KMP VIRGO TRANSPORT 8

Evakuasi Korban Jangkau Kompartemen Bawah Kapal Paling Berisiko

Korban meninggal yang dievakuasi dari dalam badan KMP Virgo Transport 8 terus bertambah. Kompartemen bagian bawah kapal paling sulit dilakukan dan berisiko.

22 Sep 2026 16:44 WIB · Nasional

KANTOR SAR BANJARMASIN

Oleh Defri Werdiono

Satu per satu korban KMP Virgo Transport 8 ditemukan dan dievakuasi dari dalam badan kapal yang terbalik di perairan Laut Jawa oleh tim penyelam Basarnas Special Group, TNI AL, dan Jasalindo Salvage. Setelah tujuh jenazah berhasil diangkat sejak Jumat pekan lalu, pada Selasa (22/9/2026) pagi, tim kembali mengevakuasi tiga jenazah.

Belum diketahui jenis kelamin ketiga korban tersebut. Begitu berhasil diangkat dari dalam air, ketiganya dinaikkan ke KN SAR Pacitan, lalu diterbangkan menuju Bandara Syamsudin Noor di Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), menggunakan helikopter. Korban kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Banjarmasin untuk proses identifikasi.

Beberapa jam sebelumnya, pukul 04.25 Wita, dua jenazah yang ditemukan di Pantai Seruyan, Kalimantan Tengah, tiba lebih dulu di RS Bhayangkara. Dua jenazah yang saat ditemukan masih mengenakan pelampung warna oranye itu merupakan penumpang KMP Virgo Transport 8.

Tim SAR Gabungan, Selasa (22/9/2026), kembali mengevakuasi korban KMP Virgo Transport 8 yang terbalik di Laut Jawa.

”Kami terus mengerahkan seluruh kekuatan yang ada untuk menemukan korban lain. Setiap upaya dilakukan secara maksimal dengan tetap mengutamakan keselamatan seluruh personel SAR,” ujar Kepala Basarnas Marsekal Madya Muhammad Syafii, melalui keterangan tertulis, Selasa sore.

Selain pencarian di permukaan perairan, kegiatan pencarian di dalam bangkai kapal memang menjadi fokus pencarian tim gabungan pada hari ke-10 operasi. Di tempat itu diperkirakan masih terdapat sejumlah korban yang terjebak. Mereka tidak bisa keluar saat badan kapal terbalik, Minggu (13/9/2026).

Saat peristiwa terjadi, KMP Virgo Transport 8 membawa 243 penumpang dan kru. Dari jumlah tersebut, penumpang dan kru ditemukan dalam kondisi selamat sebanyak 108 orang. Sedangkan korban meninggal 18 orang, yang mana 10 orang di antaranya ditemukan dari dalam badan kapal. Sedangkan 117 orang lainnya hingga kini masih belum diketahui nasibnya.

Kepala Kantor SAR Banjarmasin I Putu Sudayana mengatakan, ada beberapa hal yang menjadi perhatian dalam operasi SAR saat ini, yakni adanya dinamika perubahan cuaca di lokasi yang terjadi begitu cepat. Dengan demikian, tim penyelam memanfaatkan kondisi arus laut dan gelombang yang sedang teduh. Waktunya tidak berlangsung lama.

”Berkejaran dengan waktu, kita memaksimalkan waktu yang ada sehingga beberapa korban berhasil dievakuasi,” kata Putu, dalam konferensi pers di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Senin (21/9/2026), menjelaskan bagaimana operasi pada hari ke-9 dan ke-10.

Tim SAR Gabungan, Selasa (22/9/2026), kembali mengevakuasi korban KMP Virgo Transport 8 yang terbalik di Laut Jawa.

Sedangkan untuk operasi hari ini ada tambahan tim penyelam dari Komando Armada II TNI AL Surabaya. KRI Nala bergabung kembali setelah selesai melaksanakan bekal ulang di Surabaya. Kapal tersebut tiba di lokasi Selasa pagi dengan membawa 22 tim penyelam sehingga total menjadi 34 orang penyelam.

”Jadi, tim-tim inilah yang kita akan maksimalkan untuk melaksanakan proses evakuasi dari badan kapal yang sudah tenggelam,” katanya.   

Pihaknya pun berharap kondisi cuaca di perairan setempat kondusif sehingga memudahkan pergerakan di lapangan dan lebih banyak lagi korban bisa dievakuasi dari dalam bangkai kapal. ”Kita bersyukur besok (Selasa) cuacanya mulai membaik. Mudah-mudahan tim yang bekerja di lapangan bisa lebih maksimal dalam hal proses evakuasi yang dilaksanakan,” katanya.

Paling sulit dan berbahaya adalah menjangkau kompartemen bagian bawah. Titik itu menjadi bagian paling sulit dan berisiko. Karena begitu penyelam masuk ke bagian bawah kapal, mereka tidak tahu kestabilan kapal saat ini.

Keberadaan peralatan remotely operated vehicle (ROV) sendiri sudah sempat masuk ke dalam sejumlah kompartemen dan mengambil dokumentasi video. Video itulah yang menjadi panduan bagi penyelam mendapatkan gambaran di mana saja kemungkinan korban berada. Sayangnya, operasionalisasi ROV juga sangat bergantung pada kondisi cuaca.

”Begitu kita mencari di daerah paling bawah, takutnya itu akan berubah posisi. Nah, inilah yang akan membahayakan tim penyelam. Memang agak berisiko itu menyelam. Sama dengan pada saat kita memecahkan kaca. Cara memecahkan kaca juga harus memiliki teknik,” ucapnya.

Tim SAR Gabungan, Selasa (22/9/2026), kembali mengevakuasi korban KMP Virgo Transport 8 yang terbalik di Laut Jawa.

Memecahkan kaca kapal di bawah air perlu teknik tersendiri. Posisi penyelam tidak bisa berada di depan kaca karena begitu kaca pecah, akan ada dorongan yang luar biasa dari sisi dalam. Kondisi ini akan membahayakan tim penyelam. ”Jadi, banyak hal yang harus jadi perhatian untuk menyelam di kedalaman, di ruang-ruang yang tersekat,” katanya.

Selama kegiatan evakuasi berjalan, lanjut Putu, kegiatan pengangkatan kapal (salvage) juga berproses. Proses pengangkatan dan pembalikan kapal dilakukan perusahaan (pemilik) dan pihak asuransi.

Dua kegiatan di atas (evakuasi dan pengangkatan kapal) berbeda, tapi ini bisa dikolaborasikan. Karena pada saat badan kapal terangkat, banyak korban kemudian bisa dievakuasi.

Sementara itu, Komandan Pangkalan TNI AL Banjarmasin Kolonel Laut Galih Nurna Putra, yang juga ikut dalam konverensi pers, mengatakan, kapal bantu hidro-oceanografi canggih milik TNI AL, yakni KRI Canopus, juga telah berada di lokasi. Kapal itu juga sudah menurunkan peralatan untuk melihat kondisi bawah air.

Namun, kondisi arus yang deras menjadi kendala. ”Memang arus air, arus bawah air sangat deras sampai 6 hingga 6,8 knot. ROV juga sudah diturunkan, tapi kendalanya juga karena arus,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Defri Werdiono
 | 

Editor:

Irma Tambunan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati