BINA DAMAI

Pendudukan Israel hingga Program Nuklir Iran Bisa Jadi Hambatan

Jelang penandatanganan kesepakatan perdamaian dan kelanjutan perundingan AS-Iran, sejumlah masalah bisa jadi pengacau.

15 Jun 2026 13:24 WIB · Internasional

AFP/MAHMOUD ZAYYAT

Oleh Iwan Santosa

ISLAMABAD, SENIN — Pendudukan Israel di Lebanon serta program nuklir dan rudal Iran bisa menjadi kendala perdamaian Amerika Serikat-Iran. Teheran-Washington akan berusaha menyelesaikan itu sampai September 2029.

Pada Senin (15/6/2026) dini hari waktu Islamabad, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan AS-Iran sepakat berdamai. Dokumen kesepakatan akan diteken di Swiss pada Jumat (19/6/2026). Setelah itu, AS-Iran akan punya sampai 60 hari untuk merundingkan perincian mekanisme perdamaian mereka.

Pakistan bersama sejumlah negara berusaha menengahi AS-Iran. Sejak AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, Pakistan antara lain bekerja simultan dengan Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, sampai Turki untuk mendorong gencatan senjata hingga perdamaian.

Serangan Israel sejak Kamis sampai Minggu (14/6/2026) ke Lebanon jadi batu sandungan pokok upaya Pakistan. Media Israel, Maariv, melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump marah dan kecewa kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Dilaporkan The New York Times dan Maariv, Trump menelepon Netanyahu pada Minggu malam. Telepon itu tersambung beberapa jam sebelum ia dan Sharif mengumumkan kesepakatan damai AS-Iran. Kepada Maariv, sejumlah pejabat AS-Israel yang tak mau diungkap identitasnya menyatakan bahwa percakapan Trump-Netanyahu berlangsung panas dan menegangkan.

Trump dinyatakan tak menerima alasan Netanyahu soal penyebab serangan ke Lebanon pada Minggu, beberapa jam sebelum pengumuman kesepakatan AS-Israel. Ia tak menampik, Hizbullah menembakkan beberapa roket ke Israel utara.

Menurut dia, serangan Hizbullah itu tak berbahaya dan tak penting. Oleh karena itu, serangan Israel ke Beirut dan sejumlah kota di Lebanon dianggap berlebihan dan bahkan tak perlu.

People run in front of burned cars that were attacked in an Israeli airstrike in the southern port city of Sidon, Lebanon, Wednesday, June 10, 2026. (AP Photo/Mohammed Zaatari)

Trump menyatakan, Netanyahu hampir menggagalkan kesepakatan karena memerintahkan militer Israel, Tzahal, terus menyerang Lebanon. ”Dia (Netanyahu) seharusnya bersyukur kepada kami soal ini. Karena bila Iran punya senjata nuklir, Israel tak akan bertahan sampai dua jam,” kata Trump seperti dikutip The New York Times.

Maariv mengutip sejumlah pejabat Israel dan AS yang tak mau diungkap identitasnya. Mantan Konsul Jenderal Israel di Los Angeles, Yaki Dayan, menyebutkan bahwa kepentingan AS-Israel di Lebanon memang berbeda.

Kepada Maariv, sejumlah pejabat Israel menyatakan bahwa semakin sering Trump dan Netanyahu berbeda pendapat secara terbuka soal serangan Israel ke Lebanon. Bahkan, Trump dilaporkan terus mendesak Israel mundur dari Lebanon dan Suriah.

Dalam telepon Minggu, sejumlah pejabat Israel menyatakan bahwa Netanyahu berkeras kepada Trump bahwa Israel tak terikat soal kesepakatan damai AS-Iran, apalagi soal penghentian segala jenis serangan ke Lebanon.

Tzahal akan tetap menduduki 20 persen wilayah Lebanon. Tzahal juga akan melanjutkan serangan ke Lebanon kapan saja. Semua itu, menurut Maariv, akan coba disampaikan Netanyahu secara langsung ke Trump. Ia berusaha menemui Trump selepas Presiden AS itu melawat ke Eropa pekan ini.

Sanksi ekonomi

Selain masalah Lebanon, Israel cemas kesepakatan AS-Iran akan membuat perekonomian Iran bangkit dan lepas dari sanksi AS. Bagi Israel, pencabutan sanksi berarti kegagalan mendongkel pemerintahan Iran.

Pencabutan sanksi ekonomi dan pencairan aset-aset yang dibekukan AS serta sekutunya menjadi salah satu syarat perdamaian yang diajukan Iran. Teheran antara lain meminta AS mencairkan paling tidak 24 miliar dolar AS dana Iran yang dibekukan Washington dan sekutunya.

Pencairan itu jadi bahasan perundingan lanjutan. Dana bisa dicairkan oleh AS atau lembaga perantara keuangan.

Media Iran, Mehr News, melaporkan bahwa ada sejumlah isu ekonomi lain akan dibahas. Isu itu antara lain soal penjualan minyak dan gas bumi Iran serta produk turunannya. Ada juga soal ekspor dan impor komoditas lain.

Untuk semua transaksi itu, Teheran tak mau lagi mekanisme seperti Kesepakatan Nuklir 2015 atau JCPOA. Dulu, Iran setuju dibuatkan rekening penampung atas transaksi minyaknya. Dana di rekening itu hanya bisa dipakai untuk membeli pangan, produk kesehatan, atau hal lain terkait kebutuhan kemanusiaan.

Teheran tak punya kendali atas rekening itu. Sekarang, Iran mau mengatur sendiri cara penggunaan pendapatan ekspornya.

An Iranian citizen withdraw money from an ATM machine at a Bank Eghtesad Novin, in the capital Tehran on January 7, 2026. Iran's economy has been hit hard by tough international sanctions, with the national currency, the rial, losing more than a third of its value against the US dollar over the past year and inflation in double digits. (Photo by ATTA KENARE / AFP)

Selain isu ekonomi, menurut Mehr News, ada pertanyaan soal program nuklir Iran. Uranium yang sudah diperkaya dan fasilitas pengayaan uranium milik Iran belum ada kejelasannya.

AS sejak lama menuntut pelucutan total kemampuan nuklir Iran. Teheran menolak dengan menyatakan bahwa hak Iran atas program nuklir dijamin hukum internasional. Iran juga telah menyatakan akan mematuhi Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT).

Di JCPOA, Iran telah menyatakan tidak akan membuat senjata nuklir. Walakin, pernyataan itu tak cukup mencegah AS-Israel menyerang Iran berulang kali. Menurut sumber Mehr News, isu-isu itu perlu diselesaikan sebelum AS-Iran melanjutkan perundingan.

Bagi Teheran, semua isu perlu dibahas selama perundingan sampai September 2026. Iran juga telah menawarkan untuk secara mandiri mengurangi kadar pengayaan pada cadangan uraniumnya.

Sebagai imbalan, Iran tak hanya mendapatkan pencabutan sanksi. Iran akan meminta jaminan AS tak akan menjatuhkan sanksi baru dan menambah pasukan di sekitar Iran selama perundingan.

Sebuah kapal kontainer terlihat di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (Foto AP/Asghar Besharati)
This handout satellite image provided by Maxar Technologies shows the Fordow Fuel Enrichment Plant in central Iran on June 14, 2025. Launched early on June 13, 2025, Israel's operation has targeted Iran's air defences and hit key nuclear and military sites, killing dozens of people including top army commanders and atomic scientists, according to Tehran. (Photo by Satellite image ©2025 Maxar Technologies / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / Satellite image ©2025 Maxar Technologies " - NO MARKETING - NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS - The watermark may not be removed/cropped / THE WATERMARK MAY NOT BE REMOVED/CROPPED

Meletus lagi

Dengan begitu banyak isu, kesepakatan AS-Iran amat rentan dan konflik bisa meletus lagi kapan saja. Trump telah berulang kali mengancam menyerang Iran habis-habisan kalau tidak menyepakati perdamaian.

Selain peluang lanjutan konflik, dunia juga masih penasaran soal pembukaan Selat Hormuz. Menurut AS-Iran, selat itu akan kembali bebas dilayari mulai Jumat mendatang.

Kolumnis Reuters, Ron Bousso, menulis, kesepakatan damai ini membuktikan Iran memilik daya tawar yang lebih dan unggul dalam perundingan. Iran membuktikan mampu menutup Selat Hormuz berbulan-bulan dan juga dapat menekan negara tetangga di kawasan Teluk jika menentangnya.

Negara-negara di kawasan memang punya alternatif yang lebih terbatas, mengirim ekspor lewat Laut Merah. Namun, ujung selatan laut itu adalah Selat Bab-al-Mandab. Pemberontak Yaman, Houthi, berulang kali menunjukkan mampu memblokade selat itu. Houthi dekat dengan Iran.

Oleh karena itu, para operator pelayaran global masih waspada dan menanti kejelasan soal kesepakatan AS-Iran. Kalau benar-benar terjadi dan Selat Hormuz serta Selat Bab-al-Mandab aman, barulah mereka benar-benar lega. (REUTERS/AFP)

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Bonifacius Josie Susilo, Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan