Meski kalah pada babak perempat final, Jafar/Felisha memberikan perlawanan sengit pada gim kedua. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus mereka selesaikan.
30 Mei 2025 14:51 WIB · Olahraga
SINGAPURA, JUMAT — Meskipun belum berhasil melaju lebih jauh di Singapura Terbuka 2025, pasangan ganda campuran Indonesia, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, membawa pulang pelajaran berharga. Berani saja tak cukup ketika menghadapi lawan unggulan.
Mereka juga harus bisa tenang saat ditekan dan mampu adaptasi lebih cepat saat di lapangan. Inilah pelajaran yang bisa mereka petik guna berjuang di turnamen lainnya, termasuk tampil di hadapan publik sendiri di Indonesia Terbuka 2025, 3-8 Juni.
Jika bicara soal mental bertanding, Jafar/Felisha punya keberanian ketika menghadapi lawan yang lebih senior dan lebih diunggulkan dari mereka. Sebagai pebulu tangkis yang baru berusia 22 tahun dan 19 tahun, mereka haus akan pengalaman sehingga setiap lawan mereka hadapi dengan antusiasme, alih-alih rendah diri atau takut.
Hal itu pula yang Jafar/Felisha tunjukkan ketika menghadapi unggulan keempat turnamen sekaligus ganda campuran juara All England 2025, Guo Xin Wa/Chen Fang Hui (China), Jumat (30/5/2025). Bermain pada babak perempat final Singapura Terbuka di Singapore Indoor Stadium, Jafar/Felisha tetap tampil percaya diri. Namun, mereka akhirnya kalah 8-21, 22-24.
”Hasilnya memang belum seperti yang diharapkan, tetapi tetap bersyukur bisa menyelesaikan pertandingan hari ini. Tadi, kami sudah mencoba berbagai cara, segala pola, untuk menang,” kata Felisha.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/30/911562e73c1363f0a879fd56a7e3ba4a-JafarFelisha4_QF_SingaporeOpen2025_PBSI_20250530.jpg)
Pada gim pertama, Jafar/Felisha sebenarnya sempat bersaing ketat pada perebutan poin-poin awal. Namun, mendekati interval, Jafar/Felisha tampak tertekan dengan serangan bertubi-tubi dari lawan pada turnamen BWF World Tour berlevel Super 750 pertama mereka ini.
Sudah tertekan, Jafar/Felisha kesulitan menemukan solusi untuk membalikkan momentum. Akhirnya, juara Taiwan Terbuka Super 300 ini terpaksa kehilangan gim pertama.
Pelajarannya kami harus bisa lebih tenang di poin-poin kritis, startnya juga tidak boleh ketinggalan. - Felisha Alberta N Pasaribu -
Felisha mengamini betapa sulit baginya dan Jafar untuk keluar dari tekanan lawan pada gim pertama itu. Mereka justru lebih banyak kaget dan tidak antisipatif dengan serangan lawan. Meski begitu, mereka berusaha bangkit pada gim kedua.
Kendati terus tertinggal pada poin-poin awal, Jafar/Felisha tampak lebih tenang pada gim kedua. Seperti ciri khas mereka, Jafar menunjukkan kemampuannya dalam menciptakan serangan bervariasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/30/8557100171e32da3c03680fa319ad3e2-JafarFelisha11_QF_SingaporeOpen2025_PBSI_20250530.jpg)
Selain lewat smes yang sulit dikembalikan lawan, Jafar juga kerap melepaskan pukulan yang arah serangannya tidak tertebak. Hal itu termasuk ketika menggagalkan match point lawan untuk kali kedua dengan reli dan penempatan bola yang apik dari Jafar. Guo sampai pontang-panting mengejar kok hingga akhirnya Chen gagal menahan smes Jafar.
Adapun Felisha masih dengan keberaniannya beradu di depan net. Dia juga kerap mengagetkan lawan dengan pukulan keras dan cepat yang sulit terantisipasi. Kombinasi kemampuan Jafar/Felisha yang dibarengi ketenangan ini membuat mereka terus menipiskan jarak poin dengan lawan.
Dengan perlawanan sengit ini, wajar Guo/Chen sampai berteriak lega ketika akhirnya merebut poin terakhir untuk memastikan kemenangan mereka. Saat gim kedua tampak akan berakhir, yaitu ketika Guo/Chen mendapatkan match point pada kedudukan 17-20, Jafar/Felisha mampu menganggalkannya. Tidak hanya sekali, tetapi tiga kali hingga kedudukan imbang 20-20.
Kondisi berbalik ke Jafar/Felisha yang akhirnya mendapatkan match point dengan keunggulan 21-20. Namun, ketenangan mereka kembali buyar sehingga kerap melakukan kesalahan yang akhirnya berbuah poin bagi lawan. Situasi ini membuat Guo/Chen unggul lagi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/30/e699ecfb36d61b8b6c66209d0bbe1c28-JafarFelisha10_QF_SingaporeOpen2025_PBSI_20250530.jpg)
Guo/Chen sempat sejenak berbahagia ketika kok pukulan mereka dianggap masuk sehingga tambahan poin memastikan mereka mengakhiri gim kedua dengan skor 23-21. Namun, Jafar mengajukan challenge yang berhasil karena kok ternyata keluar. Akan tetapi, seperti pada momen sebelumnya, ketenangan Jafar/Felisha kembali buyar dan dua poin terakhir jadi milik lawan.
”Pelajarannya kami harus bisa lebih tenang di poin-poin kritis, start-nya juga tidak boleh ketinggalan. Adapatasi dan feeling di lapangan harus lebih cepat dan lebih matang,” ujar Felisha.
Jafar mengaku kecewa karena tidak bisa memaksimalkan keuntungan pada gim kedua untuk membalikkan keadaan dan memperpanjang laga hingga set ketiga. Meski demikian, hal itu juga jadi pelajaran baginya. Untuk menang, diakuinya, tidak cukup dengan menemukan pola permainan yang diinginkan. Mereka harus menemukannya lebih cepat.
Jafar/Felisha merupakan satu dari dua wakil Indonesia yang tersisa di turnamen bulu tangkis Singapura Terbuka 2025. Indonesia hanya mengirimkan tujuh wakil dari tiga sektor pada turnamen tersebut. Dengan tersingkirnya Jafar/Felisha, harapan Indonesia untuk membawa pulang gelar hanya tersisa di puncak ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang juga akan tampil pada Jumat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/30/96bc4b0bde5684ff6b80500f195ac85b-JafarFelisha3_QF_SingaporeOpen2025_PBSI_20250530.jpg)
Bagi Jafar/Felisha yang baru pertama kali berlaga di turnamen dengan BWF dengan level 750 ini, keberhasilan menembus perempat final sudah menjadi awal yang baik. Untuk itu, pelajaran dari Singapura Terbuka dapat mereka terapkan guna persiapan ajang selanjutnya, termasuk Indonesia Terbuka dengan level lebih tinggi pada 3-8 Juni mendatang.
Berdasarkan agenda yang telah dibuat tim pelatih ganda campuran, Jafar/Felisha akan mengakhiri Tur Asia mereka dengan tampil di Indonesia Terbuka Super 1000. Momen ini akan menjadi kesempatan kedua mereka tampil di hadapan publik sendiri dalam turnamen BWF World Tour setelah Indonesia Masters Super 500 pada awal tahun 2025.
Jafar/Felisha merupakan satu dari tujuh ganda campuran anggota pelatnas utama. Mengingat potensi mereka telah terlihat sejak awal berpasangan dengan menjuarai tiga turnamen pada level international challenge dan Super 100, Jafar/Felisha pun dianggap penggemar bulu tangkis Tanah Air sebagai ganda campuran masa depan Indonesia.
Apalagi, pada Kejuaraan Asia Bulu Tangkis, yang memperebutkan poin ranking setara dengan turnamen Super 1000 seperti Indonesia Terbuka, Jafar/Felisha mampu menembus semifinal. Dengan pengalaman di Kejuaraan Asia serta turnamen-turnamen BWF level menengah, bukan tidak mungkin Jafar/Felisha memberi kejutan lainnya saat tampil di Indonesia.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra