Sejak dulu, kopi Indonesia dibawa pedagang untuk dijual ke negara-negara asing dengan kapal. Kopi Indonesia pun berlabuh di Hainan, provinsi paling selatan China.
08 Des 2025 09:33 WIB · Cerita Perjalanan
KOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI
Sebagai pulau paling selatan di China, Provinsi Hainan adalah salah satu gerbang perdagangan paling strategis yang menghubungkan China dengan Asia Tenggara. Berbagai komoditas dapat ditemukan di Hainan, termasuk kopi Indonesia yang kemudian dinikmati masyarakat China.
”Wah, kopi dari Indonesia cukup kuat, ya,” ujar wartawan dari Kosta Rika setelah menghirup aroma biji dan bubuk kopi dari Indonesia, Rabu (26/11/2025), di Kabupaten Wanning, Hainan, China. Sejumlah wartawan lain ikut menghirup wangi biji kopi Indonesia lantas manggut-manggut.
Biji dan bubuk kopi itu dipamerkan ke puluhan wartawan Asia Pasifik, Amerika Latin, Afrika, Arab, Eropa, dan Eurasia yang berkunjung ke M1 Coffee Dream Factory. Pabrik kopi berusia empat tahun itu adalah destinasi wisata kopi sekaligus salah satu simpul industri kopi di Hainan.
Selain kopi Indonesia, pengelola pabrik juga memamerkan biji dan bubuk kopi dari Hainan serta Etiopia ke hadapan para wartawan. Semuanya menguarkan wangi yang menyenangkan; earthy dan toasty. Sekilas, beberapa rekan wartawan membayangkan nikmatnya menyesap kopi dari biji-biji kopi tersebut.
Khayalan tersebut terasa kian dekat saat pemandu wisata menunjukkan secara ringkas proses pengolahan kopi di pabrik. Prosesnya lebih kurang sama dengan yang ada di pabrik-pabrik dan warung kopi lain: kopi disangrai, didinginkan, lantas disimpan atau dihaluskan menjadi bubuk. Kopi lantas dikemas untuk dijual dalam partai besar dan kecil.
Wangi kopi yang menguar lalu mengantar rombongan ke museum yang ada tak jauh dari area pengolahan kopi. Menurut penjelasan pemandu wisata dan penerjemah, orang-orang dari Asia Tenggara di masa lalu berlayar hingga ke China untuk berdagang. Orang Indonesia termasuk di antaranya. Kopi termasuk satu dari berbagai komoditas yang para pedagang bawa dari kampung halaman.
Selain perdagangan internasional, sejarah kopi di Hainan juga tumbuh dari masyarakat China yang lama tinggal di luar negeri. Pada periode 1950-an, kota kecil Xinglong di Hainan menjadi tempat tinggal sekitar 13.000 warga China yang kembali dari perantauan. Mereka pulang dengan membawa kebiasaan yang tumbuh di luar negeri, yakni minum kopi.
Kebiasaan ini secara perlahan memengaruhi warga lokal. Minum kopi pun tumbuh menjadi kebiasaan kolektif. Untuk mengakomodasi kebiasaan ini, masyarakat mulai menanam pohon kopi di belakang rumah.
Pemerintah kemudian turun tangan. Pemerintah membuat Pertanian China Perantauan Xinglong di tepi sungai, tepatnya di kawasan pantai timur Wanning. Lahan pertanian itu sekaligus untuk membuat lahan telantar menjadi produktif dan menggenjot roda ekonomi.
Adapun kopi merupakan salah satu komoditas penting di Hainan, utamanya Wanning. Mengutip publikasi People’s Daily, luas lahan pertanian untuk budidaya kopi di Wanning mencakup satu per tiga luas Provinsi Hainan. Wanning pun menyumbang lebih dari 70 persen pengolahan biji kopi di Hainan.
Selain mengolah biji kopi lokal, Hainan juga mengimpor biji kopi dari beberapa negara. Manajer M1 Coffee Dream Factory Tong Shuo mengatakan, pabriknya mengolah biji kopi dari 30 negara, seperti Indonesia, Vietnam, Panama, dan Yaman. Kopi yang sudah diolah lantas disebar ke konsumen, termasuk salah satu kafe waralaba besar di China.
Selain menjadi komoditas perdagangan, kopi dikembangkan menjadi wisata tematik di Wanning, Hainan. Pengunjung yang datang ke M1 Coffee Dream Factory, misalnya, tak hanya datang untuk menyesap kopi dan nongkrong. Mereka pun datang untuk berlibur bersama keluarga, termasuk anak serta kakek dan nenek.
”Selain biji kopi, kami juga memproduksi kebahagiaan. Ada lebih dari 300.000 keluarga datang untuk menghabiskan waktu di sini,” ujar Tong Shuo.
Di pabrik yang ada di kawasan pesisir ini, pengelola menyediakan kafe, museum kopi, tempat bermain, tempat membuat kerajinan dari biji kopi, hingga area pameran pengolahan kopi. Pihak pengelola juga membuat instalasi interaktif serupa pohon besar di dalam ruangan. Pohon imitasi tersebut dipasangi alat peniup gelembung yang akan jatuh ke tanah. Gelembung tersebut adalah representasi dari biji kopi.
Tong menambahkan, pabriknya juga mengembangkan wisata edukasi kopi. Mereka merancang setidaknya 18 sesi wisata untuk sekolah yang ingin melakukan studi tur. Kegiatan yang termasuk di dalamnya antara lain memetik biji kopi dari kebun, belajar menjalankan bisnis warung kopi, dan belajar proses pengolahan biji kopi.
”Banyak orang suka minum kopi, tetapi belum pernah lihat biji kopi segar. Itu sebabnya mereka tertarik ke Hainan,” ujar Tong. ”Di Hainan, ada kebijakan bebas visa untuk wisatawan luar negeri. Ini memudahkan mereka yang hendak datang. Kami pernah menerima rombongan dari Hongaria dan Rusia,” tambahnya.
Kebijakan bebas visa ke Provinsi Hainan berlaku per 9 Februari 2024 untuk pemegang paspor dari 59 negara, termasuk Indonesia. Negara-negara lain yang termasuk dalam daftar bebas visa ke Hainan antara lain Rusia, Perancis, Ukraina, Italia, Polandia, Uni Emirat Arab, Australia, Bosnia-Herzegovina, Hongaria, Belarus, Filipina, dan Brunei Darussalam. Turis luar negeri dapat berada di Hainan selama 30 hari.
Adapun industri kopi di Hainan diprediksi akan ikut berkembang dengan adanya operasi bea cukai khusus. Operasi ini adalah bagian dari kebijakan Pelabuhan Perdagangan Bebas (Free Trade Port/FTP) yang akan berlaku di seluruh pulau Provinsi Hainan per 18 Desember 2025. Kebijakan ini diusulkan oleh Presiden China Xi Jinping.
Dengan FTP, China membuat kerangka kebijakan yang mendorong liberalisasi dalam perdagangan. Beberapa fitur dalam kebijakan ini ialah tarif pajak rendah, simplifikasi pajak, tarif nol, dan birokrasi yang sederhana.
”Hainan menjadi garis depan keterbukaan China, pusat kerja sama regional yang dinamis, dan katalis baru bagi kemajuan globalisasi ekonomi,” kata Wang Bin, anggota Komite Tetap dari Partai Komunis China Komite Provinsi Hainan sekaligus Kepala Departemen Publikasi dan Juru Bicara Komite Partai Provinsi.
Penulis:
Sekar GandhawangiEditor:
Dahono FitriantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan