Jakarta dan Tangsel Rentan Terkepung Bencana Hidrometeorologi

Dalam sepekan terakhir, setidaknya banjir sudah dua kali melanda Jakarta dan Tangerang Selatan. Penyebabnya adalah intensitas hujan yang tinggi dan banjir kiriman.

13 Agt 2025 14:44 WIB · Metropolitan

Oleh Rhama Purna Jati

JAKARTA, KOMPAS — Dalam sepekan terakhir, wilayah Jakarta dan Tangerang Selatan sudah dua kali dilanda banjir. Penyebabnya beragam, mulai dari intensitas hujan yang tinggi akibat cuaca ekstrem dan banjir kiriman dari wilayah yang lebih tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi masih adanya potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan.

Terbaru adalah banjir yang terjadi di sejumlah wilayah di Tangerang Selatan, Banten, pada Selasa (12/8/2025) sore. Banjir dengan ketinggian 15 sentimeter (cm) hingga 50 cm merendam beberapa kawasan, seperti di Jalan Raya Pasar Ceger, Kelurahan Jurang Mangu Barat, Kecamatan Pondok Aren. Banjir di kawasan tersebut mencapai 25 cm.

Tidak hanya di jalan raya, banjir juga merendam rumah warga di Pondok Maharta, Kelurahan Pondok Kacang Timur, Kecamatan Pondok Aren. Ketinggian banjir di lokasi tersebut mencapai 50 cm. ”Ada sekitar 650 kepala keluarga yang terdampak,” kata Penatalayanan Operasional Danton PB Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangerang Selatan (Tangsel) Dian Wiryawan saat dikonfirmasi, Rabu (13/8/2025).

Selain itu, banjir merendam Perumahan Palem Bintaro, Kecamatan Pondok Aren, dengan ketinggian 10 cm sampai 30 cm. Adapun jumlah warga yang terdampak mencapai 40 keluarga.

Banjir juga melanda perumahan Bintaro Gallery, Kelurahan Pondok Kacang Timur, dengan ketinggian air sekitar 15 cm sampai 50 cm. Di sana terdapat 50 kepala keluarga yang terdampak.

Banjir juga merendam sekitar Kelurahan Jurang Mangu Barat RW 15 dengan ketinggian banjir mencapai 30 cm. ”Di sana, banjir merendam kantor kecamatan dan jalan akses warga pun ikut terkena dampaknya,” kata Dian.

Banjir juga merendam Perumahan Kavling Bulak RW 002 Kelurahan Pondok Kacang Timur dengan ketinggian mencapai 35 cm. Setidaknya ada 65 keluarga yang terdampak.

Kondisi Perumahan Vila Pamulang, Pondok Petir, Bojongsari, Kota Depok, saat direndam banjir, Minggu (10/8/2025). Banjir terjadi akibat tanggul Kali Angke yang melintasi perumahan Vila Pamulang jebol dan menyebabkan sekitar 2.000 warga dari 8 RTdi RW 5 menjadi korban.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)
10-08-2025

Banjir juga terjadi di Kelurahan Jurangmangu Barat, Kecamatan Pondok Aren, dengan ketinggian air mencapai 50 cm. Di sana, jumlah warga yang terdampak mencapai 40 keluarga. Banjir juga merendam kawasan Perum Taman Mangu RW 012, Kelurahan Jurangmangu Barat, dengan ketinggian air mencapai 25 cm. Warga yang terdampak mencapai 100 keluarga.

Dian mengatakan, dari hasil pemantauan lapangan, banjir di delapan wilayah itu disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi, tidak lancarnya drainase, dan perbaikan tanggul yang sedang berlangsung.

Banjir di Tangsel sudah berulang kali terjadi. Bahkan, dalam tiga hari terakhir, Tangsel dilanda dua kali banjir. Banjir juga terjadi pada Minggu (10/8/2025). ”Banjir saat itu bukan karena hujan, melainkan karena air kiriman dari wilayah yang lebih tinggi,” kata Dian.

Banjir pada Minggu diawali dengan banjir di wilayah Villa Pamulang kemudian meluber hingga ke wilayah sekitarnya, terutama di Kecamatan Serpong dan Ciputat Timur. Banjir kala itu disebabkan oleh luapan air Kali Angke dan Kali Pesanggrahan.

Banjir juga terjadi di wilayah Jakarta pada Selasa (12/8/2025). Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI Jakarta Mohammad Yohan mengatakan, pada Selasa (12/8/2025) malam, satu Kelurahan Joglo terendam dengan ketinggian 65 cm. Penyebabnya ialah curah hujan tinggi dan luapan Kali Gebyuran.

Adapun tiga ruas jalan yang terendam banjir pada Selasa malam ialah Jalan Daan Mogot di Kelurahan Kedaung Kali Angke, Jakarta Barat, dengan ketinggian air 50 cm. Kemudian, Jalan Joglo Raya setinggi 15 cm, dan Jalan Adhi Karya di Kecamatan Kebon Jeruk dengan ketinggian air sekitar 15 cm.

Pada Selasa (5/6/2025), banjir juga melanda sejumlah wilayah di Jakarta. Yohan mengatakan, setidaknya ada 12 RT yang terendam banjir.

Banjir yang terjadi ini disebabkan oleh hujan yang melanda wilayah Jakarta sejak Senin siang. Kondisi ini membuat debit air di Bendung Katulampa meningkat bahkan berstatus Waspada/Siaga 3 pada Senin pukul 16.30 WIB.

”Kenaikan debit air di Katulampa berdampak pada kenaikan debit air di Sungai Ciliwung. Akibatnya, beberapa wilayah di Jakarta terendam banjir,” katanya.

Beberapa daerah yang masih terendam banjir ada di Kelurahan Bidara Cina, Cawang, Kampung Melayu, dan Cililitan, Jakarta Timur. Ketinggian air berkisar 30 cm sampai 60 cm.

Seorang anak bermain air di teras rumahnya di Perumahan Vila Pamulang, Pondok Petir, Bojongsari, Kota Depok, saat direndam banjir, Minggu (10/8/2025). Banjir terjadi akibat tanggul Kali Angke yang melintasi perumahan Vila Pamulang jebol dan menyebabkan sekitar 2.000 warga dari 8 RTdi RW 5 menjadi korban. Ketinggian sempat mencapai sekitar 1,5 meter.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)
10-08-2025

Untuk mengantisipasi banjir, kata Yohan, BPBD Jakarta mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan di setiap wilayah dan mengoordinasikan sejumlah unsur dari Dinas Sumber Daya Air Jakarta, Dinas Bina Marga, serta Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan untuk menyedot genangan dan memastikan tali-tali air berfungsi dengan baik.

Selain itu, BPBD Jakarta bersama dengan para lurah dan camat setempat menyiapkan kebutuhan dasar bagi penyintas. Genangan ditargetkan untuk surut dalam waktu cepat.

Jonas (29), warga Joglo, Jakarta Barat, mengatakan, banjir kerap terjadi di wilayahnya. Bahkan, dalam satu tahun terakhir, sudah empat kali banjir merendam kawasannya. ”Situasi ini menghambat saya dalam beraktivitas terutama saat bekerja pada pagi dan sore hari,” kata Jonas yang bekerja di perusahaan swasta di Jakarta Pusat ini.

Menurut Jonas, selain curah hujan yang tinggi, buruknya saluran drainase juga menjadi penyebab banjir. Apalagi, air sungai di sekitar Jakarta Barat akan cepat meluap ketika wilayah hulu naik. Jonas berharap kondisi ini menjadi perhatian pemerintah sehingga tidak terus berulang.

Potensi cuaca ekstrem

Dari prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG, potensi cuaca ekstrem masih terus mengancam sejumlah wilayah di Tanah Air, tidak terkecuali kawasan Jabodetabek.

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan. Peringatan ini dikeluarkan setelah terpantau peningkatan curah hujan signifikan di beberapa wilayah Indonesia sejak awal Agustus 2025.

Dalam laman BMKG, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan, hujan dengan intensitas ekstrem telah melanda sejumlah provinsi. Tercatat, Bengkulu mengalami hujan dengan intensitas 160,8 milimeter (mm)/hari pada 1 Agustus 2025, Maluku 203,5 mm/hari pada 3 Agustus, Sumatera Barat 176,5 mm/hari pada 8 Agustus, dan Jawa Barat 254,7 mm/hari pada 9 Agustus.

Hujan sangat lebat juga terjadi di Kalimantan Barat, Papua Tengah, Jakarta, Banten, Jambi, Kepulauan Riau, Papua Barat Daya, dan Sulawesi Tenggara. Menurut Guswanto, kondisi ini selaras dengan prakiraan BMKG tentang meningkatnya curah hujan pada awal bulan.

Kekacauan lalu-lintas saat hujan mengguyur di Jalan TB Simatupang, Jakarta, Senin (7/7/2025) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan hujan ekstrem masih akan terjadi di Jakarta, Jawa Barat, dan sekitarnya. Menurut prakiraan cuaca BMKG pada 7 sampai 9 Juli 2025, hujan masih akan mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya. Kepala Badan BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, hujan ekstrem akan mulai menggeser ke arah wilayah timur Indonesia pada 8 Juli 2025. Walau demikian, warga Jabodetabek diharapkan tetap waspada jika terjadi hujan ekstrem.



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

07-07-2025

Guswanto mengatakan, peningkatan curah hujan ini dipicu oleh kombinasi fenomena atmosfer, seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer, pengaruh tidak langsung bibit siklon tropis 90S dan 96W, sirkulasi siklonik, serta pelambatan dan pertemuan angin di sekitar Indonesia.

Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani mengatakan, Indeks Dipole Mode yang saat ini bernilai negatif juga berperan, menandakan adanya aliran massa udara dari Samudra Hindia menuju Indonesia. Gabungan faktor dinamika atmosfer tersebut mendorong pertumbuhan awan hujan masif yang berpotensi memicu hujan lebat disertai petir dan angin kencang.

Andri mengatakan, berdasarkan analisis BMKG, potensi hujan sedang hingga lebat disertai kilat/petir dan angin kencang pada 11–13 Agustus 2025 dapat terjadi di sebagian besar wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Sementara itu, pada 14–16 Agustus 2025, intensitas hujan diperkirakan menurun, tetapi wilayah Bengkulu, Kalimantan Timur, dan Papua Pegunungan tetap berpotensi mengalami hujan lebat. Selain itu, angin kencang berpeluang terjadi di Aceh, Banten, Jawa Barat, Bali, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan, yang dapat memicu gelombang laut tinggi di sekitarnya.

Peningkatan signifikansi curah hujan tersebut dapat mengganggu aktivitas panen dan tanam pada sektor pertanian di sebagian wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan, sehingga petani diimbau untuk menghindari penanaman di lahan rendah yang rentan genangan dan memperkuat saluran irigasi dan drainase. Di sisi lain, sebagian wilayah NTB dan NTT yang relatif lebih kering cocok untuk pengeringan hasil panen.

Wisatawan asing mengikuti kursus berselancar di Pantai Kuta, Bali, Jumat (11/11/2022). Meski jumlah kunjungan wisatawan baru pulih sekitar sepertiga dibanding saat sebelum pandemi, para pelaku industri wisata optimis kondisi akan segera membaik. Kegiatan KTT G20 diharapkan mampu mendorong percepatan pemulihan industri wisata Bali.

Peningkatan curah hujan juga diperkirakan berdampak pada sejumlah aktivitas pariwisata, seperti destinasi pegunungan dan air terjun, sehingga pengunjung diharapkan waspada terhadap hujan lebat dan kabut tebal. Masyarakat yang berwisata ke pantai selatan Jawa dan Bali perlu berhati-hati terhadap gelombang tinggi dan angin kencang yang bisa membahayakan wisatawan. Aktivitas laut, seperti menyelam dan berselancar, sebaiknya ditunda.

Masyarakat yang bepergian pada jalur darat diimbau mewaspadai risiko jalan licin dan longsor, khususnya di wilayah pegunungan dengan curah hujan tinggi. Peningkatan tinggi gelombang juga berpotensi memberikan dampak di beberapa wilayah perairan, khususnya di Samudra Hindia Barat Sumatera, perairan selatan Jawa dan Bali, perairan selatan Lombok hingga Pulau Sumba. Nelayan dan operator kapal diimbau memantau peringatan BMKG untuk meningkatkan kewaspadaan di laut.

Tidak hanya itu, turbulensi dan gangguan penerbangan akibat awan kumulonimbus dan awan konvektif lain juga berpotensi terjadi di wilayah Sumatera, Banten, Jawa Barat, Selat Karimata, Laut Natuna, Kalimantan, Selat Makassar, dan Papua, sehingga maskapai perlu memperhatikan informasi meteorologi penting dan pemberitahuan kepada penerbang.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rhama Purna Jati
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji