Tuah Istora kembali berlaku untuk dua ganda tuan rumah. Jiwa muda Raymond/Nikolaus semakin berapi-api saat Sabar/Reza mampu meraih kepercayaan diri lagi.
04 Jun 2026 20:20 WIB · Olahraga
KOMPAS/DANU KUSWORO
JAKARTA, KOMPAS — Dukungan fanatik penonton di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, bisa saja berbalik menjadi beban bagi wakil tuan rumah. Namun, hal itu tidak berlaku untuk duo ganda putra Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin dan Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani, yang selalu mampu menikmati atmosfer Istora.
Raymond/Nikolaus sukses menyusul Sabar/Reza ke perempat final Polytron Indonesia Terbuka 2026. Pasangan muda ”Merah Putih” itu membuat kejutan dengan menumbangkan ganda unggulan kedua asal Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik, dalam dua gim langsung, 21-14, 21-14 di Istora, Kamis (4/6/2026).
Istora—yang berkapasitas lebih dari 5.000 kursi—nyaris terisi penuh walaupun laga berlangsung di jam pulang kerja. ”Hari ini benar-benar luar biasa, dari crowd-nya sih. Dari kemarih sudah ramai, sekarang semakin ramai lagi. Itu membuat saya dan Raymond semakin berambisi mainnya,” kata Nikolaus soal atmosfer Istora.
Ombak sorakan penonton, diiringi tabuhan drum, datang tanpa henti sepanjang permainan. Seperti itu pula serangan-serangan cepat Raymond/Nikolaus yang bertubi-tubi menghunjam lapangan Aaron/Soh. Pasangan Malaysia itu tidak mampu merespons sergapan duo tuan rumah, permainan mereka tidak berkembang.
Aaron/Soh sempat unggul 6-4 di gim satu, tetapi itu merupakan keunggulan terakhir mereka. Raymond/Nikolaus mengontrol penuh permainan sejak itu. Raymond/Nikolaus menang dalam berbagai aspek, mulai dari adu net, smes, hingga drive. Kuncinya adalah kecepatan dan kesigapan pasangan tuan rumah tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/03/05d8d2ad-67ac-4499-b21e-cb7bb95e1d88.jpg)
Raymond/Nikolaus sangat dominan karena selalu unggul satu langkah atas pasangan lawan. Saat bola masih menuju lapangan Aaron/Soh, Nikolaus sering kali sudah bergerak maju untuk menunggu bola di depan net. Hasilnya, mereka selalu memegang inisiatif untuk melancarkan serangan. Aaron/Soh lebih sering dipaksa bertahan.
Raymond/Nikolaus, pasangan peringkat ke-12 dunia, sering disebut sebagai penerus ”The Minions” yang merupakan mantan ganda putra andalan Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo. Aaron/Soh mengonfirmasi kemiripan gaya bermain kedua ganda berbeda generasi itu setelah pertandingan.
Wajar jika Aaron/Soh sangat kesulitan mengembangkan permainan. Sebelumnya, mereka juga memiliki rekor kurang baik saat berhadapan dengan Marcus/Kevin. Aaron/Soh hanya mampu menang dua kali dari sembilan pertemuan. Adapun laga tadi merupakan pertemuan pertama Aaron/Soh dengan Raymond/Nikolaus.
”Enggak menyangka menang dua gim langsung, apalagi mereka kan pemain berpengalaman di level atas, bahkan sempat ada di ranking satu dunia. Strategi kami tadi lebih ke fokus meraih poin per poin, cepat-cepatan dapat poin dari mereka,” tutur Raymond yang merepotkan Aaron/Soh dengan smes-smes keras.
Atmosfer Istora sudah terbukti membawa tuah untuk Raymond/Nikolaus. Terakhir tampil di stadion megah tersebut, mereka berhasil menjadi runner-up Indonesia Masters 2026. Padahal, itu merupakan debut keduanya di Istora. Mereka berambisi ke final, kali ini, bersama bantuan para pendukung Istora dalam debut di Indonesia Terbuka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/03/9f8ee89c-b4cc-4309-9f22-99998480c5b2.jpg)
Pasangan senior nonpelatnas, Sabar/Reza, lolos ke perempat final lebih dulu setelah memenangi pertarungan sengit atas wakil China, Huang Di/Liu Yang, 21-15, 15-21, 21-17. Mereka akhirnya menembus delapan besar lagi seusai rentetan hasil buruk di beberapa turnamen terakhir dengan selalu tersingkir di babak-babak awal.
Menurut Reza, tren buruk itu sempat mengusik kepercayaan diri mereka. ”Rasanya untuk naikin mental itu agak susah. Saya inginnya PD (percaya diri) di lapangan, tetapi karena hasilnya kurang bagus jadi memengaruhi pikiran. Hari ini, kami sedikit panik di poin-poin akhir, tetapi karena pendukung Istora ramai jadi pede-nya nambah,” tuturnya.
Uniknya, Sabar/Reza terakhir kali melaju jauh juga saat bermain di Istora, tepatnya dalam ajang Indonesia Masters pada awal tahun. Mereka berhasil mencapai semifinal, sebelum dikalahkan Raymond/Nikolaus. Setelah itu, ganda peringkat ketujuh dunia tersebut tidak pernah lagi melewati babak 16 besar sampai akhirnya di Indonesia Terbuka.
Tuah Sabar/Reza di Istora sudah terbukti sejak tahun lalu. Mereka merupakan wakil tuan rumah di ganda putra yang berhasil melaju paling jauh dalam Indonesia Terbuka 2025. Ketika itu, mereka menjadi tulang punggung Indonesia sebagai satu-satunya wakil di final. Sayangnya, Sabar/Reza harus puas dengan gelar runner-up.
Selain dukungan penonton, ada alasan lain di balik kecemerlangan Sabar/Reza saat berstatus wakil tuan rumah. Sebagai pemain nonpelatnas, mereka bisa menghadirkan ekosistem pendukung semaksimal mungkin tanpa mengeluarkan biaya lebih. Situasi itu akan sulit terjadi jika turnamen berlangsung di luar negeri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/03/7f5fdb6489d8aa3078166596d9fe5603-MYE_2157.jpg)
Sabar berkata, salah satu pembeda di turnamen kali ini adalah kehadiran psikolog pribadi. ”Faktor paling banyak itu soal nonteknis. Ada psikolog untuk manage mental. Jadi, kalau sedang tidak sesuai harapan, bisa mulai perlahan untuk kembali (ke kondisi terbaik). Semoga performa kami lebih baik lagi dari sini,” tuturnya.
Di perempat final, Raymond/Nikolaus sudah dinanti unggulan ke-8 asal Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi. Sementara Sabar/Reza akan menghadapi pasangan China, Chen Bo Yang/Liu Yi. Adapun Chen/Liu merupakan pasangan yang menumbangkan wakil tuan rumah, Fajar Aflian/Muhammad Shohibul Fikri, di babak 32 besar.
Penulis:
Kelvin Hianusa, Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra