Janice Tjen mendapat kesempatan yang jarang didapat, bermain di turnamen lapangan tanah liat. Ini jadi tantangan berat karena Janice jarang bermain di lapangan itu.
06 Apr 2026 07:15 WIB · Olahraga
Getty Images via AFP
Seperti petenis profesional dari negara lain, Janice Tjen akan bersaing dalam turnamen di lapangan tanah liat selama April hingga Juni di Eropa. Tak ada target tinggi bagi petenis putri Indonesia itu selain mencari pengalaman.
Turnamen di lapangan tanah liat untuk persaingan petenis putri dalam kalender WTA Tour dimulai pada akhir Maret di Charleston, Amerika Serikat, dan Bogota, Kolombia. Pekan ini hingga sembilan pekan ke depan, persaingan berlanjut ke sejumlah negara di Eropa dengan Grand Slam Perancis Terbuka di Roland Garros, Paris, 24 Mei-7 Juni, sebagai puncaknya. Sebelum Perancis Terbuka, ada dua turnamen besar yang juga akan diikuti Janice, yaitu WTA 1000 Madrid dan Roma.
Sebagai petenis peringkat 50 besar dunia sejak awal 2026—berada di ranking ke-41 dunia pada 6 April—Janice punya kewajiban mengikuti semua turnamen WTA 1000 dan Grand Slam serta beberapa turnamen WTA 500 untuk menghindari denda. Ini menjadi tantangan besar bagi petenis berusia 23 tahun itu sejak memasuki persaingan WTA Tour pada Agustus 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/06/66ccb9b2f3a377bd5bfbd4df8da46d1e-janice_on_clay1.jpeg)
Tantangan semakin besar ketika persaingan berlangsung di lapangan tanah liat. Janice, yang memiliki satu gelar juara WTA pada nomor tunggal putri dan tiga dari ganda putri, memiliki pengalaman sangat minim bermain di tanah liat.
Sejak kembali ke turnamen profesional pada Juni 2024, setelah lulus dari Universitas Pepperdine, AS, Janice hanya bermain dalam tiga turnamen tanah liat level ITF pada rentang Agustus-Desember 2024. Adapun sepanjang 2025, dia hanya bermain di lapangan keras.
Pelatihnya, Chris Bint, menyatakan bahwa fokus untuk Janice pada persaingan di lapangan berkarakter lambat ini adalah mencari pengalaman. ”Bagi Janice, turnamen di lapangan tanah liat adalah tentang mengumpulkan pengalaman dan mengembangkan permainannya di antara pemain terbaik tahun ini. Pemain-pemain terbaik dunia sudah terbiasa bermain di lapangan itu, sedangkan Janice hanya bermain beberapa kali di tanah liat dalam hidupnya,” kata Bint melalui pesan langsung di Instagram, Senin (6/4/2026).
Janice tak terbiasa bermain di lapangan yang menuntut kemampuan spesifik dibandingkan ketika bermain di lapangan keras. Petenis-petenis top dunia bahkan menilai, bermain di lapangan tanah liat memiliki tingkat kesulitan paling tinggi dibandingkan di lapangan keras dan rumput.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/10/10/AP20284491566510_1602343502.jpg)
Tunggal putra dengan 24 gelar Grand Slam, Novak Djokovic, mengatakan, bermain di tanah liat menuntut banyak penyesuaian. ”Pantulan bola tidak menentu dan sulit diprediksi. Dibutuhkan kemampuan teknis dan taktik untuk mengatasi kondisi itu,” ujar juara Perancis Terbuka tiga kali tersebut.
Roger Federer, yang disebut sebagai petenis terbaik sepanjang masa, bahkan kesulitan menyesuaikan diri. Di Perancis Terbuka, sebagai patokan kemampuan petenis dalam menaklukkan lapangan tanah liat, Federer hanya memiliki satu gelar juara, pada 2009.
”Saya harus belajar untuk bermain dengan posisi jauh di belakang baseline dan mencari sudut pukulan yang tepat untuk menyerang. Bagi saya, rasanya seperti belajar geometri,” kata Federer.
Atlet lebih dituntut memiliki kesabaran dalam membangun taktik untuk mendapat poin, didukung kemampuan bergerak dengan cara meluncur. Mantan petenis nomor satu dunia, Andy Murray, bahkan menyebut lapangan tanah liat adalah lapangan yang paling menuntut ketangguhan mental.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/20/6d80e88e329be247f9599a93f38b908c-3f241da44eff43eb941823fce5a4a3fe_0_d6f082a63e0b4956842a0c29cb5cb160.jpg)
”Di Indonesia tidak ada lapangan tanah liat hijau seperti di Amerika atau lapangan tanah liat yang layak seperti di Eropa. Saat yunior, Janice juga tidak terpapar turnamen lapangan tanah liat, sedangkan petenis-petenis dunia terbiasa berkompetisi di sana. Jadi, mengelola ekspektasi penggemar Indonesia sangat penting dalam situasi ini dan saya tahu, Janice menghargai semua dukungan dan pesan positif yang dia terima,” tutur Chris, pelatih asal Inggris yang pernah melatih di tim nasional Selandia Baru ini.
Pada 2026, Janice sudah bermain dalam 10 turnamen WTA, termasuk Grand Slam Australia Terbuka dan empat turnamen WTA 1000. Dalam rangkaian turnamen lapangan keras sepanjang Januari-Maret tersebut, hasil terbaiknya adalah babak kedua Australia Terbuka dan babak ketiga WTA 1000 Dubai.
Awal perjalanannya dalam turnamen lapangan tanah liat dimulai dari WTA 500 Charleston, AS, 30 Maret-5 April. Dalam nomor tunggal, petenis yang ditempatkan sebagai unggulan ke-12 itu mendapat bye di babak pertama, tetapi kalah dari McCartney Kessler (AS) di babak kedua dengan skor 2-6, 1-6.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/06/6529d6e658561bdee15f63538ff0c1e1-Credit_One_Charleston_Open_2026_Final_Day.jpeg)
Dalam persaingan ganda, Janice yang berpasangan dengan Aldila Sutjiadi dikalahkan unggulan teratas, Aleksandra Krunic/Zhang Shuai (Serbia/China), 6-7 (3), 5-7. Janice dan Aldila bermain bersama lagi setelah mereka berpartner dalam turnamen WTA 250 Chennai, November 2025, dan menjadi juara.
Namun, seperti dikatakan Bint, ada situasi tidak ideal yang harus dijalani Janice menjelang turnamen lain setelah WTA Charleston. Dia harus bermain dalam kejuaraan beregu putri Piala Billie Jean King Grup I Zona Asia/Oseania. Indonesia akan bersaing dengan lima negara lain di lapangan keras di Stadion DLTA, New Delhi, India, 7-11 April.
Enam tim, yaitu Indonesia, India, Korea Selatan, Mongolia, Selandia Baru, dan Thailand, akan bersaing dengan format round robin. Dua tim teratas akan lolos ke babak playoff untuk mendapat peluang bermain di level putaran final dan dua tim terbawah degradasi ke Grup II Asia/Oseania. Janice akan bergabung bersama Aldila, Priska Madelyn Nugroho, Anjali Kirana Junarto, dan Meydiana Laviola Reinnamah dengan Christopher Rungkat sebagai kapten tim.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/06/038c5c95df9696cea3871dbe669ad774-janice_chris_bint.jpg)
Bint mengatakan tak ideal karena kejuaraan berlangsung di lapangan keras ketika Janice seharusnya bersiap di tanah liat. Meski demikian, dia tetap membutuhkan tampil di Piala Billie Jean King sebagai upaya untuk memenuhi syarat lolos ke Olimpiade Los Angeles 2028. Bermain di ajang tersebut untuk petenis putri dan Piala Davis untuk putra, setidaknya dua kali dalam satu siklus Olimpiade, menjadi salah satu syarat untuk bisa membela negara di panggung Olimpiade.
Setelah itu, Janice akan bermain di WTA 250 Rouen, Perancis, 13-19 April, sebelum tampil dalam level tinggi, WTA 1000 Madrid dan Roma, lalu menjalani debut di Perancis Terbuka.
”Jadi, ini adalah musim yang sangat berat dan panjang bagi Janice, tetapi sejauh ini ia menjalaninya dengan sangat baik,” kata Bint.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti