Sepanjang hidupnya, Paus selalu menunjukkan belas kasih dengan membela kaum yang paling rentan.
21 Apr 2025 20:15 WIB · Internasional
”Siapakah saya untuk menghakimi?” Kalimat itu adalah salah satu perkataan fenomenal Paus yang menjaga nurani dunia. Sepanjang hidupnya, Paus meninggalkan banyak ajaran berharga tentang belas kasih yang tidak terbatas.
Paus Fransiskus wafat di Vatikan, Senin (21/4/2025). Ia mengembuskan napas terakhir pada usia 88 tahun, sehari setelah perayaan Paskah.
Paus Fransiskus lahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio pada 17 Desember 1936, di Buenos Aires, Argentina. Dia merupakan keturunan imigran Italia.
Pada 1969, Bergoglio ditahbiskan sebagai pendeta dalam ordo Jesuit. Jesuit adalah ordo yang berkomitmen terhadap pendidikan dan keadilan sosial, khususnya kaum miskin dan terpinggirkan. Kariernya berjalan seiring waktu, sampai akhirnya Paus Yohanes Paulus II mengangkatnya sebagai kardinal pada 2001.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/21/233f3968-c97c-4e92-8b9f-fc7ca2114698_jpg.jpg)
Secara mengejutkan, Bergoglio terpilih menjadi Paus dalam sebuah konklaf pada Maret 2013. Ia menggantikan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri.
Bergoglio sengaja memilih nama Fransiskus sebagai bentuk penghormatan terhadap Santo Fransiskus dari Assisi. Santo Fransiskus terkenal sebagai sosok yang berkomitmen terhadap kemiskinan, perdamaian, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Keterpilihan Bergoglio mencetak banyak sejarah pertama. Dia adalah Paus non-Eropa pertama setelah 1.300 tahun, orang pertama dari Amerika Latin, dan anggota Jesuit pertama.
Sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma, Bergoglio hidup sederhana, jauh dari banyak atribut tradisional kepausan. Dia tinggal di wisma tamu Vatikan ketimbang Istana Apostolik. Penampilannya biasa saja. Dia tidak memakai baju tradisional paus dan mengenakan jam tangan plastik murah.
Paus Fransiskus turut mendorong reformasi Gereja Katolik. Ia menekankan transparansi, akuntabilitas, dan reformasi keuangan. Dia pun mengangkat lebih banyak perempuan untuk jabatan senior. Alhasil, ia mendapat tantangan dari kaum konservatif.
Lewat berbagai khotbah, wawancara, dan percakapan, Paus Fransiskus kerap menekankan tentang belas kasihan. Dalam beberapa kejadian, komentarnya terkadang spontan dan tak terduga. Pejabat-pejabat Vatikan sampai kaget.
Salah satu momen itu terjadi pada tahun 2013. The New York Times menulis, Paus berbincang dengan wartawan dalam penerbangan dari Rio de Janeiro, Brasil. Dalam kesempatan itu, ia membahas homoseksualitas, topik tabu bagi Vatikan.
”Jika seseorang gay dan ia mencari Tuhan serta memiliki niat baik, siapakah saya untuk menghakiminya?” kata Paus.
Dalam buku The Name of God is Mercy (2016), Paus menjelaskan makna perkataannya. Pada waktu itu, dia memarafrasa Katekismus Gereja Katolik bahwa kaum tersebut harus diperlakukan dengan lembut dan tidak dipinggirkan.
Manusia tidak seharusnya didefinisi hanya berdasarkan orientasi seksual. ”Janganlah kita lupa bahwa Tuhan mengasihi semua ciptaan-Nya dan kita ditakdirkan untuk menerima kasih-Nya yang tak terbatas,” tutur Paus kepada Andrea Tornielli, jurnalis Italia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/21/d4affe37-ea94-499c-81b4-42a5f5e60fa3_jpg.jpg)
Belas kasih juga Paus tunjukan kepada para migran. Pada 2013, Paus mengunjungi Pulau Lampedusa, Italia, untuk bertemu para imigran. Dia mengecam ”globalisasi ketidakpedulian” untuk mereka.
Paus juga berdoa untuk para imigran yang meninggal di perbatasan Amerika Serikat-Meksiko tahun 2016. Kepada calon Presiden AS Donald Trump kala itu, Paus mengatakan, siapa pun yang membangun tembok untuk mencegah masuknya imigran bukanlah seorang Kristen”.
Seruan tentang belas kasih sudah Paus lakukan sejak pertama menjabat. Pada 17 Maret 2013, empat hari setelah terpilih, ia memberi berkat Angelus pertama di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Sebanyak 300.000 orang hadir, demikian laporan The Guardian.
”Sedikit belas kasihan membuat dunia tidak terlalu dingin dan lebih adil. Kita perlu memahami dengan benar belas kasihan Tuhan ini, Bapa yang penuh belas kasihan yang begitu sabar,” kata Paus.
Apa itu belas kasih bagi Paus? Dalam buku The Name of God is Mercy, Paus menjabarkan kata belas kasih (mercy) berasal dari bahasa Latin misericordis. Artinya, membuka hati seseorang terhadap kesengsaraan.
”Belas kasihan adalah sikap ilahi yang merangkul, itu adalah Tuhan yang memberikan diri-Nya kepada kita, menerima kita, dan tunduk untuk mengampuni,” ujar Paus.
Dunia, menurut Paus, membutuhkan belas kasih. ”Karena manusia terluka, terluka sangat dalam,” tuturnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/21/32b0cdcf-54ec-4379-97ba-55ce7434a143_jpg.jpg)
Paus melanjutkan, janganlah menjauh dari orang-orang yang sedang menderita. Gereja, khususnya Romo, perlu menunjukkan belas kasih dan kasih sayang untuk umat-umat yang tersesat.
”Jika kita tidak menunjukkan kasih dan belas kasihan Tuhan kepada mereka, kita menjauhkan mereka dan mungkin mereka tidak akan pernah kembali. Jadi, rangkullah mereka dan berbelas kasihlah, bahkan jika Anda tidak dapat memaafkan mereka. Berikan mereka berkat,” kata Paus. (AP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul