Dulu, Arab Saudi menjanjikan kerja sama Rp 93 triliun dengan RI. Kini, janji kerja samanya Rp 432 triliun. Akankah ada yang terwujud?
03 Jul 2025 08:14 WIB · Internasional
JEDDAH, KAMIS — Setelah delapan tahun, RI-Arab Saudi kembali membuat janji kongsi baru. Dulu janjinya 9 miliar dollar AS atau, dengan nilai kala itu, Rp 93 triliun. Kini, janjinya 27 miliar dollar AS atau Rp 432 triliun.
Seperti di janji 2017, kesepakatan 2025 juga mencakup sektor energi. Ada juga sektor lain disepakati di sela lawatan Presiden Prabowo Subianto ke Arab Saudi, 1-3 Juli 2025. Kantor berita Arab Saudi, SPA, menyiarkan sebagian hasil lawatan itu pada Kamis (3/7/2025).
Kesepakatan 9 miliar dollar AS diteken di sela lawatan Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud ke Indonesia pada Maret 2017. Dengan rombongan besar dan disambut megah, aneka kesepakatan dibuat. Janjinya termasuk 6 miliar dollar AS dari Aramco, perusahaan minyak Arab Saudi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/26/ff9fad7b-5ea0-449b-9624-cdf87126cefb_png.png)
SPA melaporkan, kali ini Prabowo diterima Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS). Mereka bertemu di Jeddah.
Ini kunjungan resmi Prabowo yang pertama ke Arab Saudi sejak menjabat sebagai presiden. Menurut Arab News, setelah penandatanganan, Pangeran MBS dan Prabowo memimpin pertemuan pertama Dewan Koordinasi Tertinggi Arab Saudi-Indonesia. Mereka membicarakan pengembangan hubungan dan kerja sama bilateral selanjutnya.
Indonesia dan Arab Saudi juga sepakat untuk meningkatkan kerja sama dalam penyediaan minyak mentah dan turunannya. Jakarta-Riyadh setuju meningkatkan rantai pasokan dan keberlanjutannya di bidang energi. Selain itu, ada persetujuan memperkuat kerja sama di bidang sumber daya mineral.
Dalam lima tahun terakhir, perdagangan bilateral RI-Arab Saudi berjumlah sekitar 31,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 510 triliun. Indonesia dan Arab Saudi telah berunding untuk mengeksplorasi potensi yang belum dimanfaatkan dalam perdagangan.
Perdagangan nonmigas bernilai sekitar 3,3 miliar dollar AS pada 2024 menunjukkan peningkatan 14,5 persen dibandingkan dengan tahun 2020. Sebagai bagian dari kunjungan Menteri Perindustrian dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi Bandar Al-Khorayef ke Jakarta pada April 2025, Bank Ekspor-Impor Saudi dan mitranya dari Indonesia menandatangani perjanjian untuk memperkuat hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara.
Al-Khorayef juga menandatangani nota kesepahaman dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia. Kesepahaman itu terkait peningkatkan kerja sama di sektor pertambangan dan mineral.
Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia dan memiliki banyak endapan mineral lainnya, termasuk tembaga dan bauksit. Pada tahun 2023, sektor pertambangan Indonesia menyumbang sekitar 11,9 persen dari produk domestik bruto Indonesia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/18/20546b24f3814d0a415b28daf8a3a1a6-arsip_berita_dorong_eksplorasi_sumber_daya_mineral_indonesia_dan_arab_saudi_sepakati_kerja_sama_strategis_yk0d7dx.jpeg)
BBC, 1 Maret 2017, menyebutkan Indonesia sepakat menerima kucuran dana 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 13 triliun dari Saudi Fund Development. Dana itu untuk pembangunan infrastruktur, penyediaan air minum, dan perumahan.
Pada waktu itu, investasi Arab Saudi untuk Indonesia diharapkan bisa jadi sampai 25 miliar dollar AS atau sekitar Rp 330 triliun. Sewaktu Raja Salman berkunjung ke Istana Presiden di Bogor, ia juga menandatangani 11 nota kesepahaman yang mencakup ekonomi, kebudayaan, usaha kecil dan menengah, serta industri aeronautika.
Harian Saudi Gazette menyebutkan dengan Visi Saudi 2030 dan Visi Emas Indonesia 2045, kedua negara berharap mendukung lebih banyak pengembangan kemitraan di antara sektor swasta. Keduanya menyambut baik hasil positif dari negosiasi Perjanjian Perdagangan Bebas antara negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk dan Indonesia yang diadakan selama September 2024 dan Februari 2025.
Keduanya sepakat akan menyelesaikan perjanjian tersebut dalam waktu dekat. Berpijak pada visi kedua negara, kerja sama diperluas tak hanya pada energi. Kerja sama juga mencakup jasa keuangan, pertambangan, manufaktur, logistik, inovasi digital, pariwisata, pertanian, teknologi hijau, peradilan dan keadilan, ketenagakerjaan, dan sumber daya manusia.
Kedua negara sama-sama ingin mengembangkan lingkungan yang ramah investasi. RI-Saudi ingin mengadopsi mekanisme yang efektif yang meningkatkan keselarasan kebijakan pembangunan dan investasi serta berkontribusi untuk mencapai tujuan pembangunan.
Di sektor energi, Indonesia menekankan pentingnya memastikan keamanan pasokan untuk semua sumber energi di pasar global. Dalam hal ini, kedua belah pihak sepakat tentang pentingnya meningkatkan kerja sama dalam penyediaan minyak mentah dan turunannya, petrokimia. RI-Saudi juga setuju ada upaya bersama untuk memanfaatkan peluang investasi di sektor penyulingan dan petrokimia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/06/21/df77d364-1e68-45b8-8927-5254a8324e4b_jpg.jpg)
Kedua belah pihak juga sepakat untuk bekerja sama dalam melaksanakan proyek-proyek listrik, energi terbarukan, dan penyimpanan energi, serta mengembangkannya. Partisipasi perusahaan didorong untuk transfer teknologi, mengembangkan kapasitas, dan akan ada penelitian kolaboratif untuk transformasi energi terbarukan.
Pada bidang pertahanan dan keamanan, kedua pihak sepakat berkontribusi pada keamanan dan stabilitas regional dan dunia. Keduanya berkomitmen meningkatkan kerja sama keamanan dan koordinasi terkait pada isu yang menjadi kepentingan bersama.
Contohnya, memerangi segala bentuk kejahatan, terorisme dan ekstremisme serta pembiayaannya. Selain itu, juga meningkatkan kerja sama di bidang keamanan siber, dan bertukar informasi, keahlian, dan pelatihan. (REUTERS)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan