Jubir Kepresidenan Palestina Nabil Abu Rudeineh menyebut agresi militer Israel di Tepi Barat saat ini bagian dari rencana pengusiran dan pembersihan etnis Palestina.
03 Feb 2025 18:21 WIB · Internasional
RAMALLAH, SENIN — Juru Bicara Kepresidenan Palestina Nabil Abu Rudeineh mengecam keras tindakan pasukan pendudukan Israel memperluas perang total terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Ia menyebut langkah Israel ini bagian dari rencana mengusir bangsa Palestina dan tindakan pembersihan etnis.
Dalam pernyataan yang dilansir kantor berita Palestina, Wafa, Senin (3/2/2025), Abu Rudeinah memperingatkan bahaya tindakan Israel tersebut bagi masa depan seluruh kawasan Timur Tengah.
Ia menyebut kebijakan-kebijakan agresif itu dilaksanakan oleh pasukan pendudukan Israel di Tepi Barat serta telah menewaskan 29 orang, ratusan orang luka-luka atau ditangkap, menghancurkan keseluruhan blok-blok permukiman di kamp-kamp Jenin dan Tulkarm, menyebabkan telantarnya ribuan warga, dan menghancurkan secara masif infrastruktur.
”Kami menuntut intervensi pemerintahan AS sebelum semuanya terlambat untuk menghentikan agresi Israel yang tengah berlangsung terhadap rakyat dan tanah Palestina, yang akan memantik ledakan situasi hingga tak terkontrol dan semua orang harus menanggung akibatnya,” kata Abu Rudeinah.
Ia menekankan, rakyat Palestina tidak akan menerima rancangan apa pun, yang membuat mereka kehilangan tempat tinggal atau diberi tanah pengganti. Abu Rudeinah menambahkan, mengancam rakyat Palestina tidak memberi manfaat bagi siapa pun, tetapi hanya memperluas penghancuran di Palestina ataupun kawasan lebih luas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/03/0576e2a80c6d3e66e844fd173b1b46a5-Israel_Palestinians_127211579.jpg)
Pernyataan tersebut dikeluarkan Ramallah seiring dengan kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington DC, Amerika Serikat, mulai Senin (3/2/2025). Ia dijadwalkan menggelar pembicaraan, antara lain, tentang gencatan senjata Hamas-Israel tahap kedua di Gaza dengan Presiden AS Donald Trump.
Sementara pada saat sama, militer Israel terus menggempur warga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat. Dalam serangan, Minggu (2/2/2025) dini hari, menurut Kementerian Kesehatan Palestina, tentara Israel menembak mati seorang kakek berusia 73 tahun dan menghancurkan puluhan rumah di Jenin, Tepi Barat. Di tengah rapuhnya gencatan senjata di Gaza dan Lebanon, Israel mengalihkan fokus serangan ke Tepi Barat.
Pertemuan Netanyahu dan Trump dijadwalkan pada Selasa (4/2/2025). Ini jamuan pertama Trump atas tamu kepala negara asing sejak ia kembali berkuasa di Gedung Putih. Utusan Khusus Timur Tengah AS, Steve Witkoff, yang terlibat dalam negosiasi gencatan senjata, mengatakan, dirinya telah bertemu Netanyahu pekan lalu dan akan kembali melanjutkan pembahasan resmi lanjutan gencatan senjata, Senin (3/2/2025).
Trump diyakini akan mendorong pembukaan hubungan diplomatik Arab Saudi-Israel. Arab Saudi menegaskan hanya menyetujui usul tersebut jika perang berakhir dan berdiri negara Palestina mencakup wilayah Gaza, Tepi Barat, dan Jerusalem Timur dengan garis wilayah perbatasan sebelum perang 1967.
Pertemuan mereka dilangsungkan bersamaan dengan upaya tiga mediator (Qatar, Mesir, dan AS) menggelar perundingan gencatan senjata tahap kedua antara Hamas dan Israel.
Kesepakatan gencatan senjata, yang diumumkan pada 15 Januari 2025, terbagi dalam tiga tahap. Pada tahap pertama (berlaku 42 hari), 33 sandera Israel akan ditukar dengan hampir 2.000 tahanan Palestina. Selain itu, tentara Israel juga ditarik dari wilayah padat penduduk di Gaza. Warga Gaza diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing dan bantuan kemanusiaan diizinkan masuk Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/03/1670f0e87b1663b413b018903fe1cd98-APTOPIX_Israel_Palestinians_127203729.jpg)
Detail gencatan senjata tahap kedua dirundingkan lagi pada hari ke-16 tahap pertama yang jatuh pada Senin (3/2/2025). Diharapkan, kesepakatan itu bisa mencakup pembebasan semua sandera Israel (sekitar 60 orang) untuk ditukar dengan tahanan Palestina, gencatan senjata permanen, dan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza.
Di tahap ketiga, kesepakatan diharapkan berlanjut dengan penyerahan jenazah sandera dan rekonstruksi Gaza di bawah supervisi Mesir, Qatar, dan PBB. Tujuan tahap demi tahap gencatan senjata itu: penghentian perang dan pembangunan kembali Gaza setelah porak-poranda akibat 15 bulan perang.
Hamas menegaskan tidak akan membebaskan sisa sandera Israel dalam gencatan senjata tahap kedua jika militer Israel tidak mengakhiri perang dan pendudukan di Gaza.
”Kami memulai pelibatan pihak-pihak terkait untuk menentukan agenda dan untuk memulai pelibatan dalam diskusi-diskusi itu,” kata Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani, Minggu (2/2/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/03/6efd83c9305a1beb13fec3094c0401e4-TOPSHOT_QATAR_ISRAEL_PALESTINIAN_CONFLICT_126763450.jpg)
Netanyahu mendapat tekanan dari dalam kabinetnya untuk melanjutkan perang setelah gencatan senjata tahap pertama berakhir, awal Maret 2025. Netanyahu menyatakan komitmen meraup kemenangan total atas Hamas dan memastikan pemulangan seluruh sandera.
Belum diketahui sikap Trump atas tuntutan Hamas untuk mengakhiri perang di satu sisi dan desakan kubu ekstremis Yahudi untuk meneruskan perang di Gaza.
Laman Al Jazeera, Minggu (2/2/2025), melaporkan, juru bicara Angkatan Darat Israel mengatakan, militer Israel menghancurkan 23 bangunan di Jenin dan mengaku membunuh 50 pejuang Palestina di Tepi Barat sejak pertengahan Januari 2025. Dilaporkan pula, ledakan terjadi sepanjang hari di pemukiman warga di Kamp Pengungsi ad-Damj.
Kantor berita Palestina, Wafa, mewartakan, ledakan akibat gempuran Israel terdengar hingga seantero Kota Jenin. Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam keras tindakan brutal penghancuran bangunan di Jenin. Presiden Palestina Mahmoud Abbas mendesak digelar sidang darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) demi menghentikan penghancuran kamp pengungsi Palestina di Jenin dan Tulkarm oleh Israel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/23/2d0b04cfabaf6cb5ed9c1f56b1728e11-000_36VJ449.jpg)
Dalam insiden lain di selatan Tepi Barat, militer Israel membunuh pemuda bernama Mohammed Amjad Hadoush (27).
Seiring berlakunya gencatan senjata di Jalur Gaza, militer Israel melancarkan operasi besar-besaran di Tepi Barat dengan sandi operasi ”Tembok Besi” sejak 19 Januari 2025. Salah satu sasarannya adalah menyerang para pejuang Palestina di Jenin.
Henna al-Haj Hassan, warga Jenin, kepada Al Jazeera, mengatakan, suara ledakan dalam gempuran Israel sangat menakutkan warga. Warga Jenin mengalami serangan Israel dua pekan terakhir, dan terkena pemberlakuan jam malam. Berbagai toko dan kegiatan usaha warga terpaksa tutup sementara waktu.
Ini rencana Israel sejak lama untuk menghabisi dan membuat Palestina lenyap dan dilupakan.
Ahmed Tobasi, warga Jenin, mengatakan, rumah-rumah di Jenin sudah tidak bisa dihuni karena gempuran brutal Israel. ”Ini rencana Israel sejak lama untuk menghabisi dan membuat Palestina lenyap dan dilupakan,” kata Tobasi.
”Ini bukan soal menangani teroris. Yang dihadapi adalah rakyat jelata. Di Jenin, satu rumah itu bisa dihuni tiga sampai empat keluarga karena keterbatasan sarana,” kata Tobasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/03/ed34f89f575e424a5a577c4a893db1cc-PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_127212351.jpg)
Wartawan Al Jazeera, Hamda Salhut, menambahkan, militer Israel mendirikan pos-pos pemeriksaan di seantero Tepi Barat. Setidaknya 27 warga tewas di pos-pos pemeriksaan Israel.
”Banyak korban adalah rakyat jelata, termasuk bayi perempuan berusia dua tahun dan seorang kakek 73 tahun, yang ditembak Tzahal (militer Israel),” kata Salhut.
Minggu pagi, militer Israel menyatakan, grup taktis tempur menggelar operasi di Tammum dan menemukan senjata. Mereka melanjutkan operasi ke lima perkampungan.
Tak hanya di Tepi Barat, Israel juga menyerang di Jalur Gaza, mengakibatkan lima orang terluka, termasuk seorang anak kecil, Minggu (2/2/2025). Rumah Sakit Al-Awda di Gaza menyatakan, militer Israel menembaki sebuah kendaraan yang melintasi pos pemeriksaan dari wilayah selatan ke wilayah utara Jalur Gaza. (AP)
Penulis:
Iwan Santosa, Muhammad Samsul HadiEditor:
Muhammad Samsul Hadi