Israel Kehabisan Penangkis Rudal, Iran Tak Menyerah

Cadangan roket dan rudal penangkis Israel cuma untuk 12 hari lagi. Iran masih punya lebih dari 1.000 rudal yang bisa menjangkau Israel.

18 Jun 2025 19:41 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

WASHINGTON DC, RABU — Cadangan Rudal dan roket penangkis serangan udara Israel semakin menipis. Sistem pertahanan udara Israel kewalahan menghadapi rudal dan pesawat nirawak Iran.

Media AS, The Washington Post, melaporkan kondisi itu pada Rabu (18/6/2025). Koran itu mengutip sumber yang mengikuti taklimat dari intelijen AS-Israel.

Menurut intelijen kedua negara, cadangan roket dan rudal artileri pertahanan udara (arhanud) Israel cuma cukup untuk paling lama 12 hari. Hal itu bila intensitas serangan Iran tidak berkurang.

”Mereka (Israel) harus memilih rudal atau pesawat nirawak mana yang akan ditangkis. Sistem (pertahanan udara) kewalahan,” kata sumber yang menolak identitasnya diungkap itu.

Pakar rudal pada Missile Defense Advocacy Alliance, Tal Inbar, menyebut Israel akan mendorong gencatan senjata begitu cadangan roket dan rudal Arhanud menipis. Israel melakukan dengan Hamas pada 2014. ”Kondisi itu bisa jadi pendorong gencatan senjata sekarang,” ujarnya.

Roket dan rudal arhanud Israel mahal. Setiap unit rudal yang diluncurkan Arrow, salah satu arhanud Israel, harganya 3 juta dollar AS. Arrow arhanud Israel menangkis rudal Iran.

Israel tidak bisa mengandalkan Iron Dome untuk menangkis rudal-rudal Iran yang terus berkembang. ”Sama tidak bergunanya dengan menembakkan pistol ke rudal itu,” kata Inbar soal penggunaan Iron Dome ke rudal Iran.

This handout photo provided by Iran's Revolutionary Guard Corps (IRGC) official website Sepah News on February 1, 2025, shows a test launch during the unveiling of the Ghadr-380 naval cruise missile in an undisclosed location in Iran. The naval arm of the IRGC unveiled a new underground missile facility on the south coast in footage aired by state television on February 1, two weeks after unveiling an underground naval base. (Photo by SEPAH NEWS / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / IRAN'S REVOLUTIONARY GUARD VIA SEPAH NEWS" - NO MARKETING - NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Iran kesulitan

Di sisi lain, kondisi Iran tidak lebih baik. AS-Israel menaksir Iran punya 2.000 unit rudal yang bisa menjangkau Israel. Sebagian rudal dan peluncurnya disebut sudah dihancurkan Israel.

Salah satu indikasinya, skala serangan Iran telah berkurang. Sejak Jumat pekan lalu, Iran telah meluncurkan setidaknya 400 rudal. Jumlah hariannya terus menurun, meski jumlah yang mencapai sasaran meningkat.

”Iran harus membuat perhitungan sangat sulit karena jumlah rudal mereka terbatas. Menimbang intensitas penembakan, mereka tidak bisa segera menambah cadangan,” kata peneliti International Institute for Strategic Studies (IISS), Fabian Hinz.

Jumlah rudal yang ditembakkan Iran kini lebih sedikit dibandingkan April dan Oktober 2024. Pada Oktober 2024, Iran menembakkan 200 rudal dalam sehari. Kini, jumlahnya menurun dari 150 menjadi beberapa unit saja per hari.

Peneliti pada James Martin Center for Nonproliferation Studies, Jim Lamson, mengatakan bahwa Iran kesulitan menambah rudal dan peluncur baru. Sebab, sebagian fasilitas produksinya rusak. ”Mereka akan kesulitan membangun ulang kekuatan rudalnya,” katanya.

Media Iran, Tasnim, melaporkan kapasitas Iran yang sebenarnya tidak dipahami Israel dan sekutunya. Iran memiliki banyak rudal Shahab-3 dan Fattah-110 yang bisa mencapai Israel. Seluruh wilayah Israel bisa disasar rudal berjangkauan maksimum 1.500 kilometer tersebut.

Petugas pemadam kebakaran bekerja untuk memadamkan api setelah sebuah rudal yang diluncurkan dari Iran menghantam Haifa, di Israel utara, pada hari Minggu, 15 Juni 2025.

Serangan pembalasan Iran sejak Jumat menunjukkan, lapisan arhanud Israel tidak efektif. Hal itu, antara lain, karena kecerdikan taktik Iran.

Teheran menerbangkan berbagai varian pesawat nirawak Shaheed. Meski mengangkut peledak, fungsi utama pesawat itu untuk mengacau arhanud. Serangan dilakukan oleh rudal yang membawa hulu ledak lebih besar.

Tasnim menulis, keampuhan rudal Iran ditutupi oleh media Israel dan sekutunya. Media-media Israel dan negara menyensor dampak serangan dan keunggulan rudal Iran.

Media Israel, Times of Israel, melaporkan polisi kini memburu siapa pun yang mengedarkan rekaman dampak serangan rudal Iran. Selain itu, media asing dilarang menyiarkan dampak serangan Iran jika materi laporan belum disensor Israel.

Tidak menyerah

Sementara Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menjawab ultimatum Presiden AS Donald Trump. ”Bangsa Iran siap berperang, siap pula berdamai. Bangsa ini tidak akan menyerah kepada siapa pun,” ujarnya dalam pidato yang disiarkan pada Rabu sore.

Iran bangsa cerdas dan besar. ”Sejarah mencatat, Iran tidak bisa diancam dan tidak kenal menyerah. AS harus tahu, semua jenis keterlibatan militer AS akan menghasilkan kerusakan parah pada mereka,” lanjutnya sebagaimana dikutip Tasnim.

Ia menekankan, Iran diserang Israel di tengah perundingan damai yang ditawarkan AS. Iran tidak menunjukkan permusuhan sama sekali. ”Sejak awal kita curiga AS terlibat dalam kekejian rezim zionis ini. Dengan serangkaian pejabat Iran, kecurigaan ini menguat,” katanya.

Menurut dia, keterlibatan AS dalam serangan Israel ke Iran menunjukkan lemahnya Israel. ”Mereka yang paham kondisi kawasan tahu, serangan ke Iran akan menghancurkan mereka sendiri,” lanjutnya.

Infografik riset Perbandingan Sosial Ekonomi Israel dan Iran

Peneliti European Council on Foreign Relations (ECFR) Ellie Geranmayeh mengatakan, Trump kini dalam posisi sulit. Trump harus memilih berperang atau meneruskan upaya diplomatik. ”Trump bisa menghindari perang dengan Iran,” katanya kepada CNN.

Ia menyebut, pernyataan Trump sama saja deklarasi perang ke Iran. Serangan AS ke Iran tidak akan bisa dikontrol dampaknya. ”Bisa menggerus semua masa jabatan dan warisan Trump,” katanya.

Iran tidak akan menyerah, meski tahu tidak akan menang dalam perang ini. ”Mereka (Iran) hanya akan memastikan tidak akan jadi satu-satunya yang kalah,” ujarnya (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul