Israel Terus Membabi Buta, Pengungsi Gaza di Zona Kemanusiaan Pun Digempur

Gempuran Israel, antara lain, menarget Distrik Al-Mawasi saat ratusan ribu warga Palestina yang mengungsi berkerumun di area itu dalam cuaca musim dingin.

03 Jan 2025 11:41 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

GAZA, JUMAT — Israel terus membabi buta menggempur Jalur Gaza, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai zona kemanusiaan oleh Israel sendiri. Pada Kamis (2/1/2025), gempuran udara mereka menewaskan sedikitnya 68 warga Palestina, termasuk di Distrik Al-Mawasi, Gaza selatan, salah satu dari zona kemanusiaan.

Serangan di Al-Mawasi terjadi saat ratusan ribu warga Palestina yang mengungsi berkerumun di area itu dalam cuaca musim dingin yang lembap. Al-Mawasi, zona kemanusiaan yang ditetapkan sendiri oleh Israel, pernah juga digempur sebelumnya, yakni pada Desember 2024.

”Semua orang berlindung di tenda mereka dari hawa dingin, dan tiba-tiba kami mendapati dunia terbalik. Mengapa dan untuk apa?” ​​kata Ziyad Abu Jabal, pengungsi dari Kota Gaza.

Serangan tersebut membunuh setidaknya 11 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Menurut Kementerian Dalam Negeri Gaza yang dikelola Hamas, Direktur Jenderal Departemen Kepolisian Gaza Mahmoud Salah dan ajudannya, Hussam Shahwan, ikut tewas terbunuh.

”Dengan melakukan kejahatan pembunuhan direktur jenderal polisi di Jalur Gaza, kekuatan pendudukan (Israel) menyebarkan kekacauan di daerah itu dan memperdalam penderitaan warga,” demikian pernyataan Kementerian Dalam Negeri di Gaza.

Pictures of the Week Global Photo Gallery

Militer Israel menyatakan, serangan berbasis intelijen mereka menargetkan Shahwan. Shahwan disebut sebagai kepala pasukan keamanan Hamas di Gaza selatan. Israel tidak menyebutkan soal kematian Salah.

”Saat tahun ini dimulai, kami mendapat laporan tentang serangan lain di Al-Mawasi yang menewaskan puluhan orang, pengingat lain bahwa tidak ada zona kemanusiaan, apalagi zona aman (di Gaza). Setiap hari tanpa gencatan senjata akan membawa lebih banyak tragedi,” cuit Philippe Lazzarini, Komisioner Badan Pekerjaan dan Pemulihan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA), di X.

Mengincar polisi

Serangan Israel lainnya menewaskan sedikitnya delapan orang di Deir al-Balah, Gaza tengah. Menurut pernyataan Rumah Sakit Martir Al-Aqsa, korban-korban adalah anggota komite lokal yang membantu mengamankan konvoi bantuan. Tidak ada komentar langsung dari militer Israel. Serangan juga terjadi di bagian Gaza lainnya.

Di Gaza bagian selatan lainnya, Israel menewaskan lima anggota polisi di Khan Younis. Juru bicara pemerintah Israel, David Mencer, mengatakan, serangan itu menargetkan kepala pasukan keamanan internal Hamas di Gaza selatan.

”Di mana kami menemukannya? Di mana lagi, selain bersembunyi di zona kemanusiaan di Khan Younis, tempat warga Gaza berlindung dari perang ini,” kata Mencer.

Pemandangan di kamp pengungsi Palestina di Al-Mawasi, Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Kamis (2/1/2025), setelah digempur serangan udara Israel.

Israel juga mengincar polisi selama perang. Tujuannya, untuk mengganggu hukum dan ketertiban sehingga kelompok-kelompok penyalur bantuan kemanusiaan kesulitan mengirimkan bantuan ke Gaza. Israel turut menuduh Hamas membajak bantuan untuk kepentingannya sendiri.

Pemerintahan yang dipimpin Hamas memiliki pasukan polisi dalam jumlah hingga puluhan ribu personel. Pasukan polisi ini menjaga keamanan publik sebelum perang. Sekarang, sebagian besar petugas polisi telah menghilang dari jalan-jalan di banyak daerah di Gaza.

Sementara itu, tiga warga Palestina tewas dalam serangan Israel yang menyasar sekelompok orang yang sedang berjalan di Jalan Maghazi di Gaza bagian tengah. Jenazah mereka juga dibawa ke RS Syuhada Al-Aqsa.

Pada Kamis (2/1/2024) malam, serangan Israel di Maghazi dan kamp pengungsi Nuseirat di Gaza tengah menewaskan sedikitnya 14 orang, termasuk lima anak-anak. Jenazah mereka dibawa ke Rumah Sakit Martir Al-Aqsa.

Israel Palestinians Gaza

Kecaman pada Israel

Terkait situasi di Gaza, pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam serangan Israel terhadap hak kesehatan di Gaza, Kamis (2/1/2025). Dua pakar hak asasi manusia PBB, Francesca Albanese sebagai pelapor khusus untuk HAM di Palestina dan Tlaleng Mofokeng sebagai pelapor khusus untuk hak atas kesehatan, merasa ”ngeri” serangan Israel terhadap RS Kamal Adwan, Gaza utara, yang masih beroperasi pekan lalu.

”Selama lebih dari setahun genosida terjadi, serangan terang-terangan Israel terhadap hak atas kesehatan di Gaza dan wilayah Palestina lainnya yang diduduki telah memasuki tahap impunitas yang baru,” kata mereka.

Quote

Selama lebih dari setahun genosida terjadi, serangan terang-terangan Israel terhadap hak atas kesehatan di Gaza dan wilayah Palestina lainnya yang diduduki telah memasuki tahap impunitas yang baru.

Pakar PBB adalah tokoh independen yang mendapat mandat Dewan HAM PBB. Mereka tidak berbicara atas nama PBB atau mendapat bayaran dari PBB, tetapi melaporkan temuan mereka kepada PBB.

Militer Israel telah menahan lebih dari 240 orang, termasuk direktur rumah sakit, Hossam Abu Safiyeh. Dalam pernyataan tersebut, Albanese dan Mofokeng menuntut pembebasan Safiyeh.

Misi diplomatik Israel di Geneva menolak pernyataan tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah berulang kali mengecam tingginya jumlah serangan terhadap staf kesehatan dalam perang. Sebanyak 1.273 serangan terhadap perawatan kesehatan di Gaza dan Tepi Barat tercatat sejak dimulainya perang. Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza yang dipimpin Hamas, setidaknya 1.057 profesional kesehatan dan medis Palestina telah tewas.

Para pelayat membawa jenazah pengungsi Palestina yang terbunuh akibat serangan Israel di depan rumah sakit Nasser pada 2 Januari 2025. Israel menyerang kamp pengungsian sementara yang terletak di Al-Mawasi, Khan Yunis, di Jalur Gaza selatan. Badan Pertahanan Sipil Gaza mengatakan, serangan udara Israel pada pada 2 Januari malam menewaskan sedikitnya 11 orang, termasuk kepala kepolisian Hamas yang kini telah dibubarkan. *** Local Caption *** Para pelayat membawa jenazah pengungsi Palestina yang terbunuh akibat serangan Israel di depan rumah sakit Nasser pada 2 Januari 2025. Israel menyerang kamp pengungsian sementara yang terletak di Al-Mawasi, Khan Yunis, di Jalur Gaza selatan. Badan Pertahanan Sipil Gaza mengatakan, serangan udara Israel pada pada 2 Januari malam menewaskan sedikitnya 11 orang, termasuk kepala kepolisian Hamas yang kini telah dibubarkan.

Kirim delegasi ke Qatar

Dari Jerusalem dilaporkan, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengizinkan delegasi dari Mossad, Shin Bet, dan militer untuk melanjutkan negosiasi kesepakatan gencatan senjata di Qatar. Persetujuan ini keluar di saat Israel terus menyerang Jalur Gaza, termasuk zona kemanusiaan.

Media Israel mengatakan, delegasi tersebut akan berangkat pada Jumat (3/1/2025). Belum ada komentar langsung dari Hamas. Perundingan gencatan senjata Hamas-Israel yang dimediasi Qatar, Mesir, dan AS telah berulang kali terhenti selama 15 bulan perang.

Netanyahu baru saja menjalani operasi prostat pada 29 Desember 2024. Ia pulang dari rumah sakit pada Kamis (2/1/2025). Dokter di Rumah Sakit Hadassah Ein Kerem mengatakan, Netanyahu berada dalam kondisi pemulihan yang baik. Netanyahu sempat meninggalkan RS untuk ikut dalam pemungutan suara di parlemen beberapa hari lalu.

Perang Israel-Hamas bermula ketika kelompok Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober 2023. Hamas telah membunuh sekitar 1.200 orang, sebagian warga sipil, dan menculik sekitar 250 orang. Sekitar 100 sandera masih berada di Gaza, tetapi sepertiganya diduga telah tewas.

Israel Palestinians

Israel membalas dengan menggempur Gaza secara membabi buta, menewaskan lebih dari 45.000 warga Palestina di Gaza. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari separuh korban tewas adalah perempuan dan anak-anak.

Perang Israel-Hamas telah menyebabkan sekitar 90 persen dari 2,3 juta penduduk Gaza mengungsi. Banyak dari mereka yang mengungsi beberapa kali. Ditambah lagi, kelaparan meluas. Anak-anak terlihat mengantre dengan ember logam atau wadah di pusat distribusi makanan di Deir al-Balah, Kamis (2/1). (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi