Alokasi anggaran yang disiapkan masyarakat untuk Lebaran tahun ini cenderung tak sebesar tahun lalu. Tekanan ekonomi membuat warga terpaksa mengerem belanja Lebaran.
27 Mar 2025 10:01 WIB · Riset
Lebaran selalu identik dengan konsumsi masyarakat yang meningkat cukup signifikan dibandingkan dengan hari-hari biasanya. Beragam aktivitas belanja mulai dari makanan, pakaian, wisata, hingga pulang kampung telah menjadi tradisi tahunan di hari raya. Momentum ini pun terbukti telah menjadi salah satu puncak siklus ekonomi di Indonesia.
Namun, tanpa mengurangi makna hari raya, geliat ekonomi Lebaran tahun ini tampaknya akan sedikit meredup dibandingkan dengan tahun lalu. Sebab, berbagai tekanan ekonomi yang mengimpit masyarakat jelang hari raya membuat alokasi dana pada Lebaran tahun ini cukup terbatas.
Sebagaimana yang terekam dalam jajak pendapat Kompas pada 4-7 Maret 2025. Hanya 3 dari 10 responden (29,3 persen) yang menyiapkan anggaran Lebaran tahun ini lebih besar dibandingkan dengan tahun lalu. Sementara hampir separuh responden (46,4 persen) tidak menambah atau mengurangi anggaran, artinya tidak naik dan tidak turun. Sisanya, seperlima responden, harus memangkas anggaran Lebaran tahun ini sehingga lebih kecil dibandingkan dengan tahun lalu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/26/5a9906ab-5e7f-4ec9-9f20-c6c0b41f7d4b_png.png)
Kondisi ini berbanding terbalik dengan temuan jajak pendapat serupa jelang Lebaran 2024. Saat itu lebih banyak masyarakat yang mengalokasikan dana Lebaran lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2023), proporsinya mencapai 55,65 persen.
Kembali pada temuan jajak pendapat tahun ini, nominal yang disiapkan untuk Lebaran tahun ini cukup beragam. Sebanyak 4,5 persen responden hanya mampu menyiapkan dana maksimal Rp 1 juta. Paling banyak di kisaran Rp 1 juta-Rp 3 juta, yakni oleh 33,6 persen responden. Sementara hampir seperlima responden lainnya menyiapkan Rp 3 juta-Rp 5 juta. Sisanya menganggarkan lebih dari Rp 5 juta.
Jika dikelompokkan berdasarkan kelas ekonomi, kelompok bawah hanya mampu menyiapkan dana maksimal Rp 3 juta. Bahkan, seperempat bagian dari mereka tidak menganggarkan dana secara khusus. Berbeda dengan kelompok di atasnya yang lebih mapan. Dana yang disiapkan lebih bervariasi hingga mencapai lebih dari Rp 10 juta meski proporsinya tak cukup besar untuk kelompok menengah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/26/29d20223-4c8c-4afa-9b9f-593c76f7c629_png.png)
Namun, ketidakmampuan mengalokasikan anggaran Lebaran yang lebih besar di tahun ini terjadi pada semua kelompok sosial ekonomi masyarakat. Hanya saja, pada kelompok menengah hingga atas terpantau masih mampu untuk setidaknya mempertahankan alokasi belanja Lebaran seperti tahun lalu.
Sementara kelompok sosial ekonomi bawah terpantau cukup terimpit. Responden yang mampu menganggarkan dana Lebaran lebih besar atau setidaknya sama dengan tahun lalu paling sedikit dibandingkan dengan kelompok sosial ekonomi di atasnya. Sementara yang menganggarkan dana Lebaran tahun ini lebih kecil dibandingkan denagn tahun lalu proporsinya paling banyak dibandingkan dengan kelas sosial ekonomi lainnya.
Pemangkasan alokasi belanja Lebaran ini tak bisa dilepaskan dari kondisi finansial mereka saat ini. Jajak pendapat menemukan, 3 dari 10 responden mengalami penurunan pendapatan jelang Lebaran. Berbagai faktor menjadi penyebabnya, mulai dari pemutusan hubungan kerja, penurunan upah, hingga berkurangnya pendapatan usaha.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/25/b1310106-a01b-4bae-8cdf-f0220b41bd1e_png.png)
Sebagaimana yang terjadi, badai PHK tengah menghantui dunia ketenagakerjaan belakangan ini, khususnya pada industri tekstil. Merujuk catatan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), sedikitnya 60.000 pekerja mengalami PHK sepanjang Januari-Februari 2025. Mereka berasal dari sekitar 50 perusahaan yang tersebar di Indonesia, terbanyak di Pulau Jawa.
Meski tidak terdampak PHK, tingkat kenaikan upah riil yang diterima pekerja pun semakin merosot dari waktu ke waktu. Terbaru, kenaikan rata-rata upah 2024 hanya sebesar 2,8 persen. Turun dibandingkan dengan tahun 2023 yang sebesar 3,5 persen (Kompas, 10 Maret 2025). Bagi yang tak bekerja pun, tak lantas bebas dari terpaan ekonomi. Sebab, pendapatan usaha pun cukup seret.
Jika mencermati hasil jajak pendapat lebih dalam, lagi-lagi kelompok masyarakat bawah yang paling terimpit. Di antara kelompok lainnya, masyarakat bawah yang terpantau paling banyak mengalami penurunan pendapatan jelang Lebaran, sebanyak 37,9 persen responden.
Bukan lantaran PHK sebab tidak banyak dari mereka yang tercatat sebagai pekerja formal atau berkaitan dengan korporasi. Akan tetapi, karena pendapatan dari usaha yang mereka upayakan melambat. Bukan juga usaha dalam skala besar, tetapi usaha rumahan. Pelemahan daya beli yang menjalar secara nasional membuat aktivitas ekonomi masyarakat terhambat. Usaha rumahan atau UMKM milik masyarakat ini pun turut merasakan dampaknya.
Termasuk pula mereka yang kesehariannya menekuni dunia pertanian dan peternakan, pendapatannya pun menurun jelang Lebaran. Ini selaras dengan nilai tukar petani yang juga tercatat turun pada Februari 2025, dengan indeks yang diterima petani juga lebih kecil dibandingkan dengan Januari 2025. Mereka yang mencari nafkah dengan menjadi buruh kasar atau tukang pun juga mengalami penurunan upah.
Hanya sepertiga responden dari kelompok bawah ini yang mengaku pendapatannya tidak terganggu sama sekali. Sementara pada kelompok sosial ekonomi yang lebih mapan cenderung stagnan pendapatannya. Ada pula responden kelas menengah hingga atas yang mengalami penurunan pendapatan jelang Lebaran. Namun, proporsinya lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok bawah. Mempertegas bahwa kelompok bawah ini sangat rentan, tak terkecuali jelang hari raya Lebaran.
Padahal, pendapatan atau upah saat itulah yang mereka andalkan sebagai sumber utama dana Lebaran. Seperti yang diungkap 42,7 persen responden jajak pendapat. Kelompok ekonomi bawah yang paling banyak bergantung pada pendapatan di bulan jelang Lebaran. Sebab, tidak banyak dari mereka yang mendapatkan tunjangan hari raya lantaran tidak berkerja pada korporasi yang wajib menyalurkan THR.
Menyiapkan tabungan rutin yang dikumpulkan secara pribadi khusus untuk Lebaran pun tak bisa banyak dilakukan. Alih-alih menabung untuk Lebaran, pendapatan harian atau bulanan kelompok bawah pun seringkali tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Malahan, cukup banyak pula dari mereka yang mengandalkan pemberian dari keluarga untuk Lebaran tahun ini. Pasalnya, di tengah penurunan pendapatan, tak serta-merta mereka dapat mengandalkan pinjaman atau utang sebagai sumber dana Lebaran. Sebab, dibutuhkan jaminan dan komitmen membayar untuk berutang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/11/6d3ddd1aca56652c467872a616c406be-IMG_20250311_192613.jpg)
Sementara pada kelompok sosial ekonomi yang relatif lebih mapan, THR menjadi salah satu sumber dana yang cukup bisa diandalkan untuk Lebaran tahun ini. Sebab, cukup banyak dari mereka bekerja sebagai ASN ataupun pekerja yang terafiliasi dengan korporasi. Dengan demikian, THR jelang hari raya dapat dikatakan sebagai sebuah kepastian. Apalagi bagi ASN, pemerintah pusat sudah memastikan bahwa THR Idul Fitri 2025 diberikan dan sudah mulai cair sejak 17 Maret 2025. Setelah sempat diisukan THR ASN tidak akan cair sebagai dampak dari pemangkasan anggaran belanja pemerintah.
Pendapatan bulanan yang lebih besar pun membuat mereka relatif lebih mampu untuk menghimpun dana khusus untuk Lebaran yang dikumpulkan secara mandiri dan rutin. Kendati penurunan pendapatan jelang hari raya juga turut dirasakan, kelompok yang lebih mapan ini pun memiliki lebih banyak cara untuk tetap dapat menghimpun dana. Mulai dari berutang kepada lembaga keuangan hingga menjual atau menggadaikan aset yang dimiliki.
Tekanan ekonomi pada momentum Lebaran ini juga terbaca dari riset Mandiri Spending Index (MSI) per 2 Maret 2025. Hasil riset memperlihatkan, Ramadhan 2025 ini ditandai dengan pola konsumsi yang lebih defensif dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Masyarakat cenderung mengalokasikan belanja mereka ke kebutuhan esensial, seperti bahan pokok. Pengeluaran di supermarket menjadi faktor utama dalam pertumbuhan belanja, sedangkan sektor lain, seperti restoran dan fashion, mengalami penurunan.
Riset Mandiri Spending Index juga menyebutkan, tingkat tabungan masyarakat berpenghasilan rendah terus melemah dan berada pada posisi terendah hingga Februari 2025. Sementara itu, tingkat tabungan kelompok menengah juga menunjukkan titik rendah sejak Maret 2024. Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan ekonomi yang lebih besar di segmen ini (Kompas, 24/3/2025).
Hasil riset Mandiri Spending Index dan temuan jajak pendapat Kompas juga merekam upaya masyarakat dalam mencari beragam alternatif untuk mendapatkan tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan selama Lebaran 2025. Berbagai cara terus dilakukan masyarakat untuk tetap dapat memeriahkan hari raya Lebaran meski berbagai rintangan ekonomi menghadang. (Litbang Kompas)
Penulis:
Agustina PurwantiEditor:
Andreas Yoga PrasetyoInfografik:
Dicky IndratnoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .