Secara alami, Jakarta sejak dulu berupa rawa, situ, dan aliran belasan sungai. Bangun kota yang layak dihuni manusia dan tetap sebagai rumah air demi halau bencana.
01 Feb 2025 09:00 WIB · Opini
Jakarta dialiri belasan sungai dengan hilir yang lebih rendah dari permukaan laut. Sungai-sungai berhulu di Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, berjarak kurang dari 100 kilometer ke hilir di tepian Teluk Jakarta. Jarak pendek dan beda ketinggian menukik ini membuat air sungai mengalir deras dan cepat ke hilir setiap kali hulu diguyur hujan lebat.
Lima abad silam, Batavia dibangun Belanda dekat dengan muara. Aliran sungai direkayasa dengan kanal-kanal yang bertujuan mengalirkan air ke laut. Tak lama, kota baru bagian dari cikal bakal Jakarta itu langsung digempur banjir.
Catatan sejarah menunjukkan, sejak itu luapan air dari sungai, situ, dan rawa yang sebelumnya merupakan rutinitas atau hal biasa menjelma menjadi bencana. Hanya karena ada manusia yang semaunya menduduki rumah air, mereka akhirnya terusik sendiri oleh dampak perbuatannya.
Perubahan fungsi bentang lahan selanjutnya justru tak terbendung. Pada masa penjajahan Belanda, setelah Indonesia merdeka, hingga kini, semakin banyak hutan, rawa, dan situ menjelma menjadi kota. Tutupan hijau di hulu menipis berkat berkembangnya hunian, perkebunan, dan bisnis wisata.
Upaya mengatasi bencana kemudian muncul dengan adanya rencana induk pengendalian banjir Jakarta puluhan tahun silam, tetapi lambat diwujudkan.
Banjir besar kemudian berkali-kali melanda dan melumpuhkan Jakarta, seperti pada 2007 dan 2012. Tercatat kerugian hingga triliunan rupiah, korban jiwa bertumbangan. Jakarta terpuruk menjadi kota tak layak huni, tak menarik untuk investasi. Fungsi sebagai ibu kota negara kala itu tercoreng.
Setelah itu, barulah revitalisasi sungai dilakukan dengan mengeruk, memperdalam, dan menurap dindingnya. Kanal banjir timur akhirnya beroperasi. Situ yang tersisa kurang dari 200 titik, dari sebelumnya ribuan, berproses diselamatkan. Area tangkapan air ditambah dengan memperbanyak ruang terbuka hijau sekaligus menambah ruang terbuka publik.
Bendungan Ciawi dan Sukamahi dibangun untuk memperkuat sistem penahan air di hulu. Selain itu, bertahap, dibangun waduk, tanggul pesisir laut, serta sistem polder dan pompa. Sampai saat ini, belum semua proyek itu selesai.
Di sisi lain, dengan 11 juta jiwa penduduk Jakarta atau sekitar 30 juta jiwa se-Jabodetabekpunjur, berbagai infrastruktur itu terbilang belum memadai. Megapolitan ini juga tetaplah kawasan padat dengan area hijau dan tempat parkir air yang sangat minim.
Terlebih, saat ini, cuaca ekstrem—yang salah satunya ditandai dengan curah hujan tinggi sebagai bagian dari dampak perubahan iklim global—kian menjadi. Infrastruktur beton yang mahal dan masif tidak fleksibel ditingkatkan kapasitasnya mengikuti kecepatan perubahan itu. Banjir pun terjadi lagi.
Agar tak selalu diakrabi bencana, tidak ada pilihan selain menata kota sebagai rumah bagi manusia sekaligus ”warga” aslinya, yaitu air. Di beberapa kota di China, Jepang, dan Eropa, hal itu telah dilakukan. Jakarta hanya perlu segera mengadopsinya dengan tepat.
Penulis:
RedaksiEditor:
Neli Triana, Marcellus HernowoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra