Limitasi ruang membuat perencanaan di Jakarta perlu intervensi desain agar manfaat fasilitas publik dirasakan secara luas.
25 Jun 2025 20:03 WIB · Metropolitan
Pembukaan hingga revitalisasi fasilitas publik menjadi salah satu upaya Jakarta bertransformasi menjadi kota global. Kehadiran ruang publik di sudut kota penting agar kota yang akan berusia lima abad pada 2027 ini berfungsi dengan baik.
Dalam perencanaannya, pendekatan urban design bisa jadi salah satu acuan agar Jakarta menjadi kota modern di tengah limitasi ruangnya. Bangunan dan fasilitas perlu mempertimbangkan aspek kebermanfaatan bagi warga dan lingkungan.
Peningkatan layanan fasilitas publik terus digiatkan di pemerintahan Jakarta kini. Terbaru, Gubernur Jakarta Pramono Anung berencana merevitalisasi Stadion Cenderawasih, Cengkareng, Jakarta Barat, Senin (23/6/2025). Kawasan ini menjadi salah satu fasilitas di Gelanggang Olahraga Remaja Cenderawasih.
”Saya mendapat banyak masukan bahwa ada fasilitas yang cukup bagus, tetapi tidak terawat dengan baik,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/04/13/e651099d-c3ec-4f18-ab26-54ee3c207613_jpg.jpg)
Stadion ini memiliki lahan seluas 7 hektar. Perencanaan renovasi stadion ini diharapkan segera rampung. Menurut rencana, revitalisasi bisa dimulai tahun depan.
Stadion ini memiliki nilai sejarah karena pernah dipakai pada kompetisi Galatama era 1990-an dan menjadi markas Persija Barat FC. Tidak hanya untuk sepak bola, stadion ini juga memiliki fasilitas lapangan bulu tangkis, basket, padel, dan lain-lain.
Selain Stadion Cenderawasih, ada pula Stadion Tugu di Jakarta Utara yang akan memasuki renovasi tahap kedua. Renovasi diharapkan selesai pada Desember 2025. Stadion ini nantinya akan mampu menampung 4.200-5.000 penonton. Renovasi nanti diharapkan juga menyediakan fasilitas pendukung, seperti area UMKM dan penjualan cendera mata.
Sebelumnya, pemerintah DKI Jakarta juga membuka lima taman agar beroperasi selama 24 jam. Taman tersebut adalah Taman Menteng dan Taman Lapangan Banteng di Jakarta Pusat serta Taman Langsat, Taman Ayodya, dan Taman Literasi Martha Tiahahu di Jakarta Selatan. Pramono juga menyampaikan rencananya menambah jumlah taman yang beroperasi, seperti di area Kanal Banjir Timur dan Kalijodo.
Di tingkat mikro, perbaikan juga dilakukan. Pramono menyoroti pentingnya infrastruktur dasar di wilayah kumuh. Pembangunan infrastruktur dasar meliputi toilet komunal, balai warga, dan juga saluran irigasi. Melalui pembangunan infrastruktur, masyarakat bisa tinggal dengan nyaman dan aman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/05/ac32ebf3-2035-461b-8e5d-98b0c4dc79cb_jpg.jpg)
Ia menyampaikan, pemerintah juga akan membangun balai warga yang baru. Balai akan dibangun pemerintah di tanah milik warga dan diharapkan bisa menjadi tempat bagi masyarakat untuk beraktivitas bersama.
”Pemerintah serius untuk menangani ini. Ada sebanyak 55 rukun warga yang perlu perbaikan,” katanya.
Jumlah penduduk yang kian meningkat, di tengah keterbatasan ruang, membuat perencanaan di Jakarta perlu cermat. Fasilitas yang dibangun tidak boleh hanya sekadar bangunan, tetapi harus ada ”timbal balik”. Keduanya harus saling mendukung.
Hubungan timbal balik yang dimaksud berupa manfaat yang didapatkan warga dengan menjaga dan memanfaatkan fasilitas tersebut. Untuk mencapai hal tersebut, desain bangunan dan ruang-ruang di sekitarnya perlu diperhatikan dan sesuai dengan kebutuhan warga.
Pengajar Urban Design di Monash University, Alyas Widita, menyebut, terdapat beberapa aspek desain urban agar fasilitas publik tersebut bermanfaat luas, salah satunya soal akses. Pembangunan atau revitalisasi harus memperhatikan aspek mobilitas. Hal ini agar semakin banyak yang bisa menikmati fasilitas tersebut dengan nyaman.
Hal penting lain adalah berfokus pada masalah yang bersifat lokal, tetapi memiliki dampak besar. Ketimbang melakukan reformasi struktural yang membutuhkan waktu panjang, melalui pendekatan desain urban, masalah kota diselesaikan perlahan dengan intervensi desain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/25/760777d1afb88c0fa39cf7d94b315ef5-alyas.jpg)
Dengan desain urban, pembangunan berfokus untuk menjalin ruang, bangunan, dan sudut-sudut kota Jakarta yang tersisa sehingga menjadi kesatuan yang bermanfaat bagi warga. Keterikatan manusia dan ruang di sekitarnya pun jadi bahan pertimbangan desain urban.
Alyas mengapresiasi langkah pemerintah DKI Jakarta yang mulai membenahi fasilitas publik secara terfokus di beberapa tempat. Meski perlahan, dampak dari ”kemenangan kecil” tersebut diharapkan langsung terasa oleh warga.
Pendekatan ini membuat penyelesaian masalah Jakarta yang sangat rumit sedikit demi sedikit dituntaskan. Ia juga mengingatkan agar fasilitas publik di Jakarta bisa merata.
Ini pentingnya ”urban design”. Dengan kemenangan kecil melalui intervensi desain, dampak dari fasilitas dan pembangunan diharapkan bisa langsung dirasakan banyak orang.
Hal ini karena fasilitas masih terfokus di wilayah seperti Jakarta Selatan atau Jakarta Pusat. Pemerataan menjadi penting agar mobilitas warga ke fasilitas publik lebih teratur sehingga tidak menimbulkan penumpukan.
”Ini pentingnya urban design. Dengan kemenangan kecil melalui intervensi desain, dampak dari fasilitas dan pembangunan diharapkan bisa langsung dirasakan banyak orang,” ujarnya.
Ia menyebut, keilmuan mengenai desain urban relatif baru. Awalnya, pendekatan ini muncul saat Pemerintahan Kota Chicago di Amerika Serikat membahas perencanaan kota tersebut tahun 1909.
Dalam dokumen perencanaan, seluruh ruang publik, bangunan, dan area lain dibangun secara terkoordinasi agar Chicago menjadi kota yang berfungsi. Elemen desain ditekankan agar fasilitas ada sesuai dengan kebutuhan.
Jakarta diharapkan mampu memainkan elemen desain dalam pembangunan fasilitasnya agar infrastruktur tersebut bukan sekadar bangunan.
Penulis:
Raynard Kristian Bonanio PardedeEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti