Italia Gagal ke Piala Dunia Lagi, Gravina dan Buffon Mengundurkan Diri

Gabriele Gravina mengundurkan diri dari jabatan Presiden Federasi Sepak Bola Italia imbas kegagalan ”Gli Azzurri” lolos ke Piala Dunia 2026.

03 Apr 2026 11:21 WIB · Olahraga

FIGC

Oleh Rebiyyah Salasah

ROMA, JUMAT — Setelah ramai tuntutan pertanggungjawaban atas kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2026, Presiden Federasi Sepak Bola Italia Gabriele Gravina akhirnya mundur dari jabatannya. Legenda timnas Italia, Gianluigi Buffon, juga melakukan hal serupa dari tugas sebagai Kepala Delegasi Tim Nasional.

Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) mengumumkan pengunduran diri Gravina melalui pernyataan di laman resmi mereka, Kamis (2/4/2026). Pengumuman dilakukan setelah Gravina meminta pengunduran diri di hadapan beberapa perwakilan kompetisi dalam pertemuan di markas besar FIGC di Roma pada hari yang sama.

Pada pertemuan itu, Gravina juga memberitahukan bahwa ia bersedia hadir pada 8 April di hadapan Komite VII Bidang Kebudayaan, Sains, dan Pendidikan Dewan Perwakilan Rakyat. ”Di sinilah Presiden Gravina akan menyampaikan, selengkap dan sekomprehensif mungkin, laporan tentang kekuatan dan kelemahan sepak bola Italia,” tulis pernyataan tersebut.

Adapun untuk memilih presiden baru, FIGC akan mengadakan pemungutan suara pada 22 Juni mendatang. Tanggal tersebut ditetapkan sesuai dengan Statuta Federasi.

Italy's soccer federation president Gabriele Gravina leaves the FIGC (italian soccer federation) headquarters  in Rome, Thursday April 2, 2026 after resigning amid political pressure after the national team failed to qualify for a third consecutive World Cup. (Alfredo Falcone/LaPresse via AP)

Gravina menduduki kursi Presiden FIGC pada Oktober 2018. Ia menggantikan Carlo Tavecchio yang mengundurkan diri menyusul kegagalan Italia mengalahkan Swedia dalam pertandingan playoff Piala Dunia Rusia 2018.

Di bawah kepemimpinan Gravina, Italia memenangkan Euro 2020 setelah mengalahkan Inggris dalam adu penalti di Stadion Wembley. Namun, selama masa kepemimpinanya pula, ”Gli Azzurri” gagal lolos ke Piala Dunia Qatar 2022 dan kembali mengalami kegagalan yang sama untuk Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Gli Azzurri gagal lolos ke Piala Dunia 2026 setelah dikalahkan Bosnia-Herzegovina, tim peringkat ke-71 (sebelum laga digelar), lewat adu penalti 1-4 setelah bermain imbang 1-1 pada final playoff jalur A Piala Dunia 2026 di Stadion Bilino Polje, Zenica, Bosnia-Herzegovina, Rabu (1/4/2026).

Artinya, timnas Italia gagal lolos dalam dua edisi beruntun Piala Dunia selama FIGC dipimpin Gravina. Secara total, juara Piala Dunia empat kali ini gagal tampil di pesta terakbar sepak bola dalam tiga edisi berturut-turut.

Kegagalan ini menuntut tanggung jawab dari pemangku kepentingan, termasuk Gravina. Sebelum pada akhirnya melepaskan jabatannya, Gravina bergeming meski tuntutan agar ia mundur muncul dari berbagai sisi.

Football Soccer - Juventus Press Conference - Stade Louis II, Monaco - 2/5/17 Juventus' Gianluigi Buffon during the press conference Reuters / Eric Gaillard Livepic

Setelah pengunduran diri Gravina, Buffon juga melakukan hal yang sama dari tugasnya sebagai Kepala Delegasi Tim Nasional. Buffon mengambil peran tersebut pada Agustus 2023 setelah menerima usulan Gravina.

”Sekarang setelah Presiden Gravina memilih untuk mengundurkan diri, saya merasa mampu melakukan apa yang saya anggap sebagai hal yang paling bertanggung jawab karena, meskipun saya sangat yakin bahwa kami telah membangun semangat dan persatuan yang kuat bersama Rino Gattuso dan seluruh staf, tujuan utama, dalam waktu terbatas yang kami miliki, adalah untuk membawa Italia kembali ke Piala Dunia. Dan kami tidak berhasil,” tulis Buffon.

”Sekarang sudah tepat untuk memberi kebebasan kepada mereka yang datang setelah saya untuk memilih orang yang mereka anggap paling cocok untuk mengambil alih peran saya,” lanjut pernyataannya.

Pelatih timnas Italia, Gennaro Gattuso, juga dikabarkan akan mundur. Jurnalis Italia yang juga pakar transfer sepak bola, Fabrizio Romano, mengungkapkan hal itu di media sosialnya pada Kamis. Namun, belum ada pengumuman resmi soal kabar tersebut.

Pelatih timnas Italia, Gennaro Gattuso, merayakan kemenangan setelah pertandingan play-off kualifikasi Piala Dunia antara Italia dan Irlandia Utara, di Bergamo, Italia, Kamis, 26 Maret 2026. (AP Photo/Antonio Calanni)

Selepas kekalahan dari Bosnia-Herzegovina, Gattuso enggan membicarakan soal masa depannya. Gattuso hanya mengungkapkan perasaannya tentang betapa menyakitkannya melihat Italia kalah padahal, menurut dia, layak menang.

Gattuso, legenda klub AC Milan, ditunjuk menjadi pelatih Italia pada Juni 2025 untuk menggantikan Luciano Spalletti yang dipecat. Pemecatan itu terjadi selepas Italia kalah 0-3 dari Norwegia pada laga Grup I kualifikasi Piala Dunia zona Eropa.

Kendati Spalletti tetap bertanggung jawab selama tiga hari berikutnya ketika menang atas Moldova, kepergiannya merupakan indikator awal tantangan yang akan dihadapi Italia. Gattuso, yang melatih 10 klub dalam 12 tahun, harus menangani Italia yang dibayangi trauma kegagalan masa lalu.

Pelatih legendaris Italia, Fabio Capello, menilai, Gattuso tidak seharusnya buru-buru mundur atau dipecat. Orang-orang harus memberinya kesempatan memimpin setidaknya dua laga lagi.

LUXEMBOURG - OCTOBER 11: Russia manager Fabio Capello looks on during the FIFA 2014 World Cup Qualifier Group F match between Luxembourg and Russia at the Josy Barthel Stadium on October 11, 2013 in Luxembourg, Luxembourg. (Photo by Paul Gilham/Getty Images)

”Jangan lupa bahwa ia mengambil alih tim saat kualifikasi Piala Dunia sudah dimulai di bawah Luciano Spalletti dan ia berhasil membawa karakter serta tekad ke dalam tim,” kata Capello dikutip dari Sky Sports.

”Sayangnya, dan ini menyedihkan untuk dikatakan, tetapi kami membayar harga atas kesalahan individu pemain yang sangat mendasar. Jika tidak, kami mungkin akan membawa pulang hasil yang lebih baik,” ujar pelatih yang mempersembahkan empat gelar juara Liga Italia untuk AC Milan itu.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan