Meski antrean sangat panjang, Arif yang menjual ayam penyet demikian tenang. Tak hanya pengunjung lokal, konsumen mancanegara ikut kepincut dengan masakan tersebut.
09 Feb 2025 09:33 WIB · Gaya Hidup
Di kantin karyawan Central Park, Jakarta Barat, yang tersembunyi, konsumennya kerap berduyun-duyun mengantre di depan Ayam Penyet Sambel Ijo Pakde Jo. Mereka rela blusukan lantas berdiri hingga puluhan menit di ruang serupa lorong tanpa pendingin udara.
Jalan menuju kantin karyawan Central Park lumayan berliku-liku. Pengendara sepeda motor, misalnya, setelah memarkir kendaraan kemudian naik lift ke lantai dasar atau ground. Setelah melintasi Tribeca Park sekitar 100 meter, pengunjung masuk Central Park lalu naik lift lagi ke lantai 8.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/06/4b9ca35b-d552-4b89-8a7b-6df10259d43e_jpg.jpg)
Setibanya di pelataran parkir mobil, jarak sekitar 50 meter masih harus ditempuh lagi untuk sampai di kantin karyawan. Beranjak ke lantai atas, barulah Ayam Penyet Sambel Ijo Pakde Jo terlihat. Baru sekitar pukul 11.30, sekitar 20 pembeli sudah mengantre dengan sabar.
Seorang karyawan sampai berinisiatif untuk mencari meja dan kursi kosong agar bisa duduk bersama kawan-kawannya. Ia ternyata menitip teman yang mengantre untuk mengambilkan ayam dan nasi.
Pemilik kios itu, Parjo (50), yang masih lumayan santai jadi luar biasa sibuk gara-gara konsumen mendadak datang berduyun-duyun. Antrean pun agak tersendat lantaran ia mesti menyiapkan makanan sesuai pesanan, selain nasi dan sajian pendamping yang boleh diambil sesuka mereka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/06/2bc4cff3-7247-4f53-b1ab-ecf12502171c_jpg.jpg)
Sekitar pukul 11.45, sang anak, Arif Maajid (26), ikut melayani pembeli sehingga Parjo bisa ke dapur untuk memasak. Meski antrean sangat panjang, Arif demikian tenang. Ia cekatan menggeprek ayam, menempatkannya di piring, atau mengelap piring, tetapi masih sempat berbincang ramah dengan konsumen.
”Mau paha atau dada? Ke sini tahu dari siapa? Wah, lagi ulang tahun? Selamat, ya,” ucapnya bergantian kepada beberapa pembeli, Rabu (5/2/2025). Ia pun mempersilakan konsumen untuk mengambil sarung tangan plastik. Arif juga tak keberatan untuk sejenak mengantar pesanan ke meja konsumen.
Ayam yang masih disajikan panas-panas tercecap garing di luar, tetapi empuk di dalam. Kulit ayam yang kaya dengan cita rasa umami berpadu racikan garam, gula, bawang putih, dan daun salam. Daging yang terasa sedikit netral bisa disiasati dengan membubuhi asinnya serundeng diselingi selintas manis.
Ayam paling pas jika dicocol sambal hijau. Sementara sambal merah yang tak kalah lezat bolehlah disandingkan dengan lalap seperti kol mentah, daun kemangi, taoge, dan kacang panjang rebus. Kol goreng termasuk favorit konsumen karena gurihnya dengan tekstur yang sangat renyah serupa keripik.
Tahu juga tersedia dengan sekelebat asin yang pas, lembut, sekaligus padat. Sementara tempe bertekstur garing dipotong tipis serupa kepingan. Sajian lain seperti ikan goreng dan chicken katsu. Di kios itu tersaji pula kecap dan garam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/06/c61ad1e1-10a3-4227-ade3-2894a185d4b0_jpg.jpg)
Ayam Penyet Sambel Ijo Pakde Jo buka sejak tahun 2020. Parjo semula bekerja di perusahaan instalasi radar sambil menggeluti bisnis kuliner. Warga Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, itu lalu mengundurkan diri agar fokus untuk berdagang. Awalnya, sekitar 50 porsi makanan terjual setiap hari.
”Sekarang, sehari sekitar 200 porsi. Ayam dipilih soalnya siapa, sih, yang enggak suka. Harganya juga terjangkau,” ujar Arif. Ia dan keluarganya mengakses internet, mencari bacaan, dan meminta saran untuk mengolah ayamnya. Mereka pun meramu bahan-bahan sampai menemukan resep sambal yang paling pas.
Seporsi ayam, ikan, atau chicken katsu dibanderol Rp 20.000. Konsumen bisa menakar porsi nasi, urap, kol goreng, kecap, lalap, dan sambal untuk diambil sendiri. Ayam lebih sedap apabila langsung dilahap. Jika dibungkus, lauk itu tak lagi begitu krispi dan kol gorengnya bakal melempem.
Hingga sekitar pukul 15.00, sebagian masakan mulai ludes meski kios itu sebenarnya masih buka tiga jam lagi. Konsumen masih saja berdatangan. Tak sekadar mengutarakan makanannya yang sudah habis, Arif sampai berkali-kali minta maaf sambil setengah membungkuk.
Kantin karyawan Central Park tak dilengkapi pendingin udara. Seorang konsumen tampak mengipasi tubuhnya. Angin sepoi-sepoi berembus dari ventilasi besar di seberang deretan kios. Pengunjung bisa menikmati panorama sejumlah pencakar langit di sekitarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/06/35c06d88-9828-4ca3-bd0c-2a1df872e275_jpg.jpg)
Uniknya, tak hanya pegawai dan pengunjung Central Park, tetapi juga mereka yang sengaja datang ke mal itu hanya untuk mengantre. Beberapa perempuan paruh baya dengan riasan dan busana modis sedikit celingukan mencari kantin karyawan ketika keluar dari lift di lantai 8.
Ayam Penyet Sambel Ijo bahkan disinggahi ekspatriat. Warga Irak, ia hanya menyebut namanya Kamal (45), selalu singgah di kios tersebut setiap selesai fitnes di Central Park. Pegawai perusahaan eksportir obat-obatan ke Arab Saudi itu memesan nasi dengan lauk paha atas dan bawah.
”Enak, ya. Empuk. Enggak terlalu asin, tapi pas. Masakannya juga selalu hangat. Kalau dingin, kan, kurang mantap,” ucapnya sambil tersenyum. Seraya bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia yang patah-patah, ia mengungkapkan kesukaannya menyantap sambal merah dan hijau.
”Sambal merah enak, tapi saya lebih suka yang hijau. Tempe dan tahunya gurih. Bumbu-bumbunya juga pas,” ujar Kamal yang membayar Rp 38.000. Ia memandang harga itu pantas, lebih-lebih jika dibandingkan bersantap di rumah makan yang bisa menghabiskan biaya dua kali lipatnya.
”Saya fitnes empat kali seminggu. Habis olahraga, selalu makan (di Ayam Penyet Sambel Ijo Pakde Jo). Saya pernah makan ikannya, tapi lebih suka ayam,” ucapnya. Kamal senang bisa menambah hidangan pendamping. Ia diberi tahu teman fitnesnya mengenai kios itu, kira-kira dua bulan lalu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/06/106f2408-8313-480d-aeab-5cbe5d214ba1_jpg.jpg)
Rifki (30), karyawan toko arloji di Central Park, rela berdiri hampir 20 menit hingga membawa seporsi nasi dan paha ayam. Ia tak ingat saat pertama kali mencoba hidangan itu, tetapi bukan baru-baru ini saja antrean di depan kios tersebut mengular.
”Waktu masih awal saya datang, pembelinya juga sudah ramai. Istimewanya buat saya, sambal yang enak. Selalu konsisten,” tuturnya. Rifki hendak makan ketika jam istirahat tiba, Sabtu (8/2/2025) sekitar pukul 14.00, sehingga sempat waswas kehabisan makanan. Ia beruntung masih kebagian ayam.
Maklum, setiap akhir pekan, Ayam Penyet Sambel Ijo Pakde Jo biasanya lebih ramai. Warga Ciledug, Tangerang, Banten, itu pun kagum dengan keramahan Arif. ”Orangnya juga gesit. Kalau cemberut, pembeli, kan, jadi malas,” kata Uci (31), rekan setoko Rifki yang makan bersamanya.
Warga Pamulang, Tangerang Selatan, tersebut sepakat jika harga yang tercantum dalam menu Ayam Penyet Sambel Ijo Pakde Jo sepadan dengan rasa masakannya. ”Masih lebih nyaman juga, kan, daripada makan di pinggir jalan yang lebih panas,” ujarnya.
Penulis:
Dwi Bayu RadiusEditor:
Dahono Fitrianto