Ketertarikan personal dengan Indonesia, membuat pelopor foto jurnalistik modern ini datang untuk mendokumentasikan realita sosial dan politik di awal kemerdekaan.
08 Apr 2025 07:00 WIB · Foto
Henri Cartier-Bresson merupakan fotografer Perancis yang lahir tahun 1908 di Chanteloupe, sebuah desa tidak jauh dari Paris. Pada tahun 1927–1928, ia belajar pada Andre Lhote, seorang seniman dan kritikus yang terkait dengan gerakan kubisme. Lhote menanamkan minat Bresson dalam seni lukis, faktor penting dalam pendidikan visualnya. Kemudian dia kuliah untuk belajar sastra dan seni lukis.
Bresson serius belajar fotografi sekitar tahun 1930, setelah melihat karya dua fotografer utama abad ke-20, Eugene Atget dan Man Ray. Pada 1931 ia menghabiskan waktu setahun di Pantai Gading, Afrika. Di sana ia melakukan perjalanan keliling dan merekam pengalamannya dengan kamera sebelum akhirnya kembali ke Perancis karena terpapar wabah penyakit.
Pada 1932 ia mengenal kamera Leica 35 mm yang menjadi kamera kompak kecil sehingga mudah dibawa. Penggunaan kamera kompak ini sangat penting karena bagi Bresson kamera tidak hanya memberikan spontanitas, tetapi juga anonimitas. Ia sangat ingin tetap menjadi saksi bisu, bahkan tak terlihat sehingga ia menutupi bagian kromium yang cerah pada kameranya dengan selotip hitam agar tidak terlalu terlihat, dan ia terkadang menyembunyikan kamera di bawah sapu tangan. Pria ini dikenal pendiam tentang kehidupan dan pekerjaannya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/06/e792f5ae981dfde21923b63633ab95a4-HENRI_CARTIER_BRESSON_A.jpg)
Dengan kamera kompak yang mudah dibawa dan dioperasikan ini, Bresson bisa lebih mudah merekam semua yang ditemuinya dalam perjalanannya. Ia menjadi salah satu pionir foto jurnalistik modern dengan penggunaan kamera format 35 mm di lapangan.
Salah satu titik penting kehidupan dan perjalanan karier Bresson adalah saat ia menikah dengan Ratna Mohini, seorang penari Jawa, yang ditemuinya di Paris pada 1937. Ratna yang disebut sebagai perempuan keturunan bangsawan Banten pergi ke Perancis untuk belajar tentang seni. Selain dikenal sebagai penari, ia juga penulis dan cakap membuat puisi. Ratna digambarkan sebagai perempuan ceria, mudah bergaul, dan banyak berteman dengan berbagai kalangan masyarakat.
Dalam buku ”Henri Cartier-Bresson, A Biography” yang ditulis Pierre Assouline disebutkan, pribadi Ratna ini banyak menbantu Bresson dalam berkarya dan mendampingi ke mana pun suaminya melakukan perjalanan. Pada tahun 1940 saat Perang Dunia II, Bresson ditangkap dan ditawan Jerman. Selama dalam penjara, istrinya mengirimkan kamus Bahasa Melayu yang kemudian dipelajarinya dan digunakan untuk berkomunikasi rahasia dengan istrinya. Tahun 1943, Bresson melarikan diri dari penjara dan kemudian mengoordinasi unit fotografi perlawanan Perancis di masa pendudukan Jerman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/07/38c54aa4-71a6-48a6-8fd7-ab6c1f82d1ce_jpg.jpg)
Pada 1947, Bresson bersama fotografer lain: Robert Capa, George Rodger, David Seymour, dan William Vandivert, mendirikan agensi foto Magnum. Agensi ini menjadi pelopor penyedia foto jurnalistik dan dokumenter yang masih bertahan hingga sekarang. Mereka kemudian membagi wilayah tugas pemotretan dan Bresson mendapatkan wilayah di Asia.
Bukan tanpa alasan Bresson mendapatkan bagian wilayah tugas di Asia, benua yang saat itu sebagian negara di dalamnya baru lepas dari kolonialisme. Selain karena ia dianggap sering terlibat pendokumentasian wilayah dekolonisasi, istrinya yang asli Indonesia manjadi motivasi lain baginya untuk bisa mendokumentasikan negara asal istrinya.
Setelah mendokumentasikan India di masa awal kemerdekaan tahun 1947 dan gejolak revolusi di China tahun 1949, Bresson dan istrinya pergi ke Indonesia. Keterikatan personal dengan Indonesia ini, menambah kedalaman, konsistensi, dan kepekaan budaya terhadap keselarasan yang sudah ada antara dirinya dengan gerakan kemerdekaan yang dipimpin oleh Soekarno.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/07/167b6d2b-1368-4aae-bb25-1df6072f5acb_jpg.jpg)
Dari pengalamannya mendokumentasikan kemerdekaan India, ia menyadari situasi politik yang sama di Indonesia pada 1949 dan 1950. Seperti yang terlihat dari foto-foto pidato politik, rapat umum, tentara Belanda yang berangkat, dan gerilyawan yang kembali, ia sangat bersimpati terhadap Indonesia sebagai negara demokrasi yang baru terbentuk.
Saat berada di Indonesia, peran Ratna untuk melobi para pemimpin bangsa saat itu sangat membantu Bresson bisa leluasa mendokumentasikan para pendiri republik. Soekarno sebagai pemimpin yang sadar akan publikasi seolah memanfaatkan kehadiran Bresson untuk mengampanyekan Indonesia sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat.
Dalam foto-foto politik, Soekarno terlihat berkampanye dengan gembira dari mobil hitamnya yang mengilap dan berbicara dari podium darurat. Hal ini menunjukkan euforia politik dan nasionalisme bangsa baru. Foto lain menunjukkan para pelayan senang memindahkan artefak Belanda dari istana, dan para prajurit Belanda tampak lebih dari senang untuk pergi.
Keindahan alam Indonesia dengan hamparan sawah menghijau serta keunikan budaya tak luput dari bidikan kamera Bresson. Foto penari Bali sedang trans seolah menampilkan realitas sosial yang berbeda dari kondisi politik di Indonesia saat itu. Pada satu sisi, keduanya saling melengkapi dalam arti bahwa ritme dan perubahan politik merupakan semacam suprastruktur yang tidak banyak berpengaruh pada praktik budaya dan spiritual populer.
Apa yang membuat Bali menonjol dan unik di dunia yang membingungkan ini adalah keselarasan antara kepercayaan orang Bali, kehidupan mereka, dan ekspresi mereka. Keselarasan kosmik dari kepercayaan agama mereka yang menjadi dasar setiap tindakan kehidupan mereka. Keharmonisan ini bertahan selama ratusan tahun dari pengaruh luar, penjajahan Belanda, maupun pendudukan Jepang.
Kehadiran Bresson di masa awal kemerdekaan Indonesia telah mencatatkan sejarah penting pada dunia akan lahirnya sebuah negara baru yang berdaulat. Negara yang membuatnya bersimpati dan makin menyadari arti pentingnya kemerdekaan bagi setiap bangsa.
Penulis:
Iwan SetiyawanEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase