Jangan Lupa Benahi Kompetisi

Memoles tim nasional senior dengan naturalisasi pemain memang membuat sepak bola Indonesia terlihat mengilap. Tetapi, itu hanya di permukaan saja.

22 Feb 2025 02:00 WIB · Opini

Oleh Kompas

Jika kita melihat lebih dalam, sejumlah masalah masih menggelayuti persepakbolaan nasional. Performa tim Indonesia di Piala Asia U-20 2025 dan berbagai kerusuhan yang mewarnai kompetisi Liga Indonesia menunjukkan hal itu.

Tim U-20, yang sebagian besar diperkuat para pemain hasil pembinaan dan kompetisi dalam negeri, gagal memenuhi target lolos ke Piala Dunia U-20 setelah tersingkir pada penyisihan grup Piala Asia U-20 di China. Tim asuhan Pelatih Indra Sjafri itu tak berkutik melawan tim-tim terbaik Asia. ”Garuda Muda” kalah dari Iran dan Uzbekistan serta hanya bermain imbang kontra Yaman.

Performa tim U-20 membuktikan bahwa cara instan, yaitu mengirim para pemain berlatih ke luar negeri, tidak bisa menghasilkan prestasi yang diharapkan. PSSI seharusnya bisa belajar dari sejarah bahwa cara itu selalu gagal selama ini. Mulai dari tim Primavera, misalnya, hingga tim-tim yang dikirim belakangan selalu berakhir di luar harapan.

Para pemain U-20 yang tampil di Piala Asia U-20 selama hampir setahun menjalani tur ke berbagai negara. Mereka berlatih di Italia dan Jepang, ikut uji tanding di Perancis, serta turnamen di Korea Selatan. Nyatanya, semua itu tidak membuat Garuda Muda mampu bersaing dengan tim kuat Asia.

Pemain tim Indonesia U-20 Marselinus Ama Ola (kiri) menggiring bola saat melawan tim Yaman U-20 dalam laga penyisihan Grup C Piala Asia U-20 di Stadion Pusat Latihan Sepak Bola Pemuda Shenzhen, China, Rabu (19/2/2025). Laga berakhir imbang 0-0.

Hasil itu seperti mengulang cerita tim U-17 yang disiapkan untuk Piala Dunia U-17 Indonesia 2023. Para pemain remaja Indonesia menjalani latihan selama lebih dari sebulan di Jerman. Namun, mereka juga tersingkir di babak penyisihan grup.

Berbagai kegagalan itu harus menjadi evaluasi PSSI untuk menggiatkan lagi pembinaan di dalam negeri. Para pemain tidak boleh hanya berlatih, tetapi juga harus terbiasa merasakan atmosfer ketat kompetisi, baik di kelompok umur maupun nantinya di liga profesional.

Untuk itu, pembenahan kompetisi menjadi sangat penting. Terlebih lagi, kompetisi Liga Indonesia terasa kian mundur karena kerusuhan yang masih saja terjadi dan menurunnya animo pendukung yang menonton langsung ke stadion.

Kericuhan di antaranya terjadi saat Persija Jakarta lawan Persib Bandung di Bekasi, Minggu (16/2/2025), ketika sejumlah suporter melakukan kekerasan terhadap pendukung lain. Dua hari berselang, penonton menginvasi lapangan pada laga playoff promosi antara Persela Lamongan dan Persijap Jepara (Kompas.id, 19/2/2025). Kita seakan tak mau belajar pada Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 penonton.

Pemain Persib Bandung dan Persija Jakarta saling berebut bola di depan gawang Persija pada lanjutan Liga 1 Indonesia di Stadion Patriot Chandra Bhaga, Kota Bekasi, Jawa Barat, Minggu (16/2/2025). Persib Bandung menahan imbang tuan rumah Persija Jakarta dengan skor 2-2. Persija Jakarta terlebih dahulu unggul 2-0 pada babak pertama. Pada babak kedua, Persib mampu menyamakan kedudukan 2-2. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 16-02-2025

Sementara itu, penurunan jumlah penonton Liga 1 terus terjadi. Dari rata-rata 10.501 penonton per laga pada 2017 menjadi hanya tinggal sekitar separuhnya, 5.039 penonton per pertandingan, musim ini.

Sekali lagi, PSSI tidak boleh hanya fokus memoles timnas dengan naturalisasi atau sekadar sentralisasi latihan di luar negeri. Yang sangat mendesak dilakukan adalah membenahi pembinaan dan kompetisi di dalam negeri.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kompas
 | 

Editor:

Kompas