Jangankan Perhiasan, Toilet Juga Dicuri

Potret beberapa perampokan di museum-museum di dunia.

23 Okt 2025 07:30 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Sembilan perhiasan dari koleksi Napoleon dan permaisuri yang dipamerkan di Museum Louvre, Paris, Perancis, raib digondol pencuri, Minggu (19/10/2025). Pencuri nekat melakukan aksinya saat wisatawan berada di dalam Galeri d’Apollon, tempat sebagian permata mahkota Perancis dipajang.

Pihak berwenang mengatakan, para pencuri menghabiskan waktu kurang dari empat menit di dalam Louvre. Sebuah lift barang didorong ke jendela yang menghadap ke Sungai Seine lantas sebuah jendela didobrak dan dua etalase kaca dihancurkan.

Sebuah lift yang digunakan oleh pencuri terlihat di museum Louvre Minggu (19/10/2025) di Paris.

Alarm berbunyi. Hal itu membuat petugas keamanan cepat bergerak dan memaksa para penyusup kabur. Tidak berapa lama, pencuri melarikan diri dengan sepeda motor melintasi pusat kota Paris.

Setelah sempat ditutup untuk penyelidikan, Museum Louvre kembali dibuka pada Rabu (22/10/2025) atau tiga hari setelah pencurian. Perampokan di Louvre adalah perampokan besar terbaru terhadap karya seni dan benda berharga museum.

Museum Louvre memiliki sejarah panjang pencurian dan percobaan perampokan. Paling terkenal terjadi pada 1911. Lukisan ”Mona Lisa” lenyap dari bingkainya, dicuri oleh Vincenzo Peruggia. Ia bersembunyi di dalam museum dan melarikan diri dengan lukisan itu di balik mantelnya.

Sebuah papan pengumuman berisi pemberitahuan penutupan Museum Louvre sehari setelah perampokan perhiasan, Senin (20/10/2025).
Pengunjung mengamati perhiasan di Galeri Apollo, Museum Louvre, 4 September 2025.
Polisi bekerja di dalam Museum Louvre, Paris, Minggu (19/10/2025).
Pengunjung menyaksikan perhiasan di Galeri Apollo, Museum Louvre, 4 September 2025.
Pengunjung mengantre di luar Museum Louvre, Paris, Senin (20/10/2025), sehari setelah perampokan perhiasan.
Mobil polisi patroli di halaman Museum Louvre yang ditutup setelah perampokan pada hari Minggu (19/10/2025).
Dalam foto 11 Maret 2010 ini, bingkai kosong setelah pencuri mengambil lukisan ”Storm on the Sea of Galilee” oleh Rembrandt dan ”The Concert” oleh Vermeer tetap dipajang di Museum Isabella Stewart Gardner di Boston.

Lukisan itu ditemukan kembali dua tahun kemudian di Florence, Italia. Peristiwa pencurian ini menjadikan potret Leonardo da Vinci sebagai karya seni paling terkenal di dunia. Selain Louvre, perampokan dan pencurian benda seni juga terjadi di beberapa museum.

Agen penegak hukum menggeledah halaman rumah mafia Connecticut terkenal Robert Gentile di Manchester, Conn., Kamis, 10 Mei 2012. Mereka mencari lukisan yang dicuri pada tahun 1990 dari Museum Isabella Stewart Gardener Boston senilai setengah miliar dolar.

Perampokan Museum Isabella Stewart Gardner di Boston

Peristiwa ini disebut sebagai pencurian seni terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Selama 35 tahun setelah kejadian, pencurian 13 karya seni dari Museum Isabela Stewart Gardner di Boston masih belum terpecahkan.

Pada 18 Maret 1990 dini hari, dua pria yang menyamar sebagai polisi Boston berhasil masuk ke museum dengan mengaku sedang menjawab panggilan. Mereka mengalahkan dua petugas keamanan, mengikat mereka dengan plakban dan menghabiskan 81 menit untuk mencuri 13 karya seni, termasuk mahakarya Rembrandt, Vermeer, Degas, dan Manet.

Pihak berwenang mengatakan, karya seni tersebut mungkin bernilai hingga setengah miliar dollar AS. Namun, pihak museum mengatakan, karya tersebut tak ternilai harganya karena tak tergantikan.

Beberapa karya, termasuk ”Badai di Laut Galilea” karya Rembrandt, dipotong dan diambil dari bingkainya. Bingkai-bingkai tersebut masih terpajang kosong di museum hingga kini.

Foto 8 Desember 2010 menunjukkan koin 'Big Maple Leaf' di Museum Bode di Berlin.

Perampokan museum di Jerman

Pada 2017, pencuri berhasil menggondol koin emas murni Kanada seberat 100 kilogram yang dikenal sebagai ”Big Maple Leaf”. Para tersangka diyakini telah memecahkan kotak pelindung dan berhasil mengangkat koin tersebut dari jendela museum. Perampok kemudian melarikan diri melewati rel kereta api dengan barang rampasan mereka di gerobak dorong. 

Setelah berhasil lolos, pihak berwenang yakin mereka kemudian memotong koin tersebut, yang bernilai sekitar 3,75 juta euro dan menjual potongan-potongannya. Tiga pria, termasuk seorang penjaga keamanan museum, kemudian dihukum.

Pengunjung berdiri di Ruang Permata saat pembukaan kembali Museum Green Vault di Istana Kerajaan Dresden, Jerman, 30 Mei 2020.

Dua tahun kemudian, pencuri memecahkan etalase di Green Vault Dresden, salah satu museum tertua di dunia, dan membawa kabur perhiasan kerajaan bertabur berlian senilai ratusan juta euro. Para pejabat mengatakan, mereka membawa kabur tiga set perhiasan abad ke-18 yang tak ternilai harganya dan mustahil dijual di pasar terbuka.

Sebagian dari barang bukti tersebut kemudian ditemukan kembali. Lima orang dinyatakan bersalah dan dihukum, sedangkan seorang lainnya dibebaskan.

Foto file 16 September 2016 ini menunjukkan toilet 18 karat, berjudul "Amerika," karya Maurizio Cattelan di Museum Guggenheim di New York.

Toilet emas di Inggris dicongkel

Seorang pencuri yang berhasil membawa kabur toilet yang terbuat dari emas di sebuah Istana Inggris dihukum awal tahun ini. Bersamanya juga ditangkap seorang kaki tangan yang membantu menguangkan hasil rampasan karya seni 18 karat yang diasuransikan senilai lebih dari 6 juta dollar AS.

Michael Jones telah menggunakan jamban unik yang berfungsi penuh itu saat melakukan pengintaian di Istana Blenheim, sebuah rumah perdesaan tempat pemimpin Inggris di masa perang Winston Churchill dilahirkan. Ia menggambarkan pengalaman itu sebagai sesuatu yang luar biasa.

Pada 14 September 2019, pagi-pagi buta, bersama setidaknya dua pria lain bersenjata palu godam dan linggis mereka memecahkan jendela dan mencongkel toilet dari pipa ledengnya dalam waktu lima menit. Toilet itu merupakan karya satir berjudul ”Amerika” karya seniman konseptual Italia, Maurizio Cattelan. Karya ini mengolok-olok kekayaan yang berlebihan.

Toilet curian tersebut tidak pernah ditemukan kembali, tetapi diyakini telah dipotong-potong dan dijual. (AP/REUTERS/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Heru Sri Kumoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan