Pemprov Jakarta memperpanjang modifikasi cuaca hingga 27 Januari 2026, mengeluarkan surat edaran sekolah dan kerja dari rumah, hingga penanganan sampah di badan air.
23 Jan 2026 15:53 WIB · Metropolitan
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
JAKARTA, KOMPAS — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperingatkan hujan disertai angin kencang di Jakarta dan Banten hingga Minggu (25/1/2026). Terkait hal ini, Pemerintah Provinsi Jakarta memperpanjang operasi modifikasi cuaca hingga 27 Januari 2026, mengeluarkan surat edaran sekolah dan kerja dari rumah, hingga penanganan sampah di badan air.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan peringatan level Awas untuk wilayah Jakarta dan Banten pada Jumat (23/1/2026). Kedua wilayah ini berpotensi diguyur hujan sangat lebat hingga ekstrem yang dapat memicu banjir lanjutan. Selain itu, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini angin kencang yang berpotensi melanda Jakarta dan Banten pada Jumat hingga Minggu.
Dampak cuaca ekstrem ini sudah terlihat. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta per Jumat pukul 15.00 WIB, banjir telah merendam 140 RT dan 16 ruas jalan yang tersebar di lima wilayah kota administrasi. Ketinggian air bervariasi mulai dari 15 sentimeter (cm) hingga yang terparah mencapai 1,2 meter.
Gubernur Jakarta Pramono Anung mengakui curah hujan kali ini luar biasa, dengan puncaknya mencapai 220 milimeter per hari pada 18 Januari 2026.
”Kondisi ini jarang terjadi dan menandakan cuaca ekstrem yang tengah berlangsung,” ujar Pramono di Jakarta Pusat, Jumat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/23/e23c8720d7770d52c93a9b75d7bcfe38-WhatsApp_Image_2026_01_23_at_15.18.49.jpeg)
BMKG pun telah merekomendasikan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menekan intensitas hujan. Awalnya dijadwalkan hingga 23 Januari, OMC kini diperpanjang hingga 27 Januari 2026.
Setiap hari, tiga penerbangan penyemaian awan dilakukan, dengan anggaran yang sudah disiapkan hingga 30 hari ke depan, sehingga pelaksanaannya tidak mengalami hambatan.
Menanggapi kritik mengenai kebijakan jangka pendek melalui OMC, Pramono menegaskan bahwa strategi ini bukan pengulangan metode lama.
”Langkah OMC bersifat jangka pendek. Selain OMC, kami juga fokus pada pengendalian banjir jangka panjang, termasuk normalisasi Kali Ciliwung, Kali Krukut, dan Kali Cakung Lama, yang memang membutuhkan biaya besar dan persiapan matang, termasuk relokasi warga,” ujarnya.
Pramono menekankan, meskipun OMC berpotensi menimbulkan kontroversi, pemerintah akan tetap menanganinya demi keselamatan warga dan kelancaran aktivitas di Jakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/23/45579d153687bfd77ab7c00c4fcf9360-FAK_1755.jpg)
Menurut Pramono, dampak modifikasi cuaca sudah terlihat secara signifikan. Kondisi cuaca yang sebelumnya gelap akibat awan tebal mulai berubah setelah operasi dilakukan.
Selain itu, Pemprov Jakarta telah mengeluarkan surat edaran untuk bekerja dari rumah (work from home/WFH) yang dikeluarkan oleh dinas tenaga kerja maupun sekolah dari rumah (school from home) yang dikeluarkan oleh dinas pendidikan hingga 28 Januari 2026.
”Kami keluarkan surat edaran ini untuk mengantisipasi banjir dan juga kemacetan yang ada di Jakarta,” ujar Pramono.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/23/36f1ef2740a6b5ccb18bfd95ced42d8b-FAK_2792.jpg)
Tidak hanya Pemprov Jakarta, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga melakukan OMP untuk menekan potensi curah hujan tinggi di Banten, khususnya Kabupaten Serang.
”Langkah ini penting agar curah hujan direduksi sehingga penanganan berat, seperti evakuasi dan distribusi logistik, bisa dilakukan maksimal,” ujar Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat BNPB Agus Riyanto.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/23/1ecbfdc450495d07c2b37ed4233ef64d-FAK_1835.jpg)
Modifikasi cuaca ini dilaksanakan melalui Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, mengingat jarak dekat dengan lokasi terdampak. Operasi ini telah berjalan selama lima hari dan diperpanjang hingga Sabtu (24/1/2026), dengan cakupan wilayah meliputi Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Selain upaya pengurangan curah hujan, BNPB juga telah berkoordinasi dengan Wakil Bupati dan Sekretaris Daerah Kabupaten Serang terkait dengan rencana relokasi bagi masyarakat terdampak bencana.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/23/ecbe423b741b39dd17eff6d62a42e546-20260123TOK.jpg)
Agus mengatakan, proses relokasi sedang dikoordinasikan lebih lanjut dengan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP). Opsi yang tersedia meliputi relokasi mandiri atau terpusat (sentralisasi).
”Nanti akan dibangunkan rumah. Namun, jika pilihannya adalah relokasi tersentral dalam satu hamparan, pemerintah daerah harus menyiapkan lahannya,” katanya.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Serang, hingga Rabu malam, tercatat 625 jiwa atau 187 keluarga masih bertahan di lokasi pengungsian akibat bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut, termasuk banjir, tanah longsor, dan angin kencang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/23/a3ea9978a68bae16f6535bfc3963d26d-FAK_1577.jpg)
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta terus memperkuat pengurangan risiko banjir melalui penanganan sampah di badan air secara menyeluruh, mulai dari wilayah hulu hingga hilir. Salah satu langkah strategis yang dioptimalkan adalah pengoperasian Saringan Sampah TB Simatupang (SSTBS) sebagai penyaring awal sampah kiriman sebelum memasuki aliran sungai di Jakarta.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, peningkatan intensitas hujan berpotensi membawa sampah dari wilayah hulu yang dapat menyumbat sungai dan saluran air. Oleh karena itu, SSTBS difungsikan sebagai garda terdepan untuk menahan sampah agar tidak memperparah banjir.
”Melalui SSTBS, material padat seperti plastik, kayu, dan jenis sampah lainnya dapat tertahan sejak awal. Sampah yang terkumpul kemudian diangkut secara berkala oleh petugas agar tidak terjadi penumpukan dan aliran air tetap lancar,” ujar Asep.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/23/f1410638bd33d9e7e14eadebea75545d-20260123TOK1.jpg)
Menurut Asep, upaya tersebut merupakan bagian dari strategi pengelolaan sampah badan air di titik perbatasan kota sehingga penanganan selama musim hujan dapat dilakukan secara cepat, efektif, dan berkelanjutan.
Selain mengoperasikan SSTBS, DLH Jakarta juga menyiagakan unit pengelola sampah badan air (UPSBA) di sembilan titik rawan banjir, mengoptimalkan 29 unit saringan sampah otomatis, serta menyiapkan sarana pendukung berupa kubus apung, bus toilet, tangki air, dan toilet portable.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/23/691b3f72af9e007d12023c09bbf38a49-FAK_1965.jpg)
Untuk mempercepat penanganan di lapangan, sebanyak 1.790 personel pasukan oranye turut disiagakan, didukung 101 unit truk pengangkut sampah, 116 alat berat, 15 perahu karet, 25 bus toilet, 48 toilet portable, serta ribuan peralatan kerja.
Asep menambahkan, pasukan oranye UPSBA juga terlibat dalam penanganan dan pengangkutan sampah di rumah pompa milik dinas sumber daya air sekaligus membantu proses evakuasi warga terdampak banjir.
DLH Jakarta berkomitmen menangani sampah secara cepat, terintegrasi, dan terkoordinasi guna mendukung pemulihan lingkungan, khususnya di wilayah terdampak banjir. Di sisi lain, partisipasi aktif masyarakat juga menjadi kunci dalam menekan risiko banjir.
”Dengan disiplin membuang sampah pada tempatnya, masyarakat turut berperan menjaga lingkungan sekaligus bersama-sama mengurangi risiko banjir di Jakarta,” kata Asep.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/23/1abd13db5e2ffaecc965b6f1c44f5448-FAK_2299.jpg)
Berdasarkan data BPBD Jakarta hingga pukul 15.00, tercatat 140 RT terdampak banjir dengan ketinggian bervariasi, mulai 15 cm hingga 120 cm, serta 16 ruas jalan direndam banjir.
Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan Jakarta Mohamad Yohan mengatakan, di Jakarta Barat, terdapat 40 RT terdampak. Rinciannya, Kelurahan Duri Kosambi (5 RT, 50-120 cm) akibat curah hujan tinggi dan luapan Kali Angke, Kelurahan Kapuk (3 RT, 50-65 cm), Kelurahan Kedaung Kali Angke (8 RT, 80 cm), Rawa Buaya (7 RT, 45-120 cm), Kedoya Selatan (4 RT, 75 cm), Kedoya Utara (7 RT, 15-80 cm), Sukabumi Utara (1 RT, 60 cm), Kembangan Selatan (1 RT, 35 cm), Kembangan Utara (2 RT, 70 cm), Meruya Selatan (1 RT, 60 cm), dan Kota Bambu Selatan (1 RT, 50 cm).
Di Jakarta Pusat, banjir terjadi di Kelurahan Bendungan Hilir dengan 5 RT terdampak dan ketinggian 40 cm. Jakarta Selatan mencatat 63 RT terdampak, antara lain Kelurahan Petogogan (23 RT, 30 cm), Cipulir (1 RT, 120 cm), Pondok Pinang (4 RT, 40 cm), Kuningan Barat (8 RT, 30-40 cm), Pela Mampang (9 RT, 75 cm), Duren Tiga (1 RT, 40 cm), Rawajati (3 RT, 30-40 cm), Cilandak Timur (2 RT, 40-70 cm), Pejaten Timur (3 RT, 50 cm), dan Ulujami (8 RT, 70 cm).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/23/2109cd649625477256942135d5edbccc-FAK_2527.jpg)
Sementara Jakarta Timur terdapat 30 RT terdampak, termasuk Cipinang Melayu (15 RT, 30-90 cm), Bidara Cina (4 RT, 40-60 cm), Kampung Melayu (4 RT, 75-100 cm), Makasar (4 RT, 30 cm), Rawa Terate (1 RT, 80 cm), dan Cipinang Muara (2 RT, 60 cm). Di Jakarta Utara, Kelurahan Kapuk Muara mengalami banjir 2 RT dengan ketinggian 40 cm.
BPBD juga mencatat sejumlah titik pengungsian bagi warga terdampak. Di Jakarta Barat, pengungsi berada di Masjid Jami Al Khaeer, Kedaung Kali Angke (11 keluarga, 28 jiwa) dan Aula Rusunawa KS Tubun, Kota Bambu Selatan (20 keluarga, 65 jiwa).
Di Jakarta Pusat, terdapat pengungsi di RPTRA Segas RW 06 (60 jiwa), RPTRA Intiland RW 07 (19 jiwa), aula Masjid Muhajirin RW 07 (56 jiwa), PAUD Nusantara RW 07 (78 jiwa), dan Pos RW 02 (12 jiwa). Di Jakarta Timur, Masjid Al Muqorrobin, Cipinang Melayu menampung 18 keluarga atau 69 jiwa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/23/ce838eac295390f9b0e861b952a4df29-FAK_2624.jpg)
Selain itu, terdapat 16 ruas jalan yang terdampak genangan. Di Jakarta Barat, beberapa ruas jalan terdampak antara lain Srengseng Raya, Daan Mogot Km 13, Gotong Royong, Kapuk Bongkaran, Taman Kota, Perumahan BTN Delima VIII, Strategi Raya, dan Basoka Raya, dengan ketinggian 10-50 cm.
Di Jakarta Selatan, Jalan Pulo Raya IV, Kelurahan Petogogan tergenang setinggi 50 cm. Di Jakarta Timur, Raya Cipinang Indah dan Kebon Pala II RW 04-05 terendam 15-50 cm. Adapun di Jakarta Utara, Jalan Rawa Indah dan Pegangsaan Dua tergenang 15-20 cm.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al-Hamasy, Fransiskus Wisnu Wardhana DanyEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan