Kekuatan Bercerita dalam Fotografi

Dengan keterampilan bercerita visual dan menciptakan gambar-gambar naratif yang menarik, fotografer dapat menghasilkan foto emosional yang menyentuh hati audiens.

11 Mar 2025 04:00 WIB · Foto

Oleh Iwan Setiyawan

Di tahun 1920-an, seorang praktisi periklanan, Frederick R Barnard, menemukan ide yang bagus dalam bentuk frasa: ”satu pandangan bernilai seribu kata”. Ia menggunakan kalimat ini pada tahun 1921 untuk menunjukkan betapa hebatnya gambar dalam berbagi ide, terutama dalam iklan.

Namun, Frederick belum selesai. Ia mengubah frasa yang menarik menjadi ”sebuah gambar bernilai seribu kata” dan membagikannya kepada dunia dalam sebuah iklan tahun 1927 di sebuah majalah bernama Printers’ Ink. Idenya sederhana tetapi hebat: terkadang, gambar dapat memberi tahu kita lebih dari sekadar sekumpulan kata.

Ungkapan tersebut begitu menggema hingga akhirnya banyak dikutip kalangan fotografer untuk menarasikan kekuatan foto dalam menggambarkan sesuatu. Hingga hampir seabad, ungkapan sebuah foto bernilai seribu kata seolah menjadi mantra ampuh yang sering diucapkan fotografer untuk mempromosikan karya fotografi. Tidak ada yang salah karena kekuatan visual memang mampu memengaruhi otak manusia untuk lebih mudah mencernanya.

untuk tematis Kemerdekaan tentang Suku Mentawai Perempuan Suku Mentawai menangguk ikan di Sungai Butui yang mengalir membelah kampung adat mereka di Dusun Butui, Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kamis (28/7/2022). Para perempuan Suku Mentawai memiliki kemampuan mencari ikan untuk menambah kebutuhan dapur keluarga sementara kaum lelaki berburu di hutan. KOMPAS/IWAN SETIYAWAN (SET) 28-07-2022

Namun, dunia terus berubah. Perkembangan teknologi visual yang drastis di era digital turut memengaruhi perilaku manusia dalam mencerna informasi. Kebutuhan manusia akan informasi juga bertambah, tidak sekadar menangkap informasi yang ada, tetapi juga kebutuhan mengurai lebih lanjut atas informasi tersebut.

Di masa teknologi fotografi analog, ungkapan di atas bisa jadi kekuatan untuk menggambarkan sebuah foto. Namun, di zaman digital ketika visual fotografi membanjiri di hampir semua sisi kehidupan manusia, makna sebuah foto bernilai seribu kata perlahan bergeser. Apalagi dengan merebaknya teknologi digital dan gawai yang memungkinkan kita juga bisa membuat foto dan mendapatkan paparan visual setiap saat, dalam sehari bisa ribuan hingga jutaan foto yang kita lihat. Saat kita melihat sebuah foto yang indah, tak berselang lama foto-foto serupa akan membanjiri mata kita dari gawai yang kita bawa.

Gugatan akan sebuah definisi foto indah sudah bukan menjadi sesuatu yang penting. Ketika kita melihat paparan ribuan visual dalam rentang waktu cepat, yang terjadi kemudian adalah mata kita akan menjadi terbiasa sehingga menganggap visual tersebut sekadar visual indah yang cepat berlalu.

Dari pergeseran inilah kemudian muncul tren penggunaan visual yang bercerita untuk memberikan kekuatan lebih pada seni visual, termasuk fotografi. Semua orang menyukai cerita yang bagus karena cerita adalah cara terbaik untuk membangkitkan kenangan dan emosi dalam diri orang. Cerita dapat membuat kita bersemangat, membuat kita tertawa atau menangis, atau membuat kita merasa empati terhadap seseorang. Cerita visual membantu kita untuk lebih memahami satu sama lain.

Contoh publikasi foto cerita di Kompas KOMPAS/IWAN SETIYAWAN (SET) 10-03-2025

Fotografi bukan hanya tentang membuat foto, melainkan tentang memilih kehidupan yang penuh rasa ingin tahu, penjelajahan, dan keajaiban, serta membagikan cerita dalam bentuk visual kepada orang lain. Fotografi adalah bahasa visual. Fotografi bukan hanya tentang komposisi, tetapi bagaimana komposisi dapat membantu kita menangkap suasana hati dan menceritakan kisah yang ingin kita bagikan.

Ada beberapa jenis fotografi yang lebih membangkitkan emosi daripada jenis lainnya, seperti fotografi jurnalistik, fotografi dokumenter, fotografi pernikahan, fotografi jalanan, dan sebagainya. Namun, kenyataannya, terlepas dari jenis fotografi yang kita lakukan, ada cerita yang bisa diceritakan. Dari satu foto yang bisa bernilai lebih dari seribu kata kemudian berkembang menjadi sebuah rangkaian foto yang bercerita atau dikenal juga dengan istilah visual storytelling.

Gabungan dua foto atau lebih yang berkesinambungan dan dikemas menjadi suatu cerita dengan tema tertentu sehingga menghasilkan interpretasi tersendiri membentuk sebuah foto cerita. Foto cerita dilengkapi dengan tulisan untuk membantu menjelaskan cerita yang disajikan.

Foto-foto tentang pencari lobster tradisional di Papua yang akan disusun menjadi sebuah cerita. KOMPAS/IWAN SETIYAWAN (SET) 10-03-2025

David Campbell, seorang profesor dan peneliti visual, menyatakan bahwa dalam menuturkan kisah visual tentang dunia, fotografi adalah menarasikan dunia. Tentu saja, narasi adalah sesuatu yang jauh lebih besar daripada fotografi. Komunikasi sosial adalah salah satu karakteristik yang menentukan keberadaan manusia dan cerita naratif telah lama menjadi cara yang umum dan ampuh untuk menyampaikan informasi.

Campbell yang aktif di Yayasan World Press Photo mengatakan, narasi adalah kisah tentang peristiwa-peristiwa yang saling terkait. Namun, untuk berpikir tentang narasi, kita juga harus merenungkan bagaimana serangkaian peristiwa menjadi saling terkait. Kita juga perlu berpikir tentang bagaimana sesuatu terbentuk sebagai suatu peristiwa sejak awal. Peristiwa bukanlah obyek yang ditemukan yang menunggu untuk ditemukan. Peristiwa adalah sesuatu yang dapat diceritakan. Di sinilah cerita atau narasi akan memperkuat visual.

Dalam dunia komunikasi visual, fotografi memiliki tempat yang unik, melampaui batasan bahasa dan budaya. Mirip seperti cerita pendek yang menggugah, foto yang tersusun dengan baik dapat menceritakan kisah, memancing introspeksi, dan menggugah emosi.

Menceritakan kisah dalam fotografi adalah bentuk seni yang tidak hanya membutuhkan kecakapan teknis, tetapi juga pemahaman mendalam tentang narasi yang ingin kita sampaikan. Intinya, ini tentang menangkap momen yang jika disatukan, akan mengungkap kisah yang lebih besar. Kisah ini bisa berupa perayaan kehidupan sehari-hari, eksplorasi masalah sosial, atau kronik pertumbuhan pribadi, di antara banyak tema lainnya.

Foto-foto tentang Kota Doha, Qatar, yang bisa disusun menjadi sebuah cerita visual menarik KOMPAS/IWAN SETIYAWAN (SET) 10-03-2025

Pentingnya penceritaan dalam fotografi tidak dapat dilebih-lebihkan. Ini membentuk hati dan jiwa sebuah foto, mengubah potret sederhana menjadi narasi visual yang kaya. Satu gambar, dengan komposisi, pencahayaan, dan emosi yang tepat, dapat menceritakan kisah seribu kata.

Sebagai fotografer, kita tidak hanya menangkap pemandangan yang indah atau potret yang sempurna. Kita adalah narator visual, menggunakan lensa untuk mengomunikasikan narasi yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Fotografer dan penulis lepas, Graeme Green, menuturkan, dengan jurnalisme foto, kata-kata dan foto berpadu dan bekerja sama untuk menceritakan sebuah kisah. ”Sering kali ada hubungan antara foto dan kata-kata. Keduanya mengomunikasikan sebuah cerita atau menyatukan bagian-bagian cerita,” kata jurnalis yang karyanya banyak dipublikasikan di berbagai media besar dunia itu.

Menurut Green, foto memiliki kekuatan yang lebih langsung. Foto dapat menarik perhatian orang dan memberikan sentuhan emosi, keterkejutan, keindahan, atau rasa ingin tahu secara langsung. Adapun kata-kata dapat memberikan tingkat detail yang berbeda, tidak hanya latar belakang, konteks, dan penjelasan, tetapi juga ide atau percakapan terperinci antara orang-orang atau sudut pandang yang berbeda.

Tampilan situs milik jurnalis Graeme Green yang banyak menampilkan foto dan kisah perjalanan keliling dunia. ARSIP GRAEME GREEN

Penceritaan dalam fotografi, seperti bentuk komunikasi lainnya, juga membawa serta tanggung jawab untuk menghormati kebenaran dan keaslian narasi. Fotografer, sebagai pendongeng visual, memiliki kekuatan untuk memengaruhi cara orang memandang dunia di sekitar mereka. Oleh karena itu, penting untuk menangani kekuatan itu dengan hati-hati, terutama saat berhadapan dengan subjek atau konteks yang sensitif.

Dalam mengejar narasi yang menarik, penting untuk tidak mendistorsi atau memanipulasi kenyataan sedemikian rupa sehingga salah menggambarkan kebenaran. Sebuah foto dapat dengan mudah diambil di luar konteks, dipentaskan, atau diubah secara digital untuk menyampaikan cerita yang berbeda sehingga menyebabkan misinformasi atau salah tafsir. Sebagai fotografer, kita perlu menyadari potensi jebakan ini dan berusaha untuk menjaga integritas pekerjaan kita.

Selain itu, kita perlu mempertimbangkan implikasi narasi fotografis kita terhadap subyek dan pemirsa kita. Foto yang diambil atau dibagikan tanpa pertimbangan matang dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan, seperti memperkuat stereotipe yang merugikan, melanggengkan diskriminasi, atau menyebabkan tekanan bagi individu yang terlibat.

Tampilan rubrik foto cerita di kompas.id KOMPAS/IWAN SETIYAWAN (SET) 10-03-2025

Fotografi bercerita, yang sering disebut sebagai penceritaan visual, merupakan media luar biasa untuk menangkap esensi momen, membangkitkan emosi, dan melibatkan pemirsa dengan narasi penceritaan yang menarik. Melalui praktik dan eksperimen, fotografer dapat menyempurnakan kemampuan mendongeng mereka dan mengembangkan gaya narasi yang unik. Jadi, ambil kamera, jelajahi, dan biarkan foto-foto kita menceritakan kisah-kisah menarik yang menanti.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Setiyawan
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan