Kini, selain Istana Merdeka, di Istana Bogor, mulai dari tenda acara dan penyambutan tamu negara, karpet, hingga gorden juga berubah menjadi bernuansa biru muda.
17 Mar 2025 19:00 WIB · Opini
Warna biru muda kini mendominasi “wajah” istana kepresidenan. Warna ini tak hanya pada karpet, gorden, dan latar di sekitar istana kepresidenan —kecuali di Istana Negara Jakarta, dan beberapa istana kepresidenan lainnya yang masih bernuansa merah. Dasi yang kerap dikenakan Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, para menteri, serta pembantu Presiden lainnya pun biru muda.
Bahkan, ada juga perempuan pembantu Presiden yang di Istana sehari-hari mengena kan kebaya bernuansa biru muda.
“Pencanangan” warna biru muda untuk pertama kalinya disampaikan oleh Mayor (kini Letkol) Teddy Indra Wijaya pada malam pengumuman dan rencana pelantikan Kabinet Merah Putih, pada Minggu (20/10/2024), dari Istana Merdeka, Jakarta.
“Mohon disiapkan PSL+ peci dan dasi warna biru muda,” demikian pesan yang dibaca penulis dan dikirim kepada para calon menteri saat pemanggilan dan sebelum pelantikan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/20/00a75a1d-c1a4-4002-86e6-3d35a26fc670_jpg.jpg)
Tulisan “dasi warna biru muda” di-bold dengan warna hitam tebal. PSL adalah singkatan dari pakaian sipil lengkap atau berjas dan dasi yang digunakan di acara-acara resmi dan formal kenegaraan.
Kini, selain Istana Merdeka, di Istana Bogor, mulai dari tenda untuk acara dan penyambut- an tamu negara, karpet hingga gorden, juga berubah menjadi bernuansa biru muda.
Istana-istana kepresidenannya lainnya, disebut-sebut juga bakal menyusul. Warna, penataan, dan dekorasi ruang, dalam istana kepresidenan itu, tentunya berbeda ketika di masa Presiden Jokowi yang bernuasa merah (“Red Carpet”), seperti warna partai PDI-Perjuangan yang sejak 2014 dan 2019 pernah mengusulkan dan mendukung penuh Jokowi.
Warna biru muda ini sebelumnya telah digunakan Prabowo sejak kampanye Pemilihan Presiden dan Wapres 2024. Prabowo sempat menyampaikan arti dari warna biru muda yang dikenakannya ketika ia bersama calon Wapres Gibran mendaftarkan diri sebagai pasangan calon presiden dan calon wapres ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Kepada para wartawan di rumah ayahnya di Jalan Kertanegara IV, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Rabu (25/10/2023), Prabowo menjelaskan makna warna biru muda yang akan digunakannya selama masa Pilpres 2024. Selain dianggap menunjukkan kesejukan, juga ketenangan, damai serta kegembiraan. Hingga kini, warna biru muda seperti jadi “tagline” di samping warna putih baju lengan panjang.
Penjelasan terkait semangat yang ada dari penggunaan warna biru muda di Istana Kepresidenan, seperti pernah dituturkan seorang pejabat Istana yang berasal dari Partai Gerindra, partai yang dipimpin Presiden Prabowo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/15/024e55c6-374f-4d64-bba4-476abcafbb09_jpg.jpg)
Secara umum dengan warna biru muda, Istana Kepresidenan selanjutnya diharapkan dapat menjaga kedamaian dan kestabilan tugas-tugas Presiden dan pemerintahannya hingga lima tahun mendatang. Kesejukan biru muda dapat menciptakan suasana yang tenang dan nyaman bagi jajaran Istana Kepresidenan. Warna ini turut diharapkan dapat membawa kesegaran saat menjalankan amanat konstitusi dan amanat Presiden.
“Harus selalu bergelora tetapi bukan bergejolak jika menggunakan warna biru muda,” tutur sang pejabat tersebut memberikan argumentasi.
Bagi Prabowo, warna biru muda diharapkan dapat mencerminkan kepemimpinannya yang nantinya dapat berlaku bijak dan arif. Dengan demikian, suasana kondusif di lngkungan Istana Kepresidenan dalam bekerja sama dan mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan tercipta.
Biru muda menjadi warna yang disukai oleh Presiden Prabowo, karena diyakini ikut menujukkan kedekatannya dengan rakyat sehingga muncul suasana kehangatan dan bukan basa-basi. Selain menyenangkan untuk berinteraksi, pun memahami setiap persoalan yang muncul.
Makna lain, nuansa biru muda akan ikut menjaga kepemimpinan Prabowo yang tak hanya harus konsisten, juga patuh terhadap nilai-nilai dan kepribadian bangsa untuk mencapai kemajuan.
Perubahan “wajah” Istana Kepresidenan tentu akan terjadi secara bertahap, cepat atau lambat pada hari-hari dan tahun-tahun mendatang. Namun, apakah Istana Kepresidenan akan menjadi jauh lebih bernuansa militeristik dari sekadar perubahan sekarang ini yaitu dari dominasi warna merah menjadi biru muda? Jawabannya, tentu saja diharapkan tidak.
Memang, dengan latar belakang militer yang disandang Prabowo berikut dengan jajarannya yang sebagian juga militer, banyak yang mengkhawatirkan terjadinya perubah pengaturan dan pengelolaan Istana Kepresidenan secara gradual dan radikal.
Saat ini, selain Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol TNI Teddy Indra Wijaya, ada Sekretariat Presiden Mayjen Ario Windumoko, juga Kepala Staf Kepresidenan Letjen TNI (Purn) AM Putranto, dan Kepala Biro Pengelolaan Istana Deputi Bidang Administrasi dan Pengelolaan Istana Marsekal Pertama TNI Dedi Saprudin serta Kepala Biro Umum Deputi Bidang Administrasi dan Pengelolaan Istana Brigjen TNI Mulyadi. Mereka orang-orang di sekitar Prabowo saat di Kementerian Pertahanan dan partainya, Gerindra.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/26/9697b37724417caa9d09d6aad5d7a856-cropped_image.png)
Kini, ajudan dinas dari empat angkatan dan Polri, yang seharusnya mendampingi Prabowo sehari-hari, berdasarkan informasi terakhir telah dikembalikan ke kesatuannya masing-masing. Selanjutnya, Presiden didampingi Letkol Teddy dan Rizky Irmansyah, warga sipil dan anggota Komponen Cadangan, yang menjadi salah satu sekretaris pribadi dan paling sering menemani Prabowo.
Kepemimpinan berlatar belakang militer diperkirakan memang akan mempengaruhi pengaturan dan pengelolaan Istana Kepresidenan, bahkan kebijakan pemerintah dan keputusan politik. Sebagai seorang pemimpin yang memiliki pengalaman militer, untuk Istana Kepresidenan, Prabowo mungkin akan menunjukkan pendekatan yang lebih disiplin, tegas dan lugas, terstruktur bahkan dinilai kaku serta tertutup dalam pengelolaannya.
Kepemimpinan Prabowo dan jajarannya diperkirakan akan mempengaruhi cara pengambilan keputusan dan penanganan urusan-urusan terkait dengan pengelolaan dan kebijakan tak hanya Istana Kepresidenan, tetapi juga pemerintahan. Terkait dengan latar militer itu, Prabowo mungkin akan cenderung lebih cepat dan tegas dalam mengambil keputusan, serta memprioritaskan keamanan dan ketertiban. Asalkan tak tergesa-gesa, tanpa perhitungan serta pertimbangan matang dan menyeluruh.
Di sisi lain, kini beberapa agenda dan informasi acara Presiden Prabowo, juga Wapres Gibran sama sekali tak dibuka sekalipun untuk kepentingan jurnalis peliput di Istana Kepresidenan. Acara resmi baru diketahui satu atau dua jam sebelum acara.
Bahkan, untuk perangkat presiden dan wapres saja, ada yang mengaku, ”Saya baru tahu saat duduk di mobil sebelum rombongan terbatas presiden atau wapres berangkat menuju tempat acara.” Juga instruksi dan perintah-perintah dadakan yang lazim dalam dunia militer kerap muncul dan membuat pegawai tergagap-gagap, dan harus siap dan sigap.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/11/94fef7684a1dc61dc07c9aed8d0120b5-IMG_0297.jpeg)
Namun, setiap pemimpin tentunya memang memiliki karakteristik dan pendekatan sendiri-sendiri yang berbeda dan unik. Karena itu, pengelolaan Istana Kepresidenan di bawah kepemimpinan Prabowo bisa saja memiliki kelebihan dan kekurangan yang juga berbeda dan unik.
Secara alami, perubahan “wajah” Istana Kepresidenan pasti tak terelakkan akan terjadi sejalan dengan kepemimpinan baru berikut dengan perubahan sikap politik yang menyertainya.
Kebutuhan fungsi yang dirasakan oleh Prabowo dan jajaran pemerintahannya tentunya juga harus diutamakan. Terutama, menampung kebutuhan-kebutuhan dalam ruang pribadi, ruang tamu, ruang kerja, rapat dan fasilitas-fasilitas lainnya di Istana Kepresidenan yang dapat menghasilkan output kebijakan dan program terbaik dan terunggul.
Selanjutnya, hanya waktu yang akan menunjukkan bagaimana perubahan pengelolaan tersebut akan berjalan dan seperti apa di masa-masa datang dari Istana Kepresidenan.
Perubahan Istana Kepresidenan lainnya adalah penataan lukisan dan foto-foto serta simbol-simbol yang dipasang di dinding Istana Kepresidenan. Saat ini, koleksi lukisan dan foto bernuansa perjuangan, kepahlawanan dan heroisme mendominasi Istana Kepresidenan dan Kantor Presiden.
Sebut saja foto dan lukisan kepahlawanan mulai dari Presiden Soekarno, Jenderal Sudirman, Pangeran Diponegoro dan juga foto Presiden Prabowo bertengger. Selain foto dan lukisan, sekarang ada pedang dan keris yang dipasang di dinding Istana dan kantor Presiden.
Dengan adanya penambahan koleksi baru, ada beberapa koleksi lukisan kepahlawanan dan perjuangan yang harus dipindahkan ke tempat lain. Termasuk koleksi dari Istana Yogyakarta yang dulu sudah dibawa ke Jakarta kini dikembalikan ke tempat asalnya di Gedung Agung (nama lain dari Istana Yogykarta).
Semangat dan simbol perjuangan, kepahlawanan dan heroisme tentunya diharapkan makin muncul dan menjadi etos kerja dari “wajah” Istana Kepresidenan. Etos kerja itu bergulir dari Presiden, Wapres hingga para pembantu Presiden dalam bentuk sikap, cara kerja dan output yang harus dihasilkannya demi rakyat banyak.
Perubahan lainnya adalah sejumlah kamera tersembunyi (CCTV) yang semula banyak dipasang di dalam ruang Istana atau kantor dan mengarah ke ruang dalam Istana dan Kantor Presiden, sekarang sudah dicopot. Alasannya, demi keamanan dan kenyamanan penghuninya. Kini tersisa CCTV yang mengarah ke luar Istana dan ke luar kantor Presiden.
Kebutuhan keamanan pastinya akan ikut menentukan perubahan-perubahan "wajah" Istana Kepresidenan dan kebijakan politik di masa datang. Selain harus memiliki sistem keamanan dan teknologi yang canggih dan efektif, juga keteraturan tata laku dan disiplin kuat jajaran dan staf Istana Kepresidenan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/03/c3267795b1aec14c3d2c5857aae9dfe7-IMG_7911.jpeg)
Itu semuanya bertujuan untuk memenuhi jaminan keamanan dan kelancaraan berbagai kegiatan yang melibatkan Presiden, Wapres, staf Istana Kepresidenan beserta para pembantu Presiden saat kedatangan tamu negara, sidang kabinet, rapat terbatas atau dipanggil secara khusus oleh Presiden.
Akhir kata, perubahan pengaturan dan pengelolaan Istana Kepresidenan, sangat bergantung pada lingkungan dan nilai-nilai estetika, karakter dan kepribadian yang dimiliki Presiden dan jajaran Istana Kepresidenan.
Desain yang indah dan estetik, keramahtamahan, kesejukan dan kedamaian dari “wajah” istana Kepresidenan, mau tak hanya soal selera dan kebanggaan, menunjukkan dentitas penghuninya, atau agar sekadar berbeda. Jauh lebih penting dampaknya kepada kebaikan, kemajuan, dan kesejahteraan bangsa.
Suhartono Wartawan harian ”Kompas” yang bertugas di Istana Kepresidenan 2004-awal 2025
Penulis:
SuhartonoEditor:
Neli TrianaPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti