Jannik Sinner menjalani musim kompetisi 2024 dengan level mendekati kesempurnaan. Dia meraih gelar Grand Slam, menjadi petenis nomor satu, dan menjuarai Final ATP.
18 Nov 2024 09:01 WIB · Olahraga
Petenis Italia, Jannik Sinner, telah menjadi salah satu atlet terbaik di negaranya yang selama ini memiliki pahlawan-pahlawan olahraga di lapangan sepak bola dan sirkuit balap motor. Sinner mencatatkan sejarah untuk tenis Italia dengan menjadi petenis nomor satu dunia dan menjuarai turnamen Final ATP.
Final ATP adalah turnamen pada setiap akhir musim kompetisi yang hanya diikuti delapan petenis terbaik sepanjang tahun. Sejak 2021, turnamen yang diselenggarakan sejak 1970 tersebut digelar di Torino, Italia, berpindah dari London, Inggris, yang menjadi tuan rumah pada 2009-2020.
Dalam laga perebutan gelar juara di Inalpi Arena, Torino, Minggu (17/11/2024) malam waktu setempat, Sinner mengalahkan petenis Amerika Serikat, Taylor Fritz, dengan skor 6-4, 6-4. Sinner juara tanpa kehilangan satu set pun pada lima pertandingan yang dimulai dengan format round robin pada fase penyisihan grup.
Dia menjadi petenis pertama yang menjuarai Final ATP dengan selalu menang straight sets setelah Ivan Lendl pada 1986.
Pada fase grup, Sinner unggul atas Daniil Medvedev, Alex de Minaur, juga Fritz. Di semifinal, dia mengalahkan Casper Ruud dengan penampilan yang semakin solid, lalu bertemu lagi Fritz pada laga puncak.
”Rasanya luar biasa mendapat gelar pertama di rumah sendiri dalam turnamen sebesar ini. Saya bisa berbagi kebahagiaan dengan publik Italia,” ujar Sinner.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/18/579784dd883b595e0c97881a3f257ab5-AFP_36MQ6WQ.jpg)
Inalpi Arena, yang berkapasitas sekitar 15.000 penonton, penuh oleh pendukung Sinner. Sebagian besar dari mereka mengenakan atribut berwarna oranye, seperti memakai kostum berbentuk wortel. Saat melihat beberapa di antara penonton memakan wortel, Sinner pun tersenyum.
Sinner identik dengan wortel dan penggemarnya yang disebut ”Carota Boys”. Nama ini muncul ketika dia memakan wortel saat jeda di sebuah pertandingan pada turnamen ATP Vienna 2019.
Petenis memang terbiasa membawa makanan ke pertandingan sebagai penambah energi dalam waktu cepat. Pisang menjadi makanan yang umum. Ada juga yang membawa kurma atau buah-buahan seperti yang biasa dibawa Cori Gauff. Sinner pernah membawa wortel sehingga dia pun identik sayuran oranye itu.
Sebelum bersaing di Final ATP pada 10-17 November, Sinner telah berstatus sebagai petenis terbaik. Dia tiba di Torino sebagai petenis nomor satu dunia sejak 10 Juni dan memiliki persentase kemenangan tertinggi, yaitu 91,5 persen, hasil dari 65 kali menang pada 71 pertandingan.
Dalam wawancara daring dengan media di Asia dan Eropa, salah satunya ’Kompas’, Sinner menyebut targetnya pada tahun ini adalah naik satu tingkat dalam peringkat dunia.
Setelah menjuarai Final ATP, jumlah kemenangannya menjadi 70 dari 76 laga. Total gelar yang didapatnya adalah delapan yang diawali dengan gelar Australia Terbuka. Itu menjadi gelar pertamanya dari ajang Grand Slam.
Petenis berusia 23 tahun itu menyebut bahwa kunci kemenangannya adalah berusaha memahami apa yang harus dilakukan dalam menghadapi lawan berbeda, lalu menerapkan rencana permainan dengan tampil sebaik mungkin di lapangan. Pola pikir itu, yang dikombinasikan dengan kemampuan teknis dan fisik, membuat Sinner menjadi petenis paling konsisten pada 2024.
Ruud, yang dikalahkan Sinner pada semifinal, bercerita, Sinner memiliki konsistensi dalam melancarkan pukulan keras. Dalam pertandingan yang berlangsung di lapangan keras dalam ruangan, seperti di Inalpi Arena, pukulan ini bagai ledakan bom di depan mata.
”Pukulannya lebih keras dibandingkan dengan Novak (Djokovic). Saya tak menyebut bahwa melawan Novak lebih mudah, tetapi saat berhadapan dengan dia, setidaknya saya bisa bermain reli. Melawan Jannik, saya dibuat tak bisa ’bernafas’,” tutur Ruud.
Pencapaian Sinner pada 2024 melebihi apa yang diharapkannya di awal tahun. Dia mengawali persaingan tahun ini dengan berada pada peringkat keempat dunia, yaitu di bawah Djokovic, Carlos Alcaraz, dan Daniil Medvedev, pada urutan teratas hingga ketiga.
Dalam wawancara daring dengan media di Asia dan Eropa, salah satunya Kompas, Sinner menyebut targetnya pada tahun ini adalah naik satu tingkat dalam peringkat dunia. Dia mengatakan itu setelah menjuarai Australia Terbuka.
Hasil yang didapat ternyata melebihi harapannya. Dia menjadi petenis nomor satu dunia dan mengukuhkan diri di posisi itu pada akhir tahun. Status petenis nomor satu dunia akhir tahun menggambarkan konsistensi performa petenis sepanjang tahun.
Seperti karakternya yang tenang, Sinner selalu melihat perjalanannya sebagai proses yang bisa terus berkembang, selangkah demi selangkah. Setelah mengalahkan Fritz, mendapat trofi, dan hadiah uang Rp 77,6 miliar karena tak terkalahkan di Final ATP, Sinner mengatakan bahwa masih ada celah dari dirinya yang bisa diperbaiki dan dikembangkan.
”Hari ini servis saya sangat bagus dan tidak menjadi masalah selama turnamen. Akan tetapi, masih ada pukulan lain yang seharusnya bisa saya lakukan dengan lebih baik. Ada detail kecil yang masih bisa saya kembangkan dan ini bisa membuat perbedaan,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/18/3e6bfd66e37b5b104957033c2132a12a-AFP_36MQ3ND.jpg)
Apa yang dikatakan Sinner mungkin terdengar klise, tetapi pola pikir itulah yang bisa mengantarkan Roger Federer, Rafael Nadal, dan Novak Djokovi menjadi tiga petenis terbaik dalam dua dekade terakhir. Federer mengubah cara backhand menjadi lebih baik, Nadal memakai raket yang lebih berat beberapa gram untuk menambah kecepatan servis, sedangkan Djokovic melakukan diet gluten agar tubuhnya lebih bugar.
Mentalitas untuk terus memperbaiki diri telah membawa Siner menjadi petenis yang lebih baik pada tahun ini. Dia pun akan melakukan pendekatan yang sama pada tahun-tahun berikutnya. (AFP/AP)
Sinner mengawali musim 2024 di peringkat keempat dunia. Dia menempati posisi teratas pada 10 Juni, di antaranya, berkat gelar juara Australia Terbuka, ATP Rotterdam, dan ATP Miami.
Sinner mengukuhkan posisi itu dengan menjadi petenis nomor satu akhir tahun sejak Oktober.
Dengan hasil tak terkalahkan dalam lima pertandingan Final ATP, Sinner mendapat hadiah Rp 77,6 miliar. Jumlah ini lebih besar dibandingkan “sekadar” juara dengan hadiah Rp 35, 47 miliar. Total hadiah Sinner pada 2024 adalah Rp 268,2 miliar.
Sinner menjadi petenis Italia pertama yang menjuarai Final ATP sejak turnamen ini digelar pada 1970. Dia juara tanpa kehilangan satu set pun seperti yang dicapai Ivan Lendl pada 1986.
Setelah mengalahkan Taylor Fritz di final, Sinner mencatatkan kemenangan ke-70 dari 76 pertandingan pada 2024 (92 persen). Petenis terakhir yang mendapat 70 kemenangan atau lebih dalam satu musim adalah Andy Murray yang 78 kali menang pada 2016.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .