Penyiapan talenta unggul Indonesia dalam bidang sains dan teknologi diharapkan tidak mengandalkan sekolah unggulan.
07 Jan 2025 15:09 WIB · Humaniora
JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah menyiapkan 40 SMA unggulan Garuda di sejumlah daerah untuk menghasilkan talenta-talenta unggul di bidang sains dan teknologi. Program ini perlu didukung narasi kuat yang menjelaskan apa sebenarnya tujuan pemerintah dengan sekolah ini. Akan lebih baik pemerintah mendorong kultur sains dan teknologi di semua sekolah Indonesia sebagai sebuah kebangkitan baru.
Sekolah unggulan Garuda tersebut akan menggunakan kurikulum yang berbeda dengan SMA reguler karena para siswanya diseleksi khusus secara nasional dan memiliki kemampuan di atas rata-rata. Sekolah ini juga merupakan pra-universitas sehingga anak-anak ini dapat menjadi talenta unggul berkelas dunia karena nanti mendapatkan pendidikan tinggi ternama di dalam ataupun luar negeri.
Guru besar psikologi dari Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, Widyorini Endang, dihubungi dari Jakarta, Selasa (7/1/2024), mengatakan, mendirikan sekolah khusus untuk mengoptimalkan potensi anak-anak muda bangsa di bidang tertentu, seperti sains dan teknologi, sah-sah saja.
”Asal dalam pendidikannya jangan hanya fokus mengembangkan kemampuan akademik/ kognitif. Anak-anak ini juga harus didukung tumbuh kembang sosial-emosionalnya secara baik. Sebab, mereka akan menghadapi tuntutan prestasi yang tinggi. Pun nanti di dunia kerja, kesuksesan bukan hanya karena kemampuan akademik, tapi juga kualitas karakter dan sosial emosional yang baik,” tutur Widyorini.
Ia menambahkan, prinsip utama dari sekolah ini jangan terbatas hanya agar anak-anak tembus ke perguruan tinggi berkelas dunia. Pendidikan tetap harus memastikan anak-anak yang memiliki kemampuan di atas rata-rata ini dapat berkembang optimal sesuai kemampuan atau bakatnya sehingga mereka dapat mencapai prestasi yang terbaik, termasuk di tingkat dunia. Dengan demikian, mereka dapat berkontribusi maksimal di bidang yang diharapkan, terutama dalam sains dan teknologi.
Sebelumnya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Satryo Soemantri Brodjonegoro mengatakan, sekolah unggulan Garuda masuk dalam program 100 hari Kemendiktisaintek. Rancangan instruksi dan peraturan presiden terkait sekolah unggulan ini sedang digodok.
Satryo menyampaikan, sekolah unggulan Garuda ada yang dibangun baru dan ada yang didirikan dengan mengalihkan status sekolah yang sudah ada. Sekolah yang baru akan dibangun antara lain di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Bangka Belitung, dan Ibu Kota Nusantara. Targetnya, 40 SMA unggulan Garuda didirikan Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi dalam lima tahun ke depan.
Menurut Satryo, secara prinsip, SMA Garuda berada di atas rata-rata dan merupakan pra-universitas. ”Mengenai pemilihan siswa dan sebagainya sudah ada mekanismenya. Yang pasti akan memilih calon-calon yang terbaik dari banyak wilayah di Indonesia. Jadi, tidak eksklusif, tapi inklusif. Ada dari wilayah Indonesia, semuanya terwakili dan dari kelompok ekonomi juga terwakili,” katanya.
Widyorini mengingatkan agar sekolah unggulan ini memiliki tim dan standar yang jelas dalam merekrut calon siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Selain kemampuan akademik, seperti IQ di kisaran 120 ke atas, kondisi sosial emosional anak juga harus jadi pertimbangan. Anak-anak memang harus punya portofolio prestasi yang baik di bidang sains dan teknologi sehingga mereka mampu mengoptimalkan potensi dirinya.
”Tim yang mencari atau merekrut siswa harus jujur dan benar, tidak ada ’titipan’ atau kongkalingkong. Kondisi setiap anak harus dipahami betul dari kemampuannya, kepribadiannya, hingga bakat lain yang ada dalam diri siswa sehingga pendidik mampu mengembangkan potensi dan kreativitas tiap siswa,” ujarnya.
Menurut dia, sebenarnya potensi dan bakat anak-anak Indonesia yang beragam juga dapat dikembangkan lewat sekolah reguler. Kondisi di mana anak-anak berkemampuan di atas rata-rata berbaur dengan siswa reguler juga dibutuhkan untuk mendukung kepribadian mereka berkembang dalam dunia yang inklusif.
Sebenarnya potensi dan bakat anak-anak Indonesia yang beragam juga dapat dikembangkan lewat sekolah reguler.
Secara terpisah, Co-founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Novi Poespita Candra menuturkan, boleh-boleh saja pemerintah punya agenda membangun sekolah unggulan Garuda untuk menyeleksi anak anak pilihan yang bertalenta sains dan teknologi di Indonesia. Namun, agenda ini perlu dilengkapi narasi kuat mengenai apa sebenarnya tujuan kehadiran sekolah ini dalam konteks kebangsaan.
Novi yang juga psikolog dari Universitas Gadjah Mada ini mengatakan, jika pemerintah mendirikan sekolah unggulan tanpa narasi yang kuat, hal itu hanya akan menciptakan suasana kompetisi pada bangsa ini. ”Secara suasana batin, pasti negara akan memberikan privilege atau keistimewaan lebih pada sekolah ini sampai mereka nanti lulus. Yang artinya, tetap ini dapat terbaca pembedaan. Mengapa kultur saintek tidak dibangun di semua sekolah Indonesia sebagai sebuah kebangkitan baru, misalnya,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/25/feb696a5-7677-417e-b050-2eceba486966_png.png)
Dampak negatif lain, muncul ukuran baru yang ingin dicapai para orangtua Indonesia sebagai bentuk kebanggan, yakni capaian kesuksesan belajar yang mungkin saja bukan harapan anak, melainkan ambisi orangtua karena terasa hebat jika anaknya bisa masuk sekolah unggulan. ”Jangan sampai juga menambah kesenjangan ketika yang mampu masuk di sekolah ini biasanya dari keluarga menengah ke atas yang punya akses dan berbagai cara dalam meningkatkan kapasitas belajar,” kata Novi.
Ia menambahkan, dalam konteks Indonesia yang memiliki kekayaan beragam, sekolah-sekolah yang dianggap unggul menjadi sangat linier, yakni unggul dalam sains dan teknologi. Padahal, bisa jadi sekolah unggulan seni atau sekolah unggulan olahraga bisa dibangun secara bersamaan agar muncul keunggulan yang beragam pada bangsa ini.
Dalam menciptakan sumber daya manusia unggul, lanjutnya, pendidikan dengan pendekatan holistik menjadi keharusan, apalagi dalam era kecerdasan buatan. Anak-anak justru harus banyak belajar dengan cara berinteraksi dengan manusia, berpikir secara filosofis serta fundamental, juga bertindak dengan menjunjung etika dan moral.
”Maka, pendidikan holistik yang menciptakan manusia utuh memang tidak boleh ditawar. Kita harus banyak menciptakan manusia, bukan ’orang’ yang hanya pintar akademik,” ujar Novi.
Konsep bahwa anak-anak unggulan ini akan berdampak pada pembangunan bangsa katanya, tentu masih dipertanyakan. Hal ini terlihat dari banyak pemenang olimpiade sains dan teknologi tingkat dunia tidak mampu dikelola oleh ekosistem di Indonesia. Mereka akan menjadi manusia idle atau malah diambil bangsa lain setelah bagus.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/02/03/938f1ff9-3bf9-46a2-adf4-1014c84ce04a_jpg.jpg)
Sementara itu, aktivis pendidikan Tamansiswa, Darmaningtyas, mengingatkan, pemerintah pernah mendesain sekolah unggulan di tiap daerah lewat program rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI). Namun, program RSBI ini mendapat banyak kritik. Bahkan, sejumlah aktivis pendidikan mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi (MK) karena baik pemerintah maupun pemerintah daerah terlalu fokus memperhatikan RSBI dengan mengabaikan sekolah-sekolah reguler. RSBI dianakemaskan dengan penganggaran khusus dan pembinaan khusus pula, sedangkan sekolah-sekolah reguler terabaikan. Hal yang sama juga terjadi pada sekolah penggerak di masa Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim.
”Pemerintah justru harus mendorong keberadaan sekolah-sekolah favorit yang tumbuh secara natural, melalui seleksi alam dari waktu ke waktu selama puluhan tahun. Biarkan sekolah-sekolah tetap berkembang dengan sendirinya, asal kebijakan pemerintah dan pemda tidak menganakemaskan sekolah-sekolah tersebut. Syukur-syukur malah bisa lebih mandiri asalkan tetap dapat diakses oleh golongan tidak mampu,” kata Darmaningtyas.
Menurut dia, anak-anak yang cerdas dan mempunyai semangat belajar tinggi harus diwadahi dan difasilitasi di sekolah-sekolah yang baik. Sebab, kalau mereka bercampur dengan anak-anak yang tidak memiliki ekosistem belajar yang baik, semangat belajar mereka bisa hilang. Sekolah berkualitas tentu mampu mendukung anak-anak berkembang sesuai potensi dan bakatnya untuk menjadi warga negara yang siap berkontribusi terbaik bagi negerinya.
Penulis:
Ester Lince NapitupuluEditor:
Adhitya Ramadhan