Teh Pembebas Kemiskinan dari Jiwozhai

Menyentuh atau memeluk pohon teh dipercaya dapat membawa keberuntungan. Hal itu jadi nyata bagi warga Desa Jiwozhai, China, yang akhirnya lepas dari kemiskinan.

20 Nov 2025 10:30 WIB · Cerita Perjalanan

KOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI

Oleh Sekar Gandhawangi, dari Yunnan, China

Perjalanan melintasi jalan berkelok dan menanjak selama lebih dari tiga jam akhirnya usai. Tubuh-tubuh yang dilanda mabuk darat pun keluar dari mobil dengan gontai, lalu menjejak jalanan basah di satu desa di China yang diselimuti kabut.

Pepohonan teh tua yang mengintip dari balik kabut tampaknya tak tega. Mereka pun berbisik, ”Mari nikmati dulu teh panas kami.”

Teh itu disajikan dalam cawan kecil pada Senin (10/11/2025). Uap panas membubung dan aroma menenangkan menguar dari bibir cawan. Satu seruputan seketika menghangatkan perut. Kepala jadi enteng. Mabuk darat pun kabur.

Teh ini sajian masyarakat Desa Jiwozhai, Kabupaten Jinping, Provinsi Yunnan, China. Kebetulan, teh adalah produk unggulan warga Jiwozhai. Desa ini terletak di bagian selatan China yang dipeluk pegunungan, tak jauh dari perbatasan China dengan Vietnam. Ada 46 kepala keluarga dan 218 penduduk beretnis Yao di desa ini.

Quote

Kalau kita menyentuh atau memeluk pohon teh, kita akan mendapat keberuntungan.

Untuk mencapai Desa Jiwozhai, para jurnalis Asia Pasifik mesti berkendara tiga jam dari pusat Kabupaten Jiwozhai. Rutenya mengingatkan pada jalan-jalan menuju kawasan pegunungan dan pelosok di Indonesia. Kiri-kanannya pepohonan, jauh dari mana-mana, berkelok-kelok, dan tidak semua jalannya mulus.

Desa Jiwozhai yang menjadi destinasi perjalanan ini menawarkan banyak hal. Selain udara bersih dan suasana sendu layaknya kota Forks di semesta Twilight karya Stephenie Meyer, Jiwozhai juga menyimpan banyak cerita tentang teh, mulai dari cerita pohon-pohon teh tua hingga upaya melepas belenggu kemiskinan melalui teh.

Suasana Desa Jiwozhai, Kabupaten Jinping, Provinsi Yunnan, China pada Senin (10/11/2025). Desa Jiwozhai memiliki lebih dari 11.000 pohon teh berusia lebih dari 100 tahun, bahkan ada yang disebut berusia lebih dari 1.000 tahun. Sumber daya ini kemudian diolah dan dikembangkan menjadi industri teh yang dikelola Koperasi Produksi dan Pemasaran Pohon Teh Kuno Jinping Ma’andi Yizhuolan. Ini adalah salah satu program pemerintah China untuk mengentaskan kemiskinan.

Pohon tua

Ada lebih dari 11.000 pohon teh berusia lebih dari 100 tahun di desa ini. Pepohonan itu masih berdiri kokoh di berbagai titik desa seluas 3,85 kilometer persegi tersebut.

”Orang China percaya kalau kita menyentuh atau memeluk pohon teh, kita akan mendapat keberuntungan,” kata salah satu warga Desa Jiwozhai sambil menunjuk sebatang pohon teh di salah satu sudut desa.

Beberapa pasang tangan segera menyentuh batang pohon berkayu keras tersebut. Mungkin karena hari itu sangat lembab, kulit kayu berlumut itu terasa basah dan sedikit lembek saat disentuh. Oleh pihak desa, pohon yang tumbuh menjulang menembus kabut itu disinyalir berusia lebih dari 1.000 tahun.

Mitos yang mengaitkan pohon teh dengan keberuntungan agaknya betul-betul terjadi di Jiwozhai. Menurut catatan pemerintah setempat, Desa Jiwozhai dinyatakan keluar dari kemiskinan pada 2018 setelah memanfaatkan potensi teh dan menggenjot industri teh dari desa.

Sejumlah orang menyentuh pohon teh yang disebut berusia lebih dari 1.000 tahun di Desa Jiwozhai, Kabupaten Jinping, Provinsi Yunnan, China, pada Senin (10/11/2025). Desa Jiwozhai memiliki lebih dari 11.000 pohon teh berusia lebih dari 100 tahun, bahkan ada yang disebut berusia lebih dari 1.000 tahun. Sumber daya ini kemudian diolah dan dikembangkan menjadi industri teh yang dikelola Koperasi Produksi dan Pemasaran Pohon Teh Kuno Jinping Ma’andi Yizhuolan. Ini adalah salah satu program Pemerintah China untuk mengentaskan rakyat miskin.
Warga beretnis Yao menunjukkan daun teh di Desa Jiwozhai, Kabupaten Jinping, Provinsi Yunnan, China, pada Senin (10/11/2025). Desa Jiwozhai memiliki lebih dari 11.000 pohon teh berusia lebih dari 100 tahun, bahkan ada yang disebut berusia lebih dari 1.000 tahun. Sumber daya ini kemudian diolah dan dikembangkan menjadi industri teh yang dikelola Koperasi Produksi dan Pemasaran Pohon Teh Kuno Jinping Ma’andi Yizhuolan. Ini adalah salah satu program Pemerintah China untuk mengentaskan rakyat miskin.
Seorang warga menunjukkan daun teh di Desa Jiwozhai, Kabupaten Jinping, Provinsi Yunnan, China, pada Senin (10/11/2025). Desa Jiwozhai memiliki lebih dari 11.000 pohon teh berusia lebih dari 100 tahun, bahkan ada yang disebut berusia lebih dari 1.000 tahun. Sumber daya ini kemudian diolah dan dikembangkan menjadi industri teh yang dikelola Koperasi Produksi dan Pemasaran Pohon Teh Kuno Jinping Ma’andi Yizhuolan. Ini adalah salah satu program Pemerintah China untuk mengentaskan rakyat miskin.

Dulu, pemanfaatan potensi teh di Desa Jiwozhai tidak maksimal karena belum ada teknologi mutakhir untuk memproses teh, mengemasnya, bahkan menjualnya secara luas. Di masa lalu, para petani teh hanya memanen daun teh dalam jumlah besar, lalu dijual ke pengepul dengan harga rendah.

Pada 2012, Pemerintah China mulai menggencarkan program pengentasan kemiskinan. Desa Jiwozhai yang ada di bawah Komite Desa Dixibei, Kotapraja Ma’andi, termasuk dalam salah satu target program serupa pada 2014. Tepatnya ada 22 rumah tangga atau setara 97 orang yang menjadi target program pengentasan kemiskinan.

Quote

Teh membantu kita melampaui batasan bahasa dan budaya. Teh adalah media untuk memahami budaya China lebih jauh.

Program ini dilakukan lewat upaya penanaman, pemrosesan, hingga penjualan teh. Ada pula penyediaan sarana produksi pertanian dan pembibitan. Semuanya dikelola melalui Koperasi Produksi dan Pemasaran Pohon Teh Kuno Jinping Ma’andi Yizhuolan. Koperasi ini membantu mentransformasi sumber daya desa menjadi aset, petani jadi pemegang saham, dan keluarga miskin menjadi pekerja.

Adapun pemerintah berinvestasi untuk mendorong industri teh yang dikelola koperasi. Menurut kepala koperasi ini, Su Yuanhi, nilai investasi dari Pemerintah Yunnan dan Shanghai mencapai 2,8 juta yuan.

Pada 2024, pendapatan penjualan teh dari Desa Jiwozhai mencapai lebih dari  3 juta yuan atau setara sekitar Rp 7 miliar. Angka ini meningkatkan pendapatan puluhan keluarga dengan angka rata-rata 29.000 yuan atau sekitar Rp 68 juta.

Proses produksi

Usai menyentuh pohon berusia 1.000-an tahun di jalanan menanjak di Jiwozhai, Su Yuanhi mengajak rombongan jurnalis Asia Pasifik untuk turun menyusuri jalan basah menuju pabrik produksi teh. Lokasinya tak jauh dari pohon tua.

Hal pertama yang tampak setelah pintu dibuka adalah ruangan luas dengan jajaran wajan besar di dekat dinding. Ada tungku api berisi kayu bakar di bawah wajan.

Para pekerja menyangrai daun teh di wajan tersebut tanpa sudip. Mereka lebih suka membolak-balik daun teh panas dengan tangan yang dibalut sarung tangan.

Kata mereka, itu cara terbaik untuk merasakan perubahan suhu daun teh yang tengah disangrai. Adapun teh disangrai selama lebih kurang 35 menit.

”Kita biasanya menunggu selama lima jam setelah daun teh dipanen, baru bisa disangrai. Hasilnya akan lebih optimal. Kalau kita langsung menyangrai daun teh setelah dipetik, rasa tehnya akan pahit dan aromanya tidak keluar,” ucap Su.

Warga Desa Jiwozhai, Kabupaten Jinping, Provinsi Yunnan, China, mengolah teh pada Senin (10/11/2025). Desa Jiwozhai memiliki lebih dari 11.000 pohon teh berusia lebih dari 100 tahun, bahkan ada yang disebut berusia lebih dari 1.000 tahun. Sumber daya ini kemudian diolah dan dikembangkan menjadi industri teh yang dikelola Koperasi Produksi dan Pemasaran Pohon Teh Kuno Jinping Ma’andi Yizhuolan. Ini adalah salah satu program Pemerintah China untuk mengentaskan kemiskinan.
Daun teh produksi Desa Jiwozhai, Kabupaten Jinping, Provinsi Yunnan, China, pada Senin (10/11/2025). Desa Jiwozhai memiliki lebih dari 11.000 pohon teh berusia lebih dari 100 tahun, bahkan ada yang disebut berusia lebih dari 1.000 tahun. Sumber daya ini kemudian diolah dan dikembangkan menjadi industri teh yang dikelola Koperasi Produksi dan Pemasaran Pohon Teh Kuno Jinping Ma’andi Yizhuolan. Ini adalah salah satu program Pemerintah China untuk mengentaskan kemiskinan.
Warga Desa Jiwozhai, Kabupaten Jinping, Provinsi Yunnan, China, menyuguhkan teh produksi desanya pada Senin (10/11/2025). Desa Jiwozhai memiliki lebih dari 11.000 pohon teh berusia lebih dari 100 tahun, bahkan ada yang disebut berusia lebih dari 1.000 tahun. Sumber daya ini kemudian diolah dan dikembangkan menjadi industri teh yang dikelola Koperasi Produksi dan Pemasaran Pohon Teh Kuno Jinping Ma’andi Yizhuolan. Ini adalah salah satu program Pemerintah China untuk mengentaskan kemiskinan.
Warga Desa Jiwozhai, Kabupaten Jinping, Provinsi Yunnan, China, mengolah teh pada Senin (10/11/2025). Desa Jiwozhai memiliki lebih dari 11.000 pohon teh berusia lebih dari 100 tahun, bahkan ada yang disebut berusia lebih dari 1.000 tahun. Sumber daya ini kemudian diolah dan dikembangkan menjadi industri teh yang dikelola Koperasi Produksi dan Pemasaran Pohon Teh Kuno Jinping Ma’andi Yizhuolan. Ini adalah salah satu program pemerintah China untuk mengentaskan kemiskinan.

Usai disangrai, daun teh akan ditumpahkan di atas tampah bambu untuk didinginkan. Tak lama kemudian, para pekerja mengumpulkan daun panas itu, menggulungnya menjadi bola besar, lantas ditekan-tekan sambil digulingkan di atas tampah.

Aroma campuran asap dan tanah basah segera memenuhi indra penciuman. Menurut salah satu pekerja, proses ini berfungsi untuk mengeluarkan aroma daun teh secara optimal. Setelah dirasa cukup, daun teh panggang tersebut dibawa ke lantai dua untuk dikeringkan secara alami dengan sinar matahari.

Durasi proses pengeringan ini tergantung cuaca. Jika matahari bersinar cerah, prosesnya bisa lebih cepat dibanding saat mendung dan hujan. Daun yang sudah kering lantas dibawa untuk diproses dengan mesin, dikemas, dan siap untuk dipasarkan.

Jika ingin mencicipi langsung teh produksi desa ini, ada ruang terbuka—lengkap dengan peralatan menyeduh teh tradisional China—yang dapat disinggahi. Penduduk desa yang berpakaian khas etnis Yao akan dengan senang hati menyeduh teh dan menuangkannya ke cawan-cawan kecil di hadapan Anda.

Jangan lupa untuk mengetukkan jari atau kepalan tangan Anda ke meja sebanyak dua kali saat ada yang menuangkan teh. Dalam budaya China, itu adalah tanda hormat atau cara mengucapkan terima kasih.

”Teh membantu kita melampaui batasan bahasa dan budaya. Teh adalah media untuk memahami budaya China lebih jauh,” ucap salah satu warga desa.

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Sekar Gandhawangi, dari Yunnan, China
 | 

Editor:

Dwi As Setianingsih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto