Mie Banglades Agam Paloh, Cita Rasa Orisinalitas Pidie

Kedai, gerobak, hingga rumah makan yang menghidangkan mi bangladesh perlahan tapi pasti telah menyelusup mulai dari jalan raya sampai sudut-sudut kota metropolitan.

31 Jan 2025 17:00 WIB · Gaya Hidup

Oleh Dwi Bayu Radius

Mie Banglades Agam Paloh menyuguhkan hidangan yang tengah digandrungi tua muda. Pengunjung memfavoritkan mi bangladesh dan teh tarik di kedai yang buka hingga tengah malam itu. Bermula dari Sumatera Utara yang lantas menyebar hingga Jakarta, usaha kecil menengah tersebut menjelma sebagai waralaba.

Kedai itu luas dengan meja dan kursi yang tertata di ruang semiterbuka. Rangkaian lampu bohlam memancarkan pendar kekuningan dengan keestetikan yang mengiringi kenikmatan menyantap aneka hidangan. Jika ingin lebih nyaman, konsumen bisa menempati ruang berpendingin udara.

Pengunjung Mie Banglades Agam Paloh yang terletak di Jalan Ciledug Raya, Jakarta, tersebut asyik bersantap. Setiap akhir pekan, para pemusik rutin beraksi dinaungi tenda kecil di pinggir pelataran parkir yang bisa menampung beberapa mobil, selain tentunya sepeda motor.

Sesuai nama kedai itu, kebanyakan pengunjung jelas menikmati hidangan andalannya, mi bangladesh. Sajian lainnya berupa mi bang paloh, roti canai, nasi goreng, jus, dan kopi sanger. Sementara teh tarik menjadi penawar dahaga paling laris. Mi bangladesh memang sedang disukai masyarakat.

Kedai, gerobak, hingga rumah makan yang menyajikan santapan tersebut perlahan tapi pasti telah menyelusup mulai dari jalan raya sampai sudut-sudut kota metropolitan. Tak sedikit pula warkop yang ikut mencantumkan masakan itu dalam menunya.

Mi banglades yang termasuk menu Mie Banglades Agam Paloh Jalan Ciledug Raya, Jakarta.

Pemilik Mie Banglades Agam Paloh Jalan Ciledug Raya, Melly Marlina, tak ketinggalan mengamati fenomena maraknya mi bangladesh. ”Lagi viral. Banyak juga yang FOMO (fear of missing out atau takut ketinggalan), tapi paling penting pastilah rasanya,” ucapnya, Rabu (22/1/2025).

Kedai tersebut bermula ketika Melly melihat bangunan kosong di seberang rumahnya. Ia sedang iseng saja berjalan-jalan dengan kakaknya, lalu tebersit gagasan untuk memulai usaha kuliner.

”Sampai rumah kepikiran terus. Kebetulan, kakak ipar saya dari Medan (Sumatera Utara). Katanya, banyak orang doyan mi bangladesh,” ujarnya. Keesokan harinya, Melly mencatat nomor kontak pemilik bangunan itu untuk menyewanya. Ia pun menyurvei makanan yang sedang menjadi buah bibir.

Beberapa juru masak menyiapkan pesanan konsumen di Mie Banglades Agam Paloh Jalan Ciledug Raya, Jakarta, Rabu (22/1/2025).

Soal selera, ia ternyata berjodoh dengan Teuku Ivan Paloh. Melly mengontak pendiri waralaba Mie Banglades Agam Paloh tersebut lewat media sosial (medsos). Setelah berkomunikasi melalui ponsel, mereka sepakat untuk bekerja sama hingga kedai Melly dibuka pada September 2024.

Porsi jumbo

”Medsosnya ada promosi juga. Ivan kasih tester. Saya coba, cocok. Di Jakarta, sudah banyak mi bangladesh. Rasanya beda-beda, tapi tetap ramai,” tuturnya.

Pada hari kerja, Mie Banglades Agam Paloh Jalan Ciledug Raya buka pada pukul 10.00-01.00. ”Paling banyak konsumen pas akhir pekan. Buka jam 11.00-02.00. Mi bangladesh saja yang terjual sekitar 120 porsi per hari,” katanya.

Harga mi bangladesh mulai Rp 18.000 per porsi. Pilihan lain dengan tambahan cumi, daging, atau udang bisa dinikmati dengan harga Rp 30.000.

Mi bangladesh digenangi kuah pekat dengan taburan bawang goreng, telur, dan sawi. Porsi hidangan itu setara mi instan. Tak heran, sebagian pelanggan memesan mi bangladesh jumbo lantaran belum kenyang jika hanya menandaskan porsi biasa.

”Waktu pertama buka saja sudah ramai, padahal saya enggak punya basic (dasar) kuliner sama sekali. Kakak ipar juga kerja di bank,” ucap Melly. Ia mengecap stabilnya kunjungan konsumen yang kerap memesan ruang berpendingin udara untuk arisan, pembubaran panitia, hingga pertemuan pegawai kelurahan.

Quote

Lagi viral. Banyak juga yang FOMO (fear of missing out atau takut ketinggalan), tapi paling penting pastilah rasanya.

”Besok, sudah ada yang order. Kalau hari kerja, ada saja yang pesan. Kelihatan juga kalau ada yang balik lagi. Pembeli yang pernah datang terus cocok sama rasanya,” ujarnya. Melly meyakini kedainya yang berada di pinggir jalan besar dengan lalu lintas padat turut mendongkrak jumlah pelanggan tetap.

Warkop biasanya tak menyediakan ruangan berpendingin udara. Namun, Melly dengan jeli menangkap fenomena warga Jakarta yang acap kali ogah dirongrong gerah. ”Kalau enggak, ngajak teman-teman saya saja susah. Makanya, saya sediakan ruang pakai AC yang berkapasitas 35 orang,” katanya.

Mengajak nenek

Kedai tersebut bisa menampung lebih dari 100 orang. Sebagian besar konsumen bukanlah anak muda, melainkan keluarga. ”Saya kirain, kebanyakan dari mereka yang datang mau nongkrong. Ternyata, pengunjung yang mengajak anak, kakek, sampai neneknya,” katanya.

Pengunjung menyantap mi banglades yang termasuk menu Mie Banglades Agam Paloh Jalan Ciledug Raya, Jakarta, Rabu (22/1/2025).

Di ruang berpendingin udara juga tersedia karaoke tanpa dipungut bayaran. Melly pun optimistis bisa bersaing meski penjual mi bangladesh lain bertebaran di sekitar kedainya hingga Tangerang, Banten. Terlebih, mi instan yang menjadi basis hidangan itu digemari segala usia.

”Harga mi bangladesh terjangkau dan porsinya termasuk ringan. Kadang, orang sudah makan berat, dikasih mi masih dimakan,” ucapnya sambil tertawa. Kekuatan rempah-rempah yang diramu lewat kuah lekoh selalu menggiurkan siapa pun. Ia awalnya mengira mi tersebut berasal dari Bangladesh.

Ivan mengemukakan asal muasal sebutan untuk mi itu. Ia sudah menikmati masakan tersebut sejak SMP di Warkop Elisabeth, Medan. Adapun bangladesh merupakan singkatan dari Bang Abdullah dari Delima, Sigli, di Aceh. Ivan punya versi sendiri lantaran kakeknya juga bernama Abdullah.

Ia pun berkreasi dengan orisinalitas cita rasa asal Pidie, Aceh, sekaligus jenamanya. Kepanjangan merek kreasi Ivan adalah Bang Abdullah dari Pidie Sigli. ”Lengkapnya, kan, Mie Banglades Agam Paloh. Agam artinya anak laki-laki. Paloh nama daerah kelahiran kakek saya,” ujarnya.

Ivan belum pernah bertemu Abdullah yang menjadi cikal bakal nama mi bangladesh, tetapi ia pernah mengobrol dengan cucunya. ”Mungkin juga ia dulu juru masak. Kalau saya bikin usaha kuliner karena ibu jualan mi Aceh dari tahun 2000. Kakek saya juga, tapi sop kambing, tahun 1970-an,” tuturnya.

Waralaba besutan Ivan lebih dulu merambahi Sumut, antara lain Medan, Kualanamu, dan Asahan. Ia sudah membuka enam cabang dengan jumlah tenaga kerja yang diserap sekitar 50 orang. Di Kualanamu, pekerja yang direkrut bisa mencapai 28 orang karena buka 24 jam.

Mie Banglades Agam Paloh didirikan pada tahun 2022. Ivan kepincut makanan itu lantaran rasanya yang lantas diracik dengan kreasi sendiri. ”Bumbu-bumbu sudah terstandardisasi. Makanya, rasa selalu stabil. Betul-betul ditakar. Servis dan promosi juga harus dinomorsatukan,” katanya.

Quote

Lengkapnya, kan, Mie Banglades Agam Paloh. Agam artinya anak laki-laki. Paloh nama daerah kelahiran kakek saya.

Pengunjung Mie Banglades Agam Paloh Jalan Ciledug Raya, D Wahyundarta (47), mengatakan, ia pertama kali mencicipi hidangan tersebut saat mengunjungi Medan, tahun 2017. ”Terus, waktu tugas, tahun 2019. Rasanya enak banget sampai nagih. Makanya, saya pengin coba lagi di Jakarta,” katanya.

Sedapnya…, sampai ke hati.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dwi Bayu Radius
 | 

Editor:

Dwi As Setianingsih