CATATAN URBAN

Jane Jacobs dan Mata-mata di Kota Kita

Kota yang hidup lahir dari trotoar yang ramai, interaksi yang hangat, dan rasa aman bagi perempuan, anak-anak, serta warga yang paling rentan sering diabaikan.

29 Mei 2026 13:30 WIB · Kolom

KOMPAS

Oleh Neli Triana

Mei menjadi bulan yang penting jika bicara soal kota dan dinamikanya. Bulan Mei 1916 adalah kelahiran Jane Jacobs, yang kelak menjadi perempuan jurnalis dan aktivis pemikir tentang kota yang humanis. Ia lantang menyuarakan pentingnya kota memahami dan memenuhi kebutuhan kaum rentan yang jumlahnya mendominasi, tetapi suaranya sering tak dihiraukan. Gagasan-gagasannya, yang dibukukan setidaknya sejak awal 1960-an, tetap terasa dekat dengan kegelisahan hari ini. Mei pun menjadi bulan Jacobs.

Ingatan soal Jacobs ini pula yang muncul di suatu malam, seusai beraktivitas di kawasan Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan. Halte CSW-ASEAN, salah satu hub angkutan umum terdekat, menjadi pilihan mengakses bus kota menuju rumah. Lenggang kaki hanya sekitar 20 menit ke halte itu, tetapi jangan harap konsisten mendapatkan trotoar nyaman. Di beberapa potong jalan, remang-remang gelap dan sepi menyergap.

Situasi seperti di atas jamak ditemui di Jakarta dan banyak kota lain. Trotoar terentang sejauh bentang jalan, masih belum menjadi fasilitas publik yang selalu tersedia. Rata-rata baru di jalan-jalan utama ditemukan jalur pejalan kaki berpermukaan rata, benderang dinaungi lampu. Ruas itu diapit aspal lebar dengan kendaraan bermotor berseliweran tancap gas. Di sisi lain, berderet gedung atau rumah berpagar tinggi. Trotoar pun melompong, miskin pengguna, terasa asing.

Jacobs menjadi sedikit perempuan pada masanya yang mencermati bahwa ketersediaan trotoar di perkotaan adalah hal penting. Namun, lebih penting lagi membuat trotoar itu ruang hidup manusia kota.

Jane Jacobs, tangkapan layar dari situs Project for Public Spaces.
Tangkapan layar di situs Jane Jacobs Walk. Ini adalah gerakan komunitas bebas warga kota dari dan di mana saja yang mau berkumpul, berjalan, mengenal, dan berdiskusi tentang kota manusiawi yang terinspirasi oleh Jane Jacobs.

Pengalaman seperti ini dijelaskannya dalam buku The Death and Life of Great American Cities. Ia mencetuskan istilah sidewalk ballet atau pergerakan-pergerakan kecil sehari-hari di trotoar yang saling berkelindan tanpa pernah benar-benar diatur tetapi memunculkan rasa nyaman.

Istilah itu muncul dari pengamatannya di Greenwich Village, New York, Amerika Serikat. Jacobs melihat anak-anak bermain di trotoar, orang dewasa duduk di depan toko, pemilik toko kelontong, salon, dan usaha kecil lainnya hafal wajah-wajah di lingkungannya. Tidak ada satu otoritas tunggal yang mengawasi, tetapi rasa aman hadir dari kebersamaan. Ia menyebut kehadiran ini sebagai ”mata-mata di jalan”. Itulah bagian dari ruang kota ideal yang sayangnya sering dianggap sepele para perencana dan pengelola kota.

Gagasan itu sering dibaca sebagai teori tentang keamanan. Siapa yang paling membutuhkan keberadaan ”mata” tersebut?

Tanpa menyebutkan spesifik, tetapi pengamatan dan uraian Jacobs bisa diinterpretasikan di masa sekarang sebagai kota yang dikelola berbasis pengalaman jender. Perempuan, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya membaca ruang dengan lebih waspada, lebih detail, dan sering kali lebih intuitif. Kota yang baik jelas bukan semata memanjakan mata dengan desain dan bangunan berkelas, melainkan yang selalu dirasakan nyaman melalui kelima indera kita.

Di banyak kota Indonesia, pola seperti itu sudah lama ada. Di Yogyakarta, angkringan membuat sudut-sudut jalan hidup hingga larut malam. Di Makassar, Sulawesi Selatan, kawasan kuliner malam menghadirkan keramaian yang cair. Di Jakarta, warung, tukang gorengan, atau penjaja minuman sering menjadi titik berkumpul yang tidak direncanakan. Di masa kini, kehadiran warung Madura dan minimarket 24 jam di perumahan besar sampai di perkampungan padat telah menambah spot ”hangat” itu.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa kehidupan kota tidak selalu lahir dari desain formal. Kota humanis tumbuh dari kebiasaan, kebutuhan, dan interaksi sehari-hari. Jacobs melihat hal ini sebagai kekuatan, bukan masalah dan tinggal bagaimana pengelola kota bersama warga merangkul potensi itu dalam menata kawasannya. Ia bahkan mengkritik keras perencanaan kota modern yang terlalu mengandalkan zonasi dan pembagian peruntukan kawasan skala besar.

Keberagaman fungsi

Dalam bukunya, Jacobs menolak pemisahan fungsi kota secara kaku. Kawasan hunian, perkantoran, dan perdagangan yang dipisah membuat aktivitas terputus dalam waktu. Jalan menjadi ramai hanya pada jam tertentu lalu kosong pada waktu lain. Ia mendorong keberagaman fungsi agar kehidupan kota berlangsung sepanjang hari.

Gagasan ini terasa relevan di Jakarta. Banyak kawasan perkantoran menjadi sangat sibuk di siang hari lalu berubah lengang cenderung senyap selewat jam kerja. Situasi seperti ini menciptakan jeda yang terasa nyata. Jalan tetap ada, tetapi tidak banyak alasan untuk berada di sana. Ada kerugian ekonomi karena boros pemakaian ruang dan setiap ruang tidak beroperasi maksimal.

Jacobs juga menekankan pentingnya blok pendek dan banyak persimpangan. Ia percaya bahwa kota yang mudah dijelajahi akan lebih hidup. Orang bisa memilih rute, berhenti di berbagai titik, dan menemukan kejutan kecil di sepanjang jalan. Pengalaman berjalan kaki menjadi lebih kaya.

Sebaliknya, kawasan dengan superblok atau pagar panjang lama-lama pasti terasa monoton, seragam. Jalur pejalan kaki terbatas, pilihan rute sedikit, dan interaksi minim. Bagi sebagian orang, kondisi ini membosankan juga menimbulkan rasa tidak aman.

Warung Madura ”Barokah” di kawasan Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (10/11/2022). Sebagian besar warung ini juga buka 24 jam.
Minimarket begitu menjamur di beberapa daerah di Indonesia dengan posisi berdekatan, seperti terlihat di Nanggewer, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Pemandangan seperti ini juga banyak dijumpai di Jabodetabek.

Angkutan umum sebagai nadi

Tentu saja ideal versi Jacobs hanya akan terwujud jika mobilitas kota menggantungkan diri pada angkutan umum, bukan kendaraan bermotor pribadi. Kota yang memprioritaskan kendaraan bermotor pribadi memunculkan sifat individual, ruas-ruas aspal diperluas diperpanjang semata untuk memberi ruang pada mereka atas nama keamanan sendiri maupun ego tiap-tiap orang.

Ruang untuk hunian dan kegiatan ekonomi pun disetir guna memenuhi tuntutan adanya ruang berlebih untuk kendaraan tanpa nyawa itu. Bahkan, keberadaan mobil dan sepeda motor itu sampai tumpah ke badan jalan, trotoar, taman kota, menyerobot ruang manusia yang sebenarnya lebih membutuhkannya untuk tetap menjadi manusiawi.

Pembangunan angkutan umum yang cakupannya luas dengan layanan terjangkau dan berkualitas jelas berkebalikan dampaknya bagi kota. Trotoar menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem angkutan umum, penghubung dari tujuan awal hingga ke tujuan akhir dan sebaliknya.

Perdebatan tentang penataan Jakarta belakangan ini membawa gagasan kota manusiawi, inklusif, ramah tersebut kembali ke permukaan. Upaya menertibkan pedagang kaki lima, merapikan trotoar, dan membangun transportasi publik lebih modern adalah langkah maju. Namun, perubahan ini terkadang dirasakan lebih mementingkan fungsi estetis dan demi tujuan wisata, sepotong-sepotong, tetapi telanjur menggeser ekosistem sosial eksisting.

Pengalaman berjalan kaki pun ikut berubah. Di jalan yang terlalu steril, orang cenderung tidak berlama-lama. Tidak ada alasan untuk berhenti. Interaksi spontan berkurang. Ruang publik sekadar untuk menumpang lewat, bukan tempat tinggal sejenak. Di sisi lain, ada ruang-ruang yang dibiarkan terlalu padat tanpa pengaturan yang juga menghadirkan masalah.

Ingat, di banyak kota dunia, seperti Guangzhou di China, trotoar juga menjadi deretan tempat parkir sepeda dan sepeda motor listrik serta fungsi lain. Di Paris, Perancis, seperti juga di kota seantero Eropa, kursi dan meja kafe banyak ditata hingga ke badan jalur pedestrian. Kedua tatanan itu dibuat sedemikian rupa tanpa mengalahkan hak pejalan kaki. Di Paris, ngopi di kafe pinggir jalan itu justru pengalaman yang tidak boleh dilewatkan untuk dapat menikmati dan mengenal kota-kota itu lebih dekat.

Kembali ke Indonesia, sejumlah kota kini mencoba mencari keseimbangan. Di Solo, Jawa Tengah, penataan pedagang dilakukan dengan pendekatan yang tetap menjaga kedekatan dengan arus pejalan kaki. Di Semarang, Jateng, kawasan kota lama dihidupkan dengan aktivitas ekonomi kecil yang mengundang orang untuk tinggal lebih lama. Di Surabaya, Jawa Timur, penataan kota lama pun memberi ruang pada pejalan kaki.

Di Jakarta sudah cukup banyak kawasan yang ditata relatif baik, memiliki jaringan trotoar dan angkutan umum memadai, serta ada pusat keramaian yang dekat dengan hunian seperti di Cikini, Kemang, juga Blok M. Namun, pengalaman menembus Jalan Sriwijaya sampai ke Halte ASEAN di dekat Blok M menunjukkan masih ada ketimpangan dari gemerlap penataan kawasan yang termasuk salah satu pusat Jakarta itu. Hal serupa terjadi pula di kawasan lain, terlebih di pinggiran atau bukan bagian dari wajah yang ingin diperlihatkan oleh kota ke dunia luar.

Bulan Jacobs kali ini menjadi pengingat bahwa gagasan bisa melampaui zamannya. Kota terus berubah, tetapi kebutuhan akan rasa aman, kebersamaan, dan kehidupan manusiawi yang nyata tidak akan pernah hilang. Memenuhi kebutuhan tersebut seharusnya menjadi patokan pengelola kota, juga kita sebagai warga kota, dalam menata area urban kita.


Kerabat Kerja

Penulis:

Neli Triana
 | 

Editor:

Gesit Ariyanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan