Jejak Kunjungan Tiga Paus di Tanah Air: Mulai Paus Paulus VI, Yohanes Paulus II, dan Fransiskus

Dalam sejarah, tiga Paus pernah berkunjung ke Indonesia. Di setiap kunjungan, pemimpin Gereja Katolik itu meninggalkan kesan mendalam dan kagumi keragaman RI.

22 Apr 2025 16:07 WIB · Politik & Hukum

Oleh Nina Susilo, Cyprianus Anto Saptowalyono

Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia, wafat pada Senin (21/4/2025). Indonesia mengenangnya melalui teladan yang nyata, tanpa dibuat-buat. Kenangan itu sungguh melekat saat Sri Paus melakukan kunjungan apostolik ke Indonesia pada 3-6 September 2024.

Kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia disambut Presiden ke-7 RI Joko Widodo dengan upacara kenegaraan di Istana Merdeka, Rabu (4/9/2024). Lagu kebangsaan kedua negara, ”Indonesia Raya” dan ”Inno e Marcia Pontificale”, dikumandangkan bersamaan dengan 21 kali tembakan salvo.

Seusai upacara kenegaraan, selain mengenalkan para menterinya, secara khusus Jokowi mengenalkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sebagai Presiden terpilih kepada Paus Fransiskus. Prabowo pun tampak sempat berbincang sejenak dengan Paus Fransiskus.

Tak hanya berbincang empat mata di beranda belakang Istana Merdeka, Presiden Jokowi kemudian mengajak Paus Fransiskus bertemu dengan sejumlah korps diplomatik yang ada di Indonesia, para tokoh agama, dan tokoh nasional Indonesia di Istana Negara, Jakarta.

Paus Fransiskus menyapa warga saat melintas di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (3/9/2024).

Dalam kunjungannya, tampak jelas kesederhanaan karakter Sri Paus. Hal itu terlihat sejak Sri Paus tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, yang menggunakan pesawat komersial Alitalia, bukan dengan jet pribadi.

Jam tangan sederhana yang dikenakan di pergelangan Paus Fransiskus pun menjadi perhatian warga Indonesia. Jam tangan Casio yang mudah diperoleh semua warga dengan harga seratus ribuan dinilai terlampau sederhana dan membuat warga terharu.

Sebagai pemimpin 1,3 miliar anggota umat Katolik dunia sekaligus Kepala Negara Vatikan, Paus Fransiskus tentu bisa mendapatkan apa pun. Namun, kaul kesederhanaan sebagai imam Katolik tak pernah ditinggalkan dan ini menjadi teladan yang betul-betul membekas.

Untuk mobilitas sepanjang lawatan dan kegiatannya yang padat di Jakarta, Paus Fransiskus hanya menggunakan Toyota Kijang Innova Zenix. Jauh dari jenama yang lebih mentereng yang biasa digunakan pemimpin negara di dunia, Paus lebih menggunakan kendaraan yang relatif jamak digunakan warga biasa.

Setelah kedatangan Paus Fransiskus ini, beberapa pejabat pun tampak mengganti kendaraan yang ditumpangi dengan Toyota Kijang Innova Zenix. Namun, seiring waktu berlalu, kini rasanya hampir tak ada lagi pejabat tinggi di negeri ini yang menggunakan kendaraan itu.

Paus Fransiskus didampingi Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menuju mobil yang akan membawanya menuju Kedutaan Besar Takhta Suci Vatikan di Jakarta setibanya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (3/9/2024).
Paus Fransiskus tiba di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (4/9/2024).
Presiden Joko Widodo dan Paus Fransiskus mengadakan pertemuan empat mata di Veranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (4/9/2024). Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kanan) tampak mendampingi presiden.
Paus Fransiskus (kedua dari kanan) dan Presiden Indonesia Joko Widodo (ketiga dari kanan) menghadiri pertemuan dengan pihak berwenang Indonesia, masyarakat sipil dan korps diplomatik di Istana Kepresidenan di Jakarta, Rabu (4/9/2024). Dalam kunjungan apostoliknya ke Asia-Pasifik, Paus berusia 87 tahun itu tampak dalam keadaan sehat dan bersemangat saat bertemu dengan Presiden Indonesia.
Paus Fransiskus bercengkerama dengan salah seorang anak saat menggelar audiensi dengan komunitas pemuda yang diinisiasi oleh Scholas Occurrentes di Gedung Grha Pemuda, kompleks Gereja Katedral, Jakarta, Rabu (4/9/2024). Pertemuan tersebut mengakhiri agenda hari kedua kunjungan Paus Fransiskus di Indonesia. Scholas Occurrentes merupakan gerakan pemuda yang diinisiasi oleh Paus Fransiskus saat masih menjadi Uskup Buenos Aires, Argentina. Gerakan ini mempertemukan kaum muda secara inklusif dan menetapkan aksi bersama mengimplementasikan nilai-nilai universal dalam hidup bermasyarakat.
Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar (kiri), mencium kening Paus Fransiskus, saat meninggalkan tempat itu usai menandatangani "Deklarasi Bersama Istiqlal 2024" di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis, 5 September 2024.
Seorang anak menyalami Paus Fransiskus saat berkunjung ke Kantor Konferensi Waligereja Indonesia, Jakarta, Kamis (5/9/2024).

Joko Widodo pun mengenang kesederhanaan dan kepemimpinan dalam kasih Paus Fransiskus dalam ucapan belasungkawa yang diunggahnya di media sosialnya. ”Saya masih ingat dengan jelas pertemuan kami saat kunjungan beliau ke Indonesia. Dengan kehangatan, kesederhanaan, dan ketulusannya, beliau menjadi contoh nyata kekuatan persaudaraan di tengah perbedaan,” tulisnya.

Ia juga mengenang Paus Fransiskus tak pernah lelah menyerukan perdamaian, termasuk harapan akan perdamaian konflik dan kemerdekaan rakyat Palestina. Keteladanan Sri Paus Fransiskus menjadi inspirasi bagi banyak orang, juga umat Katolik di Indonesia yang menjadi bagian penting dalam menjaga persatuan, menyebarkan kasih, dan toleransi antarumat beragama.

”Turut berdukacita atas wafatnya Sri Paus Fransiskus. Selamat jalan, jiwa mulia. Selamat beristirahat dalam kedamaian,” tulis Jokowi lagi.

Prabowo Subianto yang sempat bertemu dalam kunjungan September 2024 itu pun mengakui ada pesan kesederhanaan, pluralisme, dan keberpihakan kepada orang miskin. ”Kepedulian Sri Paus terhadap sesama akan selalu menjadi teladan bagi kita semua,” tulis Prabowo dalam unggahannya di media sosial.

Prabowo pun menyebut wafatnya Paus Fransiskus sebagai kehilangan sosok panutan yang memiliki komitmen besar terhadap perdamaian, kemanusiaan, dan persaudaraan.

Quote

Kepedulian Sri Paus terhadap sesama akan selalu menjadi teladan bagi kita semua.

Selain Paus Fransiskus, sesungguhnya sudah ada dua paus lain yang pernah mengunjungi Indonesia. Keduanya datang di masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Kunjungan Paus Paulus VI

Kunjungan pertama adalah Paus Paulus VI pada 3 Desember 1970. Paus Paulus VI bertakhta dari 21 Juni 1963 hingga wafat pada 6 Agustus 1978.

Merujuk arsip Kompas, Sri Paus VI dalam perjalanan pulang dari Australia ke Roma dan singgah semalam, 3-4 Desember 1970, di Jakarta atas undangan Presiden Soeharto dan uskup-uskup di Indonesia.

Dalam pidato selamat datangnya, Presiden Soeharto menyebut rakyat Indonesia bukan saja menghargai peran Sri Paus sebagai penggembala agung umat Katolik sedunia, tetapi hal ini juga lahir dari hati nurani bangsa Indonesia yang memiliki falsafah hidup Pancasila dalam membangun bangsa dan masa depannya.

”Bangsa Indonesia tidak membeda-bedakan suku, asal-usul, kedudukan, ataupun keyakinan agamanya,” tuturnya.

Arsip pemberitaan kedatangan Paus Paulus VI di Indonesia. Rangkaian liputan harian Kompas terkait kunjungan Paus Paulus ke VI rampung pada 5 Desember 1970 dengan judul “Paus Paulus: TerimaKasih, Selamat Tinggal Sampai Berdjumpa Lagi.”.

Sri Paus dalam sambutannya segera setelah tiba di Jakarta mengatakan”, kedatangannya ke Indonesia tidak ingin menarik keuntungan atau menyenangkan diri sendiri. ”Apa yang ingin saya lakukan hanyalah berbuat baik, berbuat sebaik mungkin, oleh karena inilah yang dikehendaki Tuhan daripada saya.”

Dalam perjalanan ke beberapa negara, dia hanya berusaha bekerja demi perbaikan nasib umat manusia dengan tujuan mencapai perdamaian dan keadilan. Sebab, tanpa keadilan, tak akan bisa dicapai perdamaian.

Paus Paulus VI pun menyampaikan kekagumannya pada keindahan Indonesia serta keberagaman di negeri ini. Penduduk Indonesia terdiri atas pemeluk agama besar dunia, seperti Kristen, Islam, Buddha, dan Hindu.

Sri Paus juga memuji pemerintah dan rakyat Indonesia atas kesadaran beribadahnya yang mendalam.

Quote

Apa yang ingin saya lakukan hanyalah berbuat baik, berbuat sebaik mungkin, oleh karena inilah yang dikehendaki Tuhan daripada saya.

Dalam pertemuan singkat dengan Sri Paus di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (3/12/1970) sore, Presiden Soeharto pun meminta Sri Paus berdoa untuk Indonesia. Hal ini, menurut Menteri Frans Seda, baru kali ini terjadi seorang kepala negara meminta Paus Paulus VI untuk mendoakan negaranya.

Di akhir kunjungannya, Harian Kompas pun memberinya salam perpisahan dengan judul berita di halaman pertama ”Paus Paulus: ”Terimakasih, Selamat Tinggal Sampai Berdjumpa Lagi”. Judul tersebut merupakan bagian dari salam perpisahan yang disampaikan Paus Paulus VI sebelum bertolak ke Roma dari Lapangan Terbang Kemayoran, Jakarta, Jumat, 4 Desember 1970.

Infografik Kunjungan Paus Paulus VI ke Indonesia pada 1970

Pada kesempatan tersebut, Sri Paus menyampaikan perhargaan setinggi-tingginya atas penerimaan yang khidmat. Tak lupa, doa pun dilambungkan Sri Paus bagi Indonesia. ”Dengan tak henti-hentinya kami akan berdoa untuk kemakmuran, kerukunan, dan kebahagiaan rakyat Indonesia, yang sekalipun dalam perbedaan kebudayaan dan agama, sudah menemukan jalan persatuannya,” tutur Paus Paulus VI.

”Kami ingin memberi pertanda atas kunjungan kami dengan menyampaikan suatu kenangan sebagai cinta kasih kami kepada rakyat. Hendaklah kami diizinkan menghadiahkan empat ambulans yang masing-masing dapat dipergunakan untuk rumah sakit pemerintah, Islam, Kristen, dan Katolik. Terima kasih. Selamat tinggal. Sampai berjumpa lagi,” kata Sri Paus kala itu.

Adapun Presiden Soeharto dalam ucapan selamat jalannya mengemukakan bahwa sekalipun kunjungan Sri Paus ke Indonesia sangat singkat, sangat berkesan dalam hati presiden serta para pemimpin dan pejabat Indonesia. ”Saya yakin kesan yang sama juga membekas sangat dalam pada umat Katolik Indonesia dan masyarakat Jakarta,” kata Kepala Negara.

Quote

Dengan tak henti-hentinya kami akan berdoa untuk kemakmuran, kerukunan, dan kebahagiaan rakyat Indonesia, yang sekalipun dalam perbedaan kebudayaan dan agama, sudah menemukan jalan persatuannya.

Paus Paulus V kini sudah tiada. Sebagai Paus, ia memulai hubungan langsung dengan masyarakat dunia, dengan berkunjung secara pribadi ke beberapa negara, termasuk Indonesia dan juga tampil di depan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ( tahun 1965). Paus Paulus ke VI melambai-lambaikan tangannya sebelum memasuki pesawat di lapangan terbang Fiumicino, Roma, Sebelum bertolak ke beberapa Asia-Pasifik; 26 Nopember 1970. Paulus ke-VI juga melakukan kontak-kontak langsung dengan para pemimpin berbagai agama, dan banyak mengangkat pemimpin Gereja yang berkebangsaan buka Italia

Satu windu kemudian, pada 8 Agustus 1978, dalam tajuk rencana berjudul ”Paus Paulus VI Wafat”, Kompas pun turut mengenang Sri Paus yang berpulang di hari Minggu, 6 Agustus 1978 jam 21.44 waktu setempat atau Senin dini hari pukul 02.40 WIB. Berikut petikannya.

”Yang kita kenang pertama ialah persinggahannya ke Indonesia, delapan tahun sebelumnya. Saat itu, perjalanannya padat dan panjang itu mencakup Australia, Filipina, Indonesia, Srilangka, Pakistan, dan Iran.

Itulah salah satu ciri kepausannya: menjadi Paus pertama dalam jaman modern, yang bepergian ke lima benua: Uganda di Afrika, Bogota di Amerika Latin, New York di Amerika Serikat, Geneva di Eropa.”

Kunjungan Paus Yohanes Paulus II

Kunjungan berikutnya ke Tanah Air dilakukan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 9-14 Oktober 1989. Paus Yohanes Paulus II menduduki takhta suci Vatikan dari 16 Oktober 1978 hingga wafatnya pada 2 April 2005.

Kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia terbilang panjang dan padat kegiatan. Mengawali kunjungan enam harinya di Indonesia, saat mendarat di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, 9 Oktober 1989 siang, Paus Yohanes Paulus II mencium tanah. Ini menjadi penanda kecintaannya pada bumi yang diinjaknya.

Dirjen Protokol Departemen Luar Negeri JB Soedarmanto Kadarisman menjadi saksi. Semua hal tersebut terabadikan dalam foto kedatangan Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia yang terbit di Kompas, Selasa, 10 Oktober 1989.

Selain Jakarta, kala itu Paus Yohanes Paulus II mendatangi dan menyapa umat Katolik di sejumlah wilayah di Tanah Air, seperti Medan, Yogyakarta, Maumere, dan Dili (di Timor-Timur, kini Timor Leste). Paus Yohanes Paulus II pun berterima kasih kepada Presiden Soeharto dan seluruh masyarakat Indonesia dan menyatakan sangat terkesan akan lawatannya ke Indonesia yang berakhir pada Sabtu, 14 Oktober 1989.

”Lawatan ini akan lama sekali terkenang,” kata Paus Yohanes Paulus II dalam acara pertemuan dengan para uskup dan panitia penyambutan Konferensi Waligereja Indonesia di Kedutaan Vatikan, Jakarta, Jumat, 13 Oktober 1989, malam.

Paus Yohanes Paulus II saat berkunjung ke  Medan, Oktober 1989.

Seperti dicatat Kompas, Paus Yohanes Paulus II dalam kunjungannya saat itu menyatakan kekagumannya pada dasar negara Pancasila serta pada toleransi masyarakat Indonesia terhadap sesama umat beragama. Sri Paus mengutarakan hal tersebut dalam kunjungan kehormatan sekaligus pembicaran awal dengan Presiden Soeharto di Istana Merdeka, Senin, 9 Oktober 1989, sore.

Berselang belasan tahun kemudian, pada Minggu, 3 April 2005, halaman satu Kompas menampilkan tulisan Stop Press di sebuah kotak kolom berlatar warna hitam dengan infografis kronologi kesehatan Paus Yohanes Paulus II di sampingnya. Tepat di bawah infografis tersebut tertera judul utama berita: Selamat Jalan Sri Paus.

Saat itu halaman satu Kompas menampilkan foto Paus Yohanes Paulus II yang sedang mengamati burung merpati yang dilepaskan anak-anak dari jendela apartemen pribadinya pada 30 Januari 2005. Sri Paus wafat pada Sabtu, 2 April 2005 waktu setempat.

Dalam peziarahannya dalam memimpin umat Katolik sedunia, ketiga paus tersebut—Paus Paulus VI, Paus Yohanes Paulus II, dan Paus Fransiskus—pernah mengunjungi Indonesia. Sebuah perjalanan apostolik dalam bagian peziarahannya menuju Sang Pencipta.





Kerabat Kerja

Penulis:

Nina Susilo, Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Editor:

C. Wahyu Haryo P
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul