Kepengurusan Danantara diklaim bebas dari kepentingan politik. Namun, pasar masih menunggu realisasi janji dan komitmen tersebut.
25 Mar 2025 06:00 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Genap sebulan diluncurkan, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) akhirnya mengumumkan sederet nama yang duduk di kursi eksekutif organisasi tersebut. Pemilihan berbagai figur itu diklaim telah berdasarkan rekam jejak profesionalitas dan bebas dari muatan politis.
BPI Danantara berkomitmen mengedepankan prinsip tata kelola yang baik, manajemen risiko, akuntabilitas, serta transparansi dalam menjalankan bisnisnya. Di tengah dinamika gejolak pasar, pengumuman pengurus Danantara itu diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan publik dan pelaku pasar.
Sebelumnya, BPI Danantara telah resmi menjadi dana investasi negara atau sovereign wealth fund (SWF) dengan dana kelolaan hingga Rp 15.000 triliun. Peresmian BPI Danantara pada 24 Februari 2025 tersebut sekaligus mengukuhkan Rosan Roeslani sebagai chief executive officer (CEO), Pandu Patria Sjahrir sebagai chief investment officer (CIO), serta Dony Oskaria sebagai chief operating officer (COO).
Sebulan kemudian, pada Senin (24/3/2025), BPI Danantara mengumumkan susunan kepengurusan yang diisi oleh 18 nama baru. Pengumuman perdana itu digelar di Gedung Graha CIMB Niaga di Jakarta.
Susunan pengurus Danantara meliputi Dewan Penasihat, Komite Audit, Komite Remunerasi dan Sumber Daya Manusia, Komite Etik, Komite Risiko, Komite Investasi dan Portofolio, Bagian Legal, Bagian Risiko dan Keberlanjutan, Bagian Keuangan, Bagian Perbendaharaan, Bagian Operasional, serta Bagian Investasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/24/73996778-f2fe-442a-afd6-3374c8027c23_jpg.jpg)
CEO BPI Danantara Rosan Roeslani mengatakan, kepengurusan Danantara dibentuk melalui proses yang ketat, baik untuk kandidat dalam negeri maupun luar negeri. Mereka terjaring berdasarkan kompetensi yang sesuai pembidangannya serta rekam jejak yang jelas.
”Untuk membentuk tim yang berdasarkan meritokrasi, berdasarkan nama-nama yang baik, itu membutuhkan waktu. Harapannya, nama-nama ini bisa memberikan lebih banyak confidence, keyakinan, bahwa ini adalah nama-nama yang terbaik,” katanya dalam konferensi pers.
Harapannya ini akan memberikan sinyal yang sangat positif untuk perekonomian Indonesia.
Untuk penunjukan Dewan Penasihat, misalnya, BPI Danantara memilih orang-orang yang telah memiliki pengalaman di kancah internasional. Mereka antara lain konglomerat Amerika Serikat sekaligus investor dan manajer hedge fund ternama Ray Dalio serta mantan CEO Asia Pasifik Credit Suisse Helman Sitohang.
Selain itu, ada pula ekonom dan akademisi global dari Columbia University Jeffrey Sachs, Equity Portfolio Manager Capital Group F Chapman Taylor, serta mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/24/1b97048f-8651-4f60-9d8a-9a483833165a_jpg.jpg)
Rosan turut memastikan, pemilihan kepengurusan BPI Danantara sama sekali tidak mengakomodasi kepentingan dari pihak mana pun, termasuk presiden, alias bebas dari ’titipan’. Nama-nama tersebut juga tidak berasal dari keanggotaan atau kepentingan partai politik.
”Nama-namanya sudah sangat baik dan diterima publik. Tentu harapannya ini akan memberikan sinyal yang sangat positif untuk perekonomian Indonesia dan penciptaan lapangan kerja,” ujarnya.
Dalam proses merekrut kandidat, BPI Danantara memanfaatkan jasa perusahaan rekrutmen atau headhunter dari domestik ataupun global, seperti Egon Zehnder. Setelahnya, BPI Danantara memilih satu nama terbaik dari tiga kandidat yang diajukan oleh perusahaan rekrutmen itu di masing-masing bagian.
Nama-nama yang telah terpilih itu lalu diseleksi lebih lanjut melalui wawancara. Setelah lolos dari proses seleksi, para kandidat yang akan masuk kepengurusan BPI Danantara wajib menyertakan izin persetujuan, baik dari tempat mereka bekerja maupun dari negara asalnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/24/05d6d9e1-129f-47b9-a95f-abd337b0ded1_png.png)
BPI Danantara turut berkomitmen menjaga aspek akuntabilitas dan transparansi dengan melibatkan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), dan Jaksa Agung ke dalam Komite Pengawasan dan Akuntabilitas.
Rosan menambahkan, BPI Danantara mengemban tugas dari Presiden untuk memperkuat badan usaha milik negara (BUMN) sesuai prinsip tata kelola yang baik, manajemen risiko, serta aspek keberlanjutan. Dengan kata lain, pucuk kepemimpinan BUMN akan dipilih berdasarkan prinsip meritokrasi atau berbasis kompetensi dan integritas.
”Intinya, ini adalah lembaran baru, bukan hanya untuk Danantara, melainkan juga untuk semua BUMN yang akan ada di bawah Danantara. Kami pastikan bahwa ke depan pengelolaan di BUMN akan menjadi lebih baik, lebih transparan, lebih profesional,” katanya.
Dalam beberapa waktu terakhir, pasar keuangan domestik, khususnya pasar saham, bergejolak akibat faktor tekanan eksternal dan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan pasar Senin (24/3/2025) ditutup di level 6.161,22 atau terkoreksi 1,55 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Gejolak pasar yang terjadi kerap dikaitkan dengan kepastian BPI Danantara. Namun, menurut Rosan, kondisi tersebut lebih dipengaruhi oleh banyak faktor, sedangkan fundamental perusahaan BUMN terjaga dengan baik. Ia meyakini, gejolak pasar cenderung hanya siklus dan diperkirakan dapat berbalik ke harga fundamentalnya.
Usai melaporkan struktur pengurus Danantara ke Presiden Prabowo, Rosan mengakui, IHSG sempat kembali anjlok pada Senin pagi atau sebelum struktur lengkap pengurus Danantara diumumkan. Namun, ia optimistis kondisi pasar saham akan lebih baik ke depan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/20/3368cd04-8494-4b10-b150-6887898220d3_png.png)
Menurutnya, IHSG pun menguat setelah struktur pengurus Danantara diumumkan. “Coba lihat indeksnya, tadi (setelah) saya sampaikan saya lihat, ternyata yang tadinya sempat turun 200-300 poin, sekarang tinggal 80 poin, dan terakhir trennya positif setelah pengumuman,” katanya.
COO BPI Danantara Dony Oskaria menambahkan, Danantara turut berkomitmen untuk terus menjaga dan memperkuat fundamental BUMN di tengah ketidakpastian global. Penguatan fundamental tersebut diharapkan dapat direspons positif oleh pelaku pasar.
”Dengan masuknya BUMN ke dalam Danantara, kita akan jauh lebih transparan, jauh lebih good corporate governance. Model bisnis akan kita review sehingga kita harapkan, dengan penguatan fundamental ini, market ke depan akan merespons dengan positif,” ujarnya.
Semoga dengan hari ini bisa dijawab bahwa semuanya profesional, tidak ada titipan-titipan, dan semua adalah yang terbaik di bidangnya dan di kancah global.
Senada, CIO BPI Danantara Pandu Patria Sjahrir menyampaikan, gejolak pasar modal tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Thailand dan Turki. Di tengah berbagai risiko global tersebut, Danantara akan meminta masukan terkait kondisi makro terkini kepada Dewan Penasihat yang notabene adalah para praktisi berpengalaman.
Pandu menegaskan, susunan pengurus Danantara telah dibentuk secara profesional sesuai mekanisme pasar dan mengacu pada praktik di SWF lain. Saat ini, Danantara diklaim menduduki peringkat ke-6 SWF global.
”Ada noise dan concern bagaimana pembentukan tim Danantara dan siapa manajemen Danantara. Semoga dengan hari ini bisa dijawab bahwa semuanya profesional, tidak ada titipan-titipan, dan semua adalah yang terbaik di bidangnya dan di kancah global,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/24/5c01fe3e-042e-4bd7-85eb-c8a2b3636b72_jpg.jpg)
Berdasarkan regulasi, BPI Danantara sebagai superholding akan membawahkan BUMN yang terbagi dalam dua entitas, yakni holding operasional dan holding investasi. Sejak masuk ke dalam BPI Danantara, dividen BUMN akan dikelola untuk diinvestasikan ke beberapa proyek.
Dana tersebut akan diinvestasikan ke proyek-proyek jangka panjang dengan mengedepankan aspek imbal hasil minimal, penciptaan lapangan pekerjaan, peningkatan ekspor dan penurunan impor, serta berdaya saing. Beberapa sektor prioritas investasi tersebut adalah ketahanan pangan, ketahanan energi, hilirisasi, kesehatan, serta infrastruktur digital.
Dihubungi secara terpisah, pengamat BUMN dari Universitas Indonesia, Toto Pranoto, berpendapat, sebagian besar nama yang masuk dalam kepengurusan Danantara merupakan figur profesional serta berpengalaman di kancah internasional. Ini sekaligus menjawab kekhawatiran masyarakat terkait adanya kepentingan politik di Danantara.
Kendati demikian, pasar saham masih terkoreksi meski BPI Danantara telah mengumumkan kepengurusannya. Artinya, pasar masih menunggu tindak lanjut atau jalannya BPI Danantara ke depan sesuai dengan komitmen yang telah disampaikan.
”Menurut saya, yang paling penting adalah menumbuhkan kepercayaan dari publik dan dari market dulu bahwa tidak ada pelanggaran-pelanggaran yang kaitannya dengan prinsip good corporate governance,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/24/f77ca184-0477-40c0-8c4b-9dab0b66ae5a_jpg.jpg)
Toto turut mengingatkan, lembaga serupa di Malaysia, 1Malaysia Development Berhad (1MDB), juga menempatkan profesional dalam kepengurusannya. Namun, 1MDB tetap tersandung kasus lantaran dalam implementasinya tidak menjaga tata kelola yang baik.
Ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menambahkan, pemilihan sederet nama dalam kepengurusan BPI Danantara terbilang cukup kredibel sehingga dapat menjadi awal yang baik dan cukup menjanjikan bagi Danantara ke depan.
”Unsur profesionalisme dan kredibilitas sangat menonjol, sementara unsur nepotisme, koncoisme, dan timses-isme tidak terlalu kentara,” katanya.
Menurut Wijayanto, penurunan IHSG lebih disebabkan oleh ketidakpercayaan investor ke pasar modal Indonesia akibat tata kelola yang buruk. Di sisi lain, respons Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang hanya berupa pembelian kembali (buyback) saham tanpa rapat umum pemegang saham (RUPS) dinilai jauh dari memadai.
Alih-alih membuat pasar lebih baik, solusi OJK justru berpotensi menaikkan harga saham dalam jangka pendek, bahkan memperburuk situasi di pasar saham. Kebijakan tersebut akan menurunkan jumlah saham perusahaan yang diperdagangkan (free float) sehingga IHSG semakin berfluktuasi dan mudah dipermainkan oleh spekulator.
”Pasar mengharapkan OJK melakukan upaya perbaikan yang lebih serius. Salah satunya dengan me-review apa yang terjadi di pasar modal kita akhir-akhir ini, menyampaikannya ke publik, memberikan sanksi kepada para pelanggar ketentuan, dan menyampaikan rencana konkret perbaikan ke depan. Sayangnya, hal tersebut tidak muncul,” ujar Wijayanto.
Penulis:
Agustinus Yoga Primantoro, Kurnia Yunita Rahayu, Nina SusiloEditor:
Agnes Theodora