Israel Tidak Patuhi Persyaratan soal Bantuan ke Gaza, AS Membiarkan

Menurut Gedung Putih, Israel sudah meningkatkan akses bantuan ke Gaza meskipun sedikit. Lembaga-lembaga internasional tidak setuju.

13 Nov 2024 13:48 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

WASHINGTON, RABU – Israel tidak menepati janji kepada Amerika Serikat bahwa dalam 30 hari mereka menambah akses penyaluran bantuan kepada warga di Jalur Gaza, Palestina. Meskipun begitu, Washington tidak menerapkan ultimatum menghentikan pengiriman bantuan senjata apabila Tel Aviv mangkir.

Delapan lembaga bantuan internasional mengutarakan keluhan tersebut pada Rabu (13/11/2024). Mereka mengatakan, akses masuk ke Jalur Gaza tidak ditambah, diperpanjang, dan dipermudah. Akibatnya, warga Gaza terancam kelaparan, apalagi kini sudah di penghujung musim gugur dan musim dingin akan datang dalam dua pekan.

Laporan mengenai kegagalan Israel itu dikeluarkan dan ditandatangani oleh lembaga-lembaga internasional Oxfam, Save the Children, Dewan Pengungsi Norwegia, Refugees International, Mercy Corps, MedGlobal, Anera, dan Care.

Pada Oktober 2024, Washington mengultimatum Tel Aviv. Apabila Israel tidak meningkatkan akses dan jumlah bantuan untuk warga Gaza, AS akan menghentikan pasokan persenjataan yang dipakai untuk melawan Hamas dan Hizbullah. Akan tetapi, Presiden AS Joe Biden mengatakan, bantuan persenjataan tetap diberikan.

Menurut Gedung Putih, tuduhan lembaga-lembaga internasional itu tidak sepenuhnya benar. Mereka beralasan, Israel sudah meningkatkan akses penyaluran bantuan kemanusiaan ke Gaza yang meskipun kecil, pengaruhnya lumayan signifikan. Pada Selasa, Israel juga menyerang Gaza dan menewaskan 46 orang, serta menyerang Lebanon dan menewaskan 33 orang.

Children play together in the dust near shacks in Khan Yunis in the southern Gaza Strip on October 30, 2024 amid the ongoing war in the Palestinian territory between c and Hamas. (Photo by Eyad BABA / AFP)

Israel mengatakan, mereka memenuhi hampir semua 16 permintaan dari AS terkait akses penyaluran bantuan. Sisa dari permintaan yang belum terpenuhi masih didiskusikan, terlepas dari tuduhan lembaga-lembaga internasional yang mencakup Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Salah satu persyaratan ialah memasukkan 350 truk penyalur bantuan ke Gaza setiap hari melalui empat gerbang perbatasan. AS meminta Israel membuka satu gerbang lagi sehingga total menjadi lima gerbang guna memungkinkan jumlah truk yang datang bisa terpenuhi.

Empat gerbang yang sudah dibuka ialah Kerem Shalom di selatan, Gerbang 96 di tengah, serta Erez dan Erez Barat di utara. Melansir Times of Israel edisi 8 November 2024, lembaga COGAT di bawah Kementerian Pertahanan Israel yang mengelola perbatasan akan membuka gerbang Kissufim di barat daya.

Kenyataannya, berdasar laporan delapan lembaga kemanusiaan, rata-rata hanya 42 truk per hari yang melintas selama 25 hari terakhir. Bahkan, ada pula hari-hari yang jumlah truknya cuma empat sampai lima unit. Secara total, laporan menyebutkan, dari 16 permintaan, Israel hanya memenuhi lima.

“Masyarakat di Gaza bagian utara menderita krisis paling parah karena akses bantuan kepada mereka sangat terbatas,” demikian bunyi laporan tersebut.

TOPSHOT - US Secretary of State Antony Blinken (L) meets with Israel's President Isaac Herzog in Tel Aviv on August 19, 2024. Blinken, in Israel to push for a Gaza truce, said on August 19 ongoing negotiations were "maybe the last" chance to reach an agreement to end the war. The top US diplomat said President Joe Biden had sent him "to get this agreement to the line and ultimately over the line". (Photo by Kevin MOHATT / POOL / AFP)

Presiden Israel Isaac Herzog bertemu dengan Biden di Gedung Putih. Ia meminta AS membantu Israel menjegal Iran dan pengaruhnya di kawasan Timur Tengah. Menurut Herzog, untuk mencapai gencatan senjata, Hamas harus membebaskan 101 sandera tersisa.

“Saya setuju,” kata Biden.

Lembaga HAM PBB memverifikasi, dari 43.000 korban tewas di Gaza, 70 persen adalah perempuan dan anak-anak. Wakil Sekretaris Jenderal PBB Ilze Brands Kehris menuturkan di hadapan Dewan Keamaman PBB rentang umur korban anak 5-9 tahun.

Menurut Kehris, pola penyerangan oleh tentara Israel sengaja mengincar lokasi-lokasi sipil. Pada saat yang sama, perilaku kelompok bersenjata di Gaza juga tidak mengedepankan keselamatan warga sipil. Perusakan fasilitas sipil oleh militer Israel, antara lain rumah sakit, tempat daur ulang air, dan gardu listrik berkontribusi pada meningkatnya bencana kelaparan.

Berbagai lembaga kemanusiaan mengkritik tanggapan AS. Tariq Kenney-Shawa, peneliti di lembaga kajian Al Shabaka di AS, menilai, Biden tidak menggunakan masa-masa akhir jabatannya untuk membuat kemajuan di dalam penyelesaian perang antara Israel dan Hamas.

“Terlepas dari pernyataan mengenai gencatan senjata, perilaku Pemerintah AS justru selalu melindungi Israel,” tuturnya kepada Al Jazeera. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .