradangan kulit yang disertai gatal-gatal.
Dalam beberapa hari ini, dari laporan setiap posko kesehatan yang ada di lokasi bencana, penyakit yang banyak diderita masyarakat adalah ISPA, gastritis (gangguan lambung), hipertensi, dan infeksi kulit.
Kesehatan kelompok rentan, terutama warga lansia, juga menjadi sorotan. Kasus hipertensi tercatat cukup tinggi, yakni 138 kasus, disusul oleh myalgia atau nyeri otot sebanyak 149 kasus. Hal ini mengindikasikan tingginya tingkat kelelahan fisik warga yang harus bertahan di tenda-tenda darurat.
Hingga saat ini, total warga yang mengungsi di Kabupaten Agam tercatat sebanyak 6.206 jiwa. Tantangan terbesar di lapangan adalah masalah sanitasi lingkungan di lokasi pengungsian yang belum memadai serta ketersediaan air bersih.
Di luar penyakit umum tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Agam juga tengah mewaspadai potensi Kejadian Luar Biasa (KLB). Petugas medis menemukan adanya 15 kasus suspek campak. Temuan ini menjadi lampu kuning mengingat penyakit ini sangat mudah menular di lingkungan padat seperti pengungsian.
Selain campak, tren kasus diare juga dilaporkan terus menunjukkan peningkatan. Meskipun dalam grafik 10 penyakit terbanyak angka diare tercatat sebanyak 50 kasus, tren kenaikannya menjadi perhatian serius petugas surveilans kesehatan untuk mencegah wabah meluas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/08/7209e7fb9f07dde5647de343e0444742-IMG20251208113916.jpg)
Dampak kesehatan tidak hanya dirasakan oleh pengungsi, tetapi juga para sukarelawan yang bertugas. Ketua Tim Medis 2 RSUP M Djamil Padang Rido Wandrivel, yang diperbantukan di Puskesmas terdampak, mengungkapkan, pasien yang datang ke posko kini mulai beragam.
”Selain masyarakat, sukarelawan juga mulai banyak yang masuk posko. Keluhannya rata-rata ISPA, keletihan ekstrem, hingga luka-luka fisik seperti tertusuk paku saat membantu pembersihan material,” ujar Rido.
Rido menjelaskan, RSUP M Djamil menurunkan tim dokter spesialis penyakit dalam, anak, dan kulit untuk mendukung puskesmas setempat. Penyakit kulit menjadi langganan pascabanjir, tetapi kini tren kasus bedah minor akibat luka fisik juga meningkat.
”Setelah dievaluasi, kasus bedah mulai meningkat. Karena itu, tim medis sif ketiga yang akan dikirim besok, menurut rencana, akan menyertakan dokter spesialis bedah untuk melengkapi layanan,” kata Rido.
Kehadiran tim medis rujukan di puskesmas ini diharapkan dapat mempercepat penanganan warga maupun sukarelawan yang sakit sehingga tidak perlu jauh-jauh dirujuk ke rumah sakit di pusat kota yang aksesnya mungkin masih terkendala.
Penulis:
Willy Medi Christian NababanEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase