Jalan Neraka Revolusi Xabi Alonso di Real Madrid

Alonso menerapkan kebijakan ekstrem yang membuat ruang ganti Real Madrid terbelah. Pendekatan melatihnya begitu bertolak belakang dengan Carlo Ancelotti.

30 Okt 2025 15:57 WIB · Olahraga

AFP/Oscar DEL POZO

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

Di balik performa meyakinkan Real Madrid pada awal musim, ada suasana ruang ganti yang terbelah. Semenjak naik menggantikan Carlo Ancelotti, Xabi Alonso menerapkan pendekatan melatih yang jauh berbeda. Untuk klub raksasa seperti Real, Alonso tergolong cukup berani menempuh kebijakan yang membuat sejumlah pemain bintang tidak nyaman.

Sejak dulu Real adalah klub yang amat mengedepankan pemain bintang. Kebijakan Presiden Florentino Perez dengan membentuk ”Los Galacticos”, skuad yang berisikan gugusan bintang-bintang, hingga dua jilid pada masa lalu adalah buktinya. Genetika Real memang lekat dengan pemain megabintang. Kecenderungan yang berlaku adalah sangat sulit bagi pemain muda untuk mendapat tempat lantaran semua sudah diberikan kepada para megabintang.

Akan tetapi, Alonso mengambil pendekatan berbeda. Sejak pertama kali tiba, dia sudah menekankan tidak akan memberi perlakuan khusus kepada pemain tertentu. Pesan pertamanya saat melatih Real ialah para pemain harus berlari dan bekerja lebih keras saat lawan menguasai bola. Tanpa melakukan perintah itu, tidak seorang pemain pun akan mendapat jaminan bermain.

Itu berbeda dengan pendahulunya yang seakan melegitimasi kekuasaan para pemain bintang. Hal paling mudah dicermati ialah dengan banyaknya menit bermain Arda Guler musim ini. Pemain muda Turki itu sebelumnya sangat sulit mendapatkan menit bermain ketika Ancelotti memegang tim. Selain itu, Alonso merekrut sejumlah pemain muda berbakat, yakni Dean Huijsen (20), Alvaro Carreras (22), dan Franco Mastantuono (18), untuk melengkapi timnya.

Kesukaan Alonso pada pemain muda diiringi dengan keberaniannya menggusur pemain bintang atau senior yang sebelumnya selalu mendapat jaminan menit bermain. Salah satunya adalah Vinicius Junior, pemain sayap kiri andalan Real. Hubungannya dengan Alonso memburuk setelah ditarik keluar pada pertengahan babak kedua El Clasico. Vini tertangkap kamera menggerutu, kesal karena harus keluar lebih awal.

Penyerang Real Madrid Vinicius Junior berjalan melewati Pelatih Xabi Alonso saat laga melawan Barcelona di Madrid, 26 Oktober 2025.

”Selalu saya. Saya akan meninggalkan tim, lebih baik saya pergi. Saya akan pergi,” ucapnya sembari melangkah menuju ruang ganti.

Belakangan, Vini telah menyampaikan permintaan maaf atas tindakannya tersebut. Dalam permintaan maafnya, Vini menyebut sejumlah pihak kecuali Alonso. Hal ini pun memperkuat spekulasi yang menyebut hubungan antara mereka sedang tidak baik-baik saja. Saat Vini menggerutu karena ditarik keluar, jangankan menawarkan jabat tangan, Alonso bahkan tidak sedikitpun menatap ke arah Vini yang marah.

Mengutamakan tim

Insiden Vini menegaskan bahwa Alonso lebih mengutamakan soliditas tim dibandingkan harus memenuhi ego seluas samudra pemain bintang. Saat konferensi pers pascalaga pun, ia tetap memuji kontribusi Vini di El Clasiso. Pergantian pemain adalah murni kewenangan pelatih berdasarkan kebutuhan tim dan Alonso berpegang teguh pada prinsip itu.

Keputusan mengganti Vini yang berujung polemik bukan satu-satunya buah dari revolusi Alonso. Menurut laporan The Athletic, Alonso turut membuat seperangkat aturan baru yang menekankan pada peningkatan disiplin, pengendalian jadwal latihan, dan dedikasi. Pada sesi latihan, Alonso juga membatasi akses bagi orang luar. Sebelumnya, anggota keluarga, agen, dan bahkan teman pemain biasa hadir saat sesi latihan.

Hal yang sama berlaku untuk akses ke ruang ganti selama pertandingan. Alonso telah mengurangi jumlah orang di sekitar tim sebelum pertandingan dan saat jeda istirahat agar tercipta privasi dan konsentrasi yang lebih baik. Namun, setelah pertandingan usai, pintu-pintu terbuka untuk semua anggota staf.

Pelatih Real Madrid Xabi Alonso memberikan instruksi kepada para pemainnya saat laga lawan Barcelona di Madrid, 26 Oktober 2025.

Secara taktikal, Alonso berkiblat kepada Pep Guardiola yang sedemikian detail mengatur posisi serta peran setiap pemain. Ini berbeda dengan Ancelotti yang begitu memberi kebebasan kepada pemain untuk berkreasi dengan naluri mereka masing-masing.

”Beberapa dari mereka telah menjuarai turnamen begitu banyak tanpa melakukan hal-hal seperti ini. Maka, ketika hal-hal ini dipaksakan kepada mereka, mereka mengeluh,” kata salah satu sumber The Athletic.

Pangkalnya, ruang ganti Real terbelah antara yang mendukung dan menyesalkan revolusi Alonso. Perubahan memang tidak akan selalu bisa diterima semua orang. Namun, diakui atau tidak, pendekatan ini membuat Real tampil lebih solid. Mereka selalu menang dalam tiga laga beruntun Liga Champions Eropa. Di kancah domestik, Real memimpin klasemen sementara dengan unggul lima poin atas rival abadi, Barcelona.

Di samping keluhan, tidak sedikit yang memuji pilihan jalan revolusi Alonso. Fleksibilitasnya terhadap taktik dan rutin merotasi pemain untuk memastikan keterlibatan semua merupakan satu dari sekian karakteristik yang disukai dari sosok Alonso.

Selama Real berada pada jalur juara, rasa-rasanya Alonso tidak akan terlalu memedulikan riak-riak akibat revolusi yang dia tempuh.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra