PIALA DUNIA 2026

Jam Terbang, Kunci Kroasia Mengalahkan Tekanan

Kroasia adalah tim yang dibentuk dari kumpulan pengalaman. Sehebat apa pun tekanan yang mendera, mereka akan senantiasa menemukan jalan keluar.

24 Jun 2026 11:17 WIB · Olahraga

Chris Young/The Canadian Press v

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

TORONTO, RABU — Pengalaman memang tidak akan pernah berbohong. Setidaknya itulah yang diperlihatkan Kroasia untuk menjaga harapan ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 tetap hidup. Tim ”Vatreni” sukses mengalahkan Panama, 1-0, dalam laga hidup-mati di Stadion Toronto, Kanada, Rabu (24/6/2026) pagi WIB. Kemenangan itu diraih tidak dengan mudah, melainkan dalam situasi penuh tekanan.

Baik Kroasia maupun Panama sama-sama membutuhkan kemenangan setelah kalah pada laga pertama penyisihan Grup L. Tuntutan harus menang di ajang sebesar Piala Dunia bukanlah hal yang mudah untuk dipenuhi. Apalagi Panama juga membawa motivasi serupa, bicara lebih jauh di pesta sepak bola kali ini.

Kehormatan Kroasia pun dipertaruhkan pada laga ini. Jika meraih hasil imbang atau bahkan kalah, peluang menuju fase gugur akan jadi sangat kecil. Tersingkir di fase penyisihan grup sudah pasti akan menjadi aib bagi Kroasia yang minimal selalu berhasil menembus semifinal dalam dua edisi terakhir Piala Dunia.

TOPSHOT - A Croatian fan waves a national flag during the 2026 World Cup Group L football match between Panama and Croatia at the Toronto Stadium in Toronto on June 23, 2026.  (Photo by Cole Burston / AFP)

Oleh karena itu, para pemain Kroasia melangkah ke lapangan dengan beban ekspektasi yang teramat besar dari pendukungnya.

”Mereka (para pemain Kroasia) benar-benar di bawah tekanan besar setiap bola berada dalam penguasaan lawan, dan banyak bola lainnya juga yang benar-benar menghancurkan kami. Kami sempat tidak berhasil mengatasi hal ini pada awalnya. Itulah mengapa saya sedikit marah dan bereaksi terhadap hal ini (di ruang ganti),” kata Pelatih Kroasia Zlatko Dalic.

Jika bukan karena pengalaman, Kroasia sudah pasti akan kerepotan meladeni pertahanan solid Panama yang tampil dalam formasi 5-4-1. Tidak hanya piawai dalam membendung serangan, para pemain Panama juga beberapa kali mengancam gawang Dominik Livakovic.

Salah satu peluang terbaik Panama berasal dari sundulan Jose Luis Rodriguez. Beruntung ancaman itu tidak berbuah gol setelah jari Livakovic sedikit mengenai bola sehingga hanya membentur mistar gawang.

Croatia's midfielder #10 Luka Modric puts the captain armband to Croatia's forward #14 Ivan Perisic as he leaves the pitch after being substituted during the 2026 World Cup Group L football match between Panama and Croatia at the Toronto Stadium in Toronto on June 23, 2026.  (Photo by Cole Burston / AFP)

Namun, tim Kroasia ini terbentuk dari pemain-pemain veteran dengan segudang pengalaman. Nama-nama seperti Luka Modric, Ivan Perisic, Ante Budimir, dan Mario Pasalic memang sudah melewati usia emas pesepak bola. Namun, pengalaman mereka sangat berguna di tengah tekanan dan situasi kepanikan melanda.

Panama sangat terlatih menghalau serangan-serangan setiap lawannya. Mereka piawai memainkan pola bertahan dari penjagaan zona ke individu sesuai kebutuhan. Lini belakang Panama yang dikomandoi Jose Cordoba juga amat disiplin dalam organisasi pertahanan.

Intuisi Dalic

Tim tanpa jam terbang tinggi hampir dipastikan akan frustrasi menghadapi pertahanan berlapis Panama. Apalagi, waktu yang tersisa semakin menipis. Kroasia gagal mencetak gol setelah babak pertama usai. Segalanya dipertaruhkan pada 45 menit babak kedua.

Sebuah pergantian penting dilakukan Dalic pada babak kedua. Ia mengutus Budimir yang berposisi penyerang untuk menggantikan Petar Musa yang kesulitan berkembang pada babak pertama.

Intuisi Dalic membimbingnya untuk memasukkan Budimir. Di klubnya, Osasuna, Budimir kerap mencetak gol-gol krusial yang pada akhirnya menentukan kemenangan tim.

Croatia's Mario Pasalic, left, and Panama's Yoel Barcenas (11) vie for the ball during the second half of a World Cup Group L soccer match, in Toronto, on Tuesday, June 23, 2026. (Chris Young/The Canadian Press via AP)

Firasat Dalic terbukti tepat. Budimir menjawab kepercayaan itu lewat gol tap in pada menit ke-54 memanfaatkan umpan silang terukur Josip Stanisic.

Gol tap in dari jarak dekat itu sudah menjadi ciri khas Budimir di Osasuna. Berusia 34 tahun, Budimir tidak lagi mengandalkan eksplosivitas dalam menjebol gawang lawan. Ia kini tetap jadi penyerang produktif dengan mengandalkan insting penempatan posisi yang tepat.

”Mereka (hanya) punya satu peluang emas dan berhasil mencetak gol. Sejujurnya, mereka tidak menciptakan terlalu banyak ancaman bagi kami. Saya rasa kami bermain berani dalam pertandingan ini dan sekali lagi, saya bangga dengan para pemain,” kata Pelatih Panama Thomas Christiansen.

Modric 200 laga

Kemenangan ini sekaligus menjadi kado manis bagi Modric yang mencatatkan laga ke-200 bersama Kroasia. Hanya ada empat pemain yang pernah mencatat hingga 200 penampilan bersama tim nasional. Di atas Modric ada Cristiano Ronaldo (230), Lionel Messi (201), dan Bader al-Mutawa dari Kuwait (202).

Modric mendapat sambutan meriah setelah pertandingan usai. Para pemain Kroasia mengelilingi stadion untuk memberikan hormat kepada ribuan pendukung yang hadir.

Untuk merayakan pencapaian bersejarah Modric, para pemain Kroasia mengenakan kaus bertuliskan ”Infinite Legacy” atau warisan tanpa batas. Tindakan itu sekaligus untuk mengapresiasi apa yang telah Modric persembahkan untuk timnas Kroasia.

Croatia's Luka Modric (10) celebrates after the World Cup Group L soccer match between Panama and Croatia in Toronto, Tuesday, June 23, 2026. (AP Photo/Olivia White)

Di usia yang sudah 40 tahun, Modric menjaga pergerakannya dengan tidak banyak berlari. Dia berusaha mengatur tempo melalui umpan-umpan akurat serta visi bermainnya.

Lantaran sudah tidak mungkin banyak berlari, Modric menyenangi laga bertempo lambat untuk memberinya waktu mengatur permainan Kroasia. Oleh sebab itu, para pemain Panama berusaha menaikkan intensitas permainan agar tidak memberikan ruang bagi Modric untuk mendikte laga sesuka hatinya.

Croatia's Luka Modric, left, heads the ball ahead of Panama's Jose Fajardo (17) during the first half of a World Cup Group L soccer match, in Toronto, on Tuesday, June 23, 2026. (Chris Young/The Canadian Press via AP)

”Hari ini, di usianya yang ke-40, ia bermain sangat baik. Ia memimpin tim nasional menuju kemenangan sebenarnya. Ia akan tercatat dalam sejarah sebagai pemain (Kroasia) terbaik sepanjang masa,” ucap Dalic mengomentari performa Modric.

Tambahan tiga poin memperbesar kans Kroasia melaju ke 32 besar. Untuk sementara, Kroasia kini menempati peringkat ketiga Grup L dengan tiga poin di bawah Inggris dan Ghana yang sama-sama mengoleksi 4 poin.

Laga terakhir penyisihan grup kontra Ghana akan jadi penentu nasib Kroasia. Jika berhasil mengalahkan Ghana, Kroasia sudah pasti akan lolos secara otomatis. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar