Jakarta 498 Tahun: Perjalanan dari Pelabuhan Kecil Menuju Kota Global

Jakarta terus berupaya menjadi kota global yang berdaya saing dengan fokus pada pembangunan fisik, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan sosial warganya.

23 Jun 2025 06:00 WIB · Metropolitan

Oleh Atiek Ishlahiyah Al Hamasy

Jakarta, yang kini berusia 498 tahun, telah melalui perjalanan panjang dari sebuah pelabuhan kecil menjadi ibu kota negara yang modern. Seiring usianya yang semakin matang, Jakarta terus berupaya menjadi kota global yang berdaya saing, mengedepankan pembangunan fisik yang pesat, serta menjaga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan sosial warganya.

Dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-498 pada Minggu (22/6/2025), Lapangan Banteng di Jakarta Pusat disulap menjadi panggung budaya yang memukau. Sejak sore, gelombang warga Jakarta dari berbagai penjuru kota mulai berdatangan.

Di hamparan rumput hijau yang luas, warga duduk santai di atas tikar, berbincang hangat sambil menunggu acara dimulai. Tenda-tenda bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berdiri rapi di area itu, menyajikan beragam jajanan khas Jakarta yang menggoda selera.

Ketika matahari perlahan tenggelam, suasana di Lapangan Banteng semakin semarak dengan lampu yang mulai menyala. Di tengah lapangan, denting tanjidor dan tabuhan rebana mulai menggema, menyambut kemunculan ondel-ondel besar yang menari di antara kerumunan. Jakarta malam itu tak hanya hidup, tetapi juga berbicara lewat warisan budayanya.

Alunan musik juga mulai menggema di panggung utama. Para artis ternama mulai tampil satu per satu. Warga yang hadir turut bernyanyi dan bergoyang. Suara musik, tawa, dan tepuk tangan menggema di udara.

Di sisi barat Lapangan Banteng, Sania (26) duduk dengan penuh semangat, menikmati acara yang ditayangkan di layar LED besar karena tidak bisa menyaksikan panggung utama secara langsung. Meskipun acara berlangsung hingga tengah malam, warga Jakarta Timur ini bertekad untuk tetap menonton hingga selesai.

Ulang Tahun DKI Jakarta ke-498 pada Minggu (22/6/2025) di Lapangan Banteng di Jakarta Pusat.

Bersama sejumlah temannya, Sania tiba di Lapangan Banteng sekitar pukul 15.00 WIB. Ia memilih naik Transjakarta agar lebih mudah menuju lokasi.

Namun, ia merasa kecewa dengan pemilihan Lapangan Banteng sebagai lokasi malam puncak HUT Ke-498 Jakarta. Menurut Sania, taman ini terlalu kecil untuk acara sebesar ini sehingga tidak mampu menampung antusiasme warga. Hal ini berbeda dengan tahun lalu ketika acara diadakan di Monas yang lebih luas.

Sejumlah warga bahkan berpindah ke Masjid Istiqlal karena Lapangan Banteng dinilai sudah terlalu penuh. Meskipun begitu, Sania tetap antusias menunggu satu per satu pertunjukan yang akan hadir di panggung.

Di balik kegembiraan merayakan HUT Jakarta, Sania menyimpan harapan besar untuk masa depan kota ini. Harapan utamanya adalah berkurangnya kemacetan yang selama ini jadi masalah besar di Jakarta.

Meskipun sistem transportasi umum sudah berkembang pesat dengan adanya Transjakarta, MRT, dan LRT, masih banyak tantangan terkait konektivitas antarwilayah yang harus diatasi Jakarta.

Selain itu, Sania berharap pembangunan Jakarta ke depan semakin berfokus pada keberlanjutan lingkungan. Jakarta harus menjadi kota yang lebih hijau, dengan lebih banyak ruang terbuka hijau, taman kota, dan penghijauan di sepanjang jalan.

Ulang Tahun DKI Jakarta ke-498 pada Minggu (22/6/2025) di Lapangan Banteng di Jakarta Pusat.

Sementara itu, Kirana (28) mengatakan, Jakarta telah menunjukkan kemajuan dalam menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas. Ia memiliki adik laki-laki yang merupakan penyandang disabilitas dan ia merasakan adanya perubahan positif di beberapa area yang telah disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Namun, masih ada beberapa tempat di Jakarta yang belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas. Salah satunya kondisi pedestrian di sekitar rumahnya di Jakarta Utara.

Kirana mengeluhkan banyaknya bagian trotoar yang rusak dan digunakan untuk berjualan sehingga menyulitkan adiknya yang memiliki keterbatasan dalam berjalan dan mengakses trotoar dengan nyaman.

Menurut Kirana, masalah ini membuat adiknya kesulitan untuk bergerak dengan mudah, terutama saat beraktivitas sehari-hari. Ia berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan kenyamanan penyandang disabilitas dengan memperbaiki fasilitas umum dan memastikan trotoar dan jalur pejalan kaki tidak digunakan untuk kepentingan lain yang menghalangi aksesibilitas.

Transformasi Jakarta

Tak hanya warganya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno turut hadir untuk merayakan HUT Ke-498 Jakarta. Pramono menuturkan, transformasi Jakarta harus dilakukan secara menyeluruh dengan bertumpu pada daya saing ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan sosial.

Fokus utama dalam periode pemerintahannya adalah perbaikan infrastruktur dasar, yang meliputi penyediaan hunian vertikal melalui konsep ”Jakarta Tumbuh ke Atas”. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan pembangunan yang menggabungkan layanan publik dan hunian di berbagai lokasi prioritas.

”Kami ingin menciptakan kota yang tidak hanya berkembang, tetapi juga mampu mengakomodasi kebutuhan warganya dengan lebih efisien,” kata Pramono.

Ulang Tahun DKI Jakarta ke-498 pada Minggu (22/6/2025) di Lapangan Banteng di Jakarta Pusat.

Sebagai bagian dari komitmen untuk meningkatkan kualitas hidup warga, Pramono juga memperkenalkan program Sehat Bersama Lansia Jakarta, yang menyediakan layanan kesehatan berstandar internasional. Salah satu inisiatifnya adalah pembangunan Rumah Sakit Cakung, yang direncanakan dimulai pada 2026.

”Kami ingin memastikan warga Jakarta, terutama lansia, mendapatkan akses ke layanan kesehatan terbaik,” ujar Pramono.

Untuk mengatasi masalah lingkungan dan bencana seperti banjir, Pemprov DKI Jakarta menjalankan program ekosistem pengendalian banjir dengan pengerukan kali, sungai, dan waduk, serta perbaikan saluran air di kawasan padat penduduk.

Pramono juga menggarisbawahi pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan, dengan mengoperasikan empat lokasi TPS 3R dan proyek RDF Rorotan yang menggunakan teknologi tinggi dan pendekatan berbasis partisipasi masyarakat.

Selain infrastruktur fisik, Pramono menyatakan, pemerintahannya juga berfokus pada kesejahteraan sosial dengan program-program yang mengatasi masalah dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan ketahanan pangan.

”Kami bekerja keras untuk memastikan harga tetap terjangkau dan pasokan pangan stabil dengan mengimplementasikan program pasar murah rutin dan kerja sama antardaerah,” ujar Pramono.

Ulang Tahun DKI Jakarta ke-498 pada Minggu (22/6/2025) di Lapangan Banteng di Jakarta Pusat.

Meskipun tantangan seperti inflasi dan ketimpangan sosial masih menjadi pekerjaan rumah, Pramono tetap optimistis terhadap masa depan Jakarta. Menurut dia, ekonomi Jakarta diproyeksikan tumbuh lebih dari 5 persen pada 2026 dan terus berkembang pada 2030.

Yang tak kalah penting, Pramono menekankan, di tengah kemajuan ekonomi dan pembangunan fisik, Jakarta harus tetap menjaga dan merawat budaya lokal.

”Sebagai kota global, Jakarta harus terus berpijak pada nilai-nilai budaya lokal yang kaya. Dengan semangat kolaborasi, Jakarta akan tumbuh menjadi kota yang global, tetapi tetap berakar pada kebersamaan dan keberagaman,” tutur Pramono.

Ketua DPRD Jakarta Khoirudin optimistis DKI Jakarta akan menjadi kota global yang berbudaya dan beradab menjelang perayaan ulang tahunnya yang ke-500.

Pada 2025, Jakarta menunjukkan perkembangan infrastrukturnya dengan proyek-proyek besar, salah satunya adalah revitalisasi Terminal Blok M yang diresmikan pada Mei 2025 sebagai ”Blok M Hub”.

Proyek ini bertujuan untuk menjadikan terminal tersebut sebagai kawasan transit terpadu yang menghubungkan berbagai moda transportasi, seperti Transjakarta dan MRT, sekaligus menyediakan fasilitas publik yang lebih baik dan nyaman bagi warga.

Ulang Tahun DKI Jakarta ke-498 pada Minggu (22/6/2025) di Lapangan Banteng di Jakarta Pusat.

Selain itu, Jakarta telah meluncurkan sejumlah rute baru dalam sistem Transjabodetabek, yang menghubungkan Jakarta dengan kota-kota penyangga seperti Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Kebijakan untuk mewajibkan pegawai pemerintah menggunakan transportasi umum setiap hari Rabu dan penguatan sistem transportasi massal menjadi langkah strategis untuk mengurangi kemacetan dan menurunkan emisi karbon di ibu kota.

Meski berbagai langkah telah diambil, persoalan kemacetan masih menjadi tantangan besar bagi kota ini. Khoirudin berharap, masalah kemacetan bisa diatasi dengan penyediaan lebih banyak transportasi umum, termasuk untuk wilayah penyangga Jakarta.

Ia juga menilai, perbandingan antara jumlah kendaraan dan kapasitas ruas jalan di Jakarta masih belum seimbang. Oleh karena itu, Khoirudin berharap, masyarakat dapat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum sebagai solusi untuk mengurangi kemacetan yang terus meningkat.

”Dana besar yang dialokasikan dari APBD untuk subsidi transportasi harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh masyarakat untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” katanya.

Meski masih dihadapkan pada berbagai tantangan, Jakarta akan terus berkembang menjadi pusat harapan dan inklusivitas yang menginspirasi dunia. Selamat ulang tahun, Jakarta!


Kerabat Kerja

Penulis:

Atiek Ishlahiyah Al Hamasy
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto