Dengan performa terburuk di era Pep Guardiola, Manchester City berpeluang gagal menjaga rekor nirkalah kontra Liverpool.
22 Feb 2025 19:22 WIB · Olahraga
MANCHESTER, SABTU — Manchester City sudah mustahil mempertahankan gelar Liga Inggris, tetapi mereka tetap tidak ingin kalah dari Liverpool pada duel di Stadion Etihad, Minggu (23/2/2025) pukul 23.30 WIB. ”The Citizens” setidaknya bisa mempertahankan catatan nirkalah dari Liverpool dalam satu dekade terakhir di liga demi harga diri.
Sejak Pep Guardiola menangani City, Liverpool tidak pernah menang di Etihad. Dalam delapan duel langsung antara Guardiola dan eks Manajer Liverpool Juergen Klopp, City hanya tiga kali gagal meraih poin penuh karena laga berakhir imbang.
Jadi, hanya rekor positif atas Liverpool di Etihad yang bisa menjadi pelipur lara bagi The Citizens di tengah perjalanan musim yang penuh fluktuasi. Dalam persaingan di sisa musim 2024-2025, City maksimal hanya akan bersaingan mempertahankan zona empat besar.
Posisi paling realistis untuk menutup musim ini adalah berada di peringkat ketiga. City sudah tak berdaya menyaingi Arsenal di posisi kedua, apalagi mengejar ketertinggalan 17 poin dari Liverpool yang duduki puncak klasemen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/12/22fa0490a914ccb12547d4fb47c1ccde-wires_photo_34_.jpg)
”Pertandingan akan berjalan berbeda, kekuatan musuh sudah di level berbeda. Kami akan mencoba dan fokus selama pertandingan. Tujuan kami adalah untuk lolos ke Liga Champions musim depan,” ujar Guardiola dalam konferensi pers jelang kontra Liverpool, Jumat (21/2/2025), dilansir laman klub.
Setelah menjalani 25 pertandingan, City menjalani periode kampanye kompetisi yang tidak pernah terbayangkan bersama Guardiola. Catatan kolektif 13 kekalahan di seluruh ajang musim ini sudah menjadi jumlah hasil negatif terbanyak dalam karier kepelatihan juru taktik asal Spanyol untuk satu musim.
Selain itu, City juga mengumpulkan rerata poin terendah di era Guardiola. Posisi terburuk The Citizens di bawah kendala Guardiola tercipta pada musim perdananya, 2016-2017.
Kala itu, City mengemas 78 poin dari 38 pertandingan sehingga duduk di peringkat ketiga. Koleksi rata-rata poin City ialah 2,05 poin per laga.
Adapun pada musim ini, City hanya mengemas 1,76 pertandingan per laga. Apabila rerata poin itu tidak meningkat di sisa 13 pertandingan Liga Inggris, maka City paling maksimal bisa mengumpulkan 67 poin pada akhir musim ini.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/10/ec6b19e0-1696-408f-b322-937bc4e4e105_jpg.jpg)
Itu menandakan ada penurunan 27 poin dibandingkan koleksi poin akhit City ketika meraih trofi Liga Inggris musim lalu. Bagi Guardiola, tim terburuk yang diasuhnya adalah City edisi 2016-2017 merujuk perolehan poin akhir. Maka, catatan buruk itu berpotensi besar diperbarui pada Mei mendatang.
Selain urusan poin, City juga mengalami penurunan produktivitas yang amat drastis. Baru mencetak 52 gol dari 25 pertandingan menandakan Erling Haaland dan kawan-kawan hanya bisa hasilkan 2,08 gol per laga.
Dengan rata-rata gol itu, City berpeluang menutup musim ini dengan koleksi di bawah 80 gol. Padahal, sejak menjadi juara pertama kali di era Guardiola pada 2017-2018, City paling sedikit mencetak 83 gol.
Rata-rata gol City musim ini sudah sangat anjlok dengan membandingkan delapan musim terdahulu bersama Guardiola yang catatkan 2,48 gol per laga.
Lini depan City meragukan jelang menyambut Liverpool. Haaland mengalami cedera sehingga tidak bermain pada pertandingan kedua kontra Real Madrid di Stadion Bernabeu, Kamis (20/2/2025). Guardiola juga tidak menurunkan gelandang kreatif, Kevin De Bruyne, akibat pertimbangan taktik. Kondisi itu tentu amat meragukan bagi performa City menghadapi Liverpool.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/07/4ce276aeaad393cb8cdb37b3f041699b-FBL_ENG_LCUP_LIVERPOOL_TOTTENHAM_127303735.jpg)
Tak hanya memburuknya sektor menyerang, City juga tampil buruk dalam bertahan. Catatan 1,4 gol kemasukan per laga menunjukkan rekor kebobolan terburuk City di era Guardiola, bahkan sejak musim 2007-2008 sebelum dana besar dari Timur Tengah masuk ke City.
”Kami sejatinya bermain bagus. Ketika kalah 1-5 melawan Arsenal, kami bermain bagus. Namun, kami hanya mampu bermain selama 60 menit. Di sisa pertandingan kami tidak bermain stabil,” tutur Guardiola terkait performa buruk timnya di musim ini.
Manajer Liverpool Arne Slot bertekad mengakhiri ”kutukan” Liverpool di Etihad selama satu dekade. Kali terakhir ”Si Merah” membawa pulang tiga poin dari markas City di Liga Inggris tercipta pada kunjungan pertama Klopp sebagai pada musim 2015-2016.
Dengan keunggulan performa musim ini, Liverpool memiliki kans lebih besar untuk mengalahkan City. Seandainya mampu menang, maka itu akan menjadi catatan ketiga Liverpool mengalahkan City dalam dua duel pada satu musim kompetisi. Koleksi hasil positif itu pernah dialami Liverpool pada musim 2005-2006 dan 2015-2016.
Meskipun City tidak dalam performa terbaik mereka di era Guardiola, Slot menegaskan anak asuhannya tidak akan mudah meraup poin penuh. Menurut Slot, City sudah membuktikan mereka telah tampil membaik setelah mendatangkan empat pemain baru di bursa transfer musim dingin lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/02/d591c57b500ed9af5e921a084b306fdd-wires_photo_19.jpg)
”Saya telah menyaksikan kekuatan terbaik mereka berangsur kembali. Mereka tetap tim yang luar biasa seperti di era-era Guardiola sebelumnya. Kami harus siap menderita dan bekerja ekstra keras untuk membawa pulang hasil positif,” ujar Slot seperti dikutip BBC.
Liverpool berambisi untuk memutus catatan negatif mereka pada laga tandang selama bulan Februari ini. Dalam empat pertandingan di luar Stadion Anfield, Si Merah hanya menang ketika jumpa Bournemouth, 1 Februari lalu. Tiga gim laga tandang selanjutnya berakhir nirmenang.
Liverpool disingkirkan Plymouth Argyle di Piala FA, lalu ditahan imbang dengan skor identik 2-2 dari kandang Everton dan Aston Villa.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan