Jangan Ada Lagi Kekerasan di Papua

Kelompok kriminal bersenjata membunuh 11 pendulang emas tradisional di Papua Pegunungan. Kekerasan demi kekerasan di Papua terus terjadi dan menewaskan warga sipil.

14 Apr 2025 07:00 WIB · Opini

Oleh REDAKSI

Kelompok kriminal bersenjata di Papua kembali menebar teror. Mereka membunuh 11 pendulang emas tradisional di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.

Pembunuhan terhadap para pendulang emas tradisional di Papua Pegunungan ini dibenarkan juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom. Dia menyatakan, kelompok Elkius Kobak bertanggung jawab atas pembunuhan ini.

Teror kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua dalam beberapa tahun terakhir menewaskan banyak warga sipil. Pada Mei 2020, KKB menembak dua tenaga kesehatan yang sedang mengantar obat-obatan untuk penanganan pandemi Covid-19 di Distrik Wandai, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Satu orang tewas.

Pada April 2021, KKB membunuh seorang guru SD di Kampung Julukoma, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Sehari kemudian, seorang guru lain di distrik yang sama juga ditembak mati KKB.

Proses evakuasi dua jenazah pendulang emas tradisional yang dibunuh oleh kelompok kriminal bersenjata atau KKB ke Dekai, ibu kota Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Kamis (10/4/2025).

Sepanjang Maret-April 2024, KKB dilaporkan menyerang sopir pengantar galon dan aparatur sipil negara di Dekai, ibu kota Yahukimo, dengan senjata tajam. Akibat serangan ini, dua korban tewas. Dalam rentang waktu yang sama, KKB juga membunuh Timo Kasipmabin (45), Kepala Kampung Modusit, Distrik Serambakon, Kabupaten Pegunungan Bintang.

Pada 21-22 Maret 2025, KKB menyerang warga yang bekerja sebagai guru dan tenaga kesehatan di Distrik Anggruk, Yahukimo, dan menewaskan seorang guru asal Nusa Tenggara Timur, Rosalina Rerek Sogen.

Apabila ditarik dalam garis waktu yang lebih panjang lagi, konflik bersenjata di Papua telah memakan korban jiwa cukup banyak. Tidak seperti wilayah lain di Indonesia, sejarah panjang Papua dari diserahkan Belanda ke Indonesia, diawasi PBB, hingga dilakukan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969, beriringan dengan sejarah separatisme di wilayah tersebut.

Sayangnya, hingga kini persoalan tersebut masih tak kunjung terselesaikan secara tuntas.

Akibatnya, seperti halnya korban konflik di belahan dunia mana pun, mereka yang menjadi korban bukan hanya pihak yang berperang, TNI dan Polri di pihak Indonesia dengan KKB atau TPNPB-OPM di pihak separatis, melainkan juga warga sipil.

Pemeriksaan kesehatan warga sipil selamat dari insiden serangan KKB kepada pendulang emas tradisional di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Jumat (11/4/2025).

Pemerintah Indonesia sudah berupaya mengatasi persoalan Papua dengan berbagai pendekatan, termasuk pendekatan keamanan dan militer.

Penempatan pasukan militer dan polisi non-organik ke Papua terus dilakukan. Akan tetapi, gangguan keamanan di Papua juga terus terjadi. Jika pendekatan militer dan keamanan tak kunjung menyelesaikan persoalan konflik di Papua, sudah saatnya jalan damai lewat dialog yang direncanakan detail dengan semua pihak terkait di Papua dilakukan.

Indonesia berpengalaman menyelesaikan konflik separatis di Aceh lewat jalan damai. Jalan yang sama bisa ditempuh di Papua. Kita tak ingin warga sipil terus menjadi korban tak berkesudahan dari konflik bersenjata di Papua.


Kerabat Kerja

Penulis:

REDAKSI
 | 

Editor:

Billy Khaerudin
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti