Setidaknya tiga gelombang serangan Israel dilancarkan ke Iran. Alih-alih mengecam hal itu, AS-Eropa malah meminta Iran tak membalas dan fokus pada solusi diplomatik.
13 Jun 2025 20:01 WIB · Internasional
TEHERAN, JUMAT-Gelombang serangan Israel ke Iran terus berlanjut. Meski demikian, Amerika Serikat dan Eropa Barat meminta Iran tidak membalas. Alasannya, untuk meredakan ketegangan.
Gelombang terbaru serangan dilancarkan pada Jumat (13/6/2025) siang waktu Teheran, Iran. Reaktor nuklir Natanz jadi fokus serangan itu. Serangan terbaru membuat reaktor rusak, meski skalanya tidak diketahui.
Kompleks reaktor itu menjadi pusat pengayaan uranium Iran. Teheran menempatkan ribuan mesin sentrifugal untuk mengayakan nuklir sampai mendekati 90 persen, aras untuk keperluan membuat senjata nuklir.
Beberapa jam sebelumnya, Israel menyerang Pangkalan Udara Tabriz. Pangkalan itu dekat perbatasan Iran dengan Turki-Irak-dan Azerbaijan. Serangan ke Tabriz dilancarkan bersamaan dengan serangan ke Shiraz.
Serangan ke Tabriz-Shiraz dilancarkan beberapa jam selepas 200 pesawat Israel melepaskan 330 bom ke Iran pada Jumat dini hari. Serangan itu menewaskan sejumlah jenderal dan ilmuwan nuklir Iran.
Sejauh ini, telah terkonfirmasi Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Mohammad Bagheri dan Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) Mayor Jenderal Hossein Salami tewas dalam serangan Israel.
Serangan itu juga menewaskan wakil Bagheri, Gholamali Rashid, dan Kepala Angkatan Udara IRGC Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh. Jenderal Hajizadeh adalah arsitek utama serangan Iran ke Israel pada April dan Oktober 2024.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/12/25/IRAN-MILITARY-DRILLS_100919089_1640412694_jpg.jpg)
Serangan juga menewaskan enam ilmuwan nuklir. Mereka adalah Fereydoun Abbasi, Mohammad Mehdi Tehranji, Abdolhamid Minouchehr, Ahmad Reza Zolfaghari, Amir Hossein Faghihi, dan Motallebzadeh.
Juru Bicara militer Israel, Effie Defrin, mengatakan serangan ke Iran akan berlangsung dalam jangka panjang. Serangan tidak akan selesai dalam sehari.
Belum diketahui bagaimana Israel bisa melancarkan gelombang serangan terbaru. Untuk mencapai Iran, Israel harus melewati Jordania, Suriah, Irak.
Jordania telah mengumumkan menutup wilayah udaranya. Bahkan, Jordania telah menjatuhkan sejumlah rudal dan pesawat nirawak. Tidak disebutkan rudal dan pesawat siapa yang dijatuhkan Jordania. Hal yang jelas, sumber-sumber di lapangan menyebut rudal dan pesawat itu mengarah ke Israel.
Pada April dan Oktober 2024, Jordania juga menjatuhkan rudal dan pesawat nirawak Iran yang ditujukan ke Israel. Sejumlah petinggi sipil dan militer Israel mengaku, bantuan AS-Jordania jadi faktor utama Israel bisa menangkis serangan itu.
Sementara Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Noel Barrot mengatakan, Israel berhak membela diri. Alih-alih mengecam serangan sepihak Israel, mereka malah mengecam Iran.
Dukungan kepada Israel juga disampaikan Kanselir Jerman Friedrich Merz. Seperti Macron, ia menyebut Israel berhak membela diri.
Ia juga menyebut Iran telah melanggar konvensi internasional soal pencegahan pengembangan senjata nuklir. Pengembangan itu, kata Merz, mengancam kawasan dan khususnya Israel.
Bersama para anggota Uni Eropa lainnya, Jerman-Perancis mendesak Iran memilih jalur diplomatik dan meredakan ketegangan. Imbauan disampaikan kala Israel terus melancarkan gelombang serangan ke Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/13/0ede60779682bfe4b0649bfd398c415f-AP25164092361438.jpg)
Desakan ke Iran juga disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. "Mereka seharusnya ke meja untuk membuat kesepakatan sebelum terlambat. Akan terlambat untuk mereka. Anda tahu, orang-orang yang dulu saya urusi sudah tewas, mereka garis keras," kata dia.
Ia juga menegaskan dukungan untuk Israel. Menurutnya, serangan ke Iran sukses.
Ia mengaku memberi Israel waktu 60 hari untuk mencapai kesepakatan soal nuklir. Tidak diketahui mengapa batas 60 hari ditetapkan.
Media Israel menyebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pernah memberi Trump tenggat 60 hari untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Tenggat diberikan sampai 12 Juni 2025.
AS-Israel menuntut melucuti total program nuklirnya. Sementara Iran menuntut seluruh Timur Tengah dilucuti dari senjata nuklir. Hal itu berarti Israel juga harus melucuti senjata nuklirnya.
Sejumlah lembaga riset internasional menduga, Israel punya setidaknya 90 hulu ledak nuklir. Israel menolak siapapun, termasuk AS, mengawasi senjata nuklirnya. Israel juga tidak meneken traktat pengendalian senjata nuklir, NPT. (AP/AFP)
Penulis:
Kris MadaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Retma Wati