PEMBINAAN OLAHRAGA

Jelang Asian Games 2026, KOI Dorong Komitmen Pemerintah soal Pendanaan

Federasi-federasi olahraga mengeluhkan kebutuhan pendanaan untuk Asian Games 2026 yang tinggal empat bulan lagi. KOI akan bersurat ke Kementerian Keuangan soal ini.

09 Mei 2026 18:15 WIB · Olahraga

KOMPAS/REBIYYAH SALASAH

Oleh Rebiyyah Salasah

JAKARTA, KOMPAS — Komite Olimpiade Indonesia mendorong keberpihakan nyata pemerintah terhadap peningkatan prestasi olahraga, termasuk komitmen soal pendanaan pemusatan latihan bagi para atlet. Hal ini dinilai mendesak menjelang partisipasi Indonesia di ajang-ajang besar, seperti Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dan Olimpiade Los Angeles 2028.

Asian Games Aichi-Nagoya 2026 akan digelar dalam empat bulan mendatang atau mulai 19 September. Adapun kualifikasi Olimpiade Los Angeles diawali pada 2027. Namun, dalam rentang waktu yang tidak lama itu, persiapan para atlet di sejumlah federasi olahraga terkendala pendanaan untuk pemusatan latihan.

Problem tersebut terungkap dalam pembukaan Rapat Anggota Komite Olimpiade Indonesia (KOI) 2026 yang digelar di Jakarta, Sabtu (9/5/2026). Dalam forum yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan olahraga ini, Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari mengungkapkan, pihaknya mendapatkan masukan dan keluhan dari cabang olahraga terkait kebutuhan pendanaan.

Menurut Okto, komitmen pemerintah, khususnya Presiden Prabowo Subianto, terhadap olahraga telah terlihat jelas. Namun, komitmen itu perlu diikuti dengan keberpihakan nyata dalam proses anggaran, terutama dalam mendukung program pelatihan jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang.

Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Raja Sapta Oktohari, memimpin Rapat Anggota KOI di Jakarta, Sabtu (9/5/2026).

”Prestasi tidak bisa instan, butuh proses panjang, dan dukungan berkelanjutan. Karena itu, semua kepentingan harus diselaraskan dengan satu tujuan utama, yaitu mendorong prestasi olahraga Indonesia di panggung dunia,” ujar Okto.

”Kami berharap ada keberpihakan yang lebih maksimal dalam pembiayaan,” ucapnya menambahkan.

Untuk itu, kata Okto, KOI akan menjalankan perannya sebagai jembatan aspirasi federasi olahraga kepada pemerintah, khususnya terkait tantangan pendanaan tersebut. Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah bersurat kepada Kementerian Keuangan untuk membuka ruang komunikasi langsung.

Komunikasi yang terbuka dan selaras antarpemangku kepentingan menjadi kunci untuk memastikan pembinaan atlet berjalan optimal. Terlebih, atlet akan menghadapi sejumlah agenda penting, seperti Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dan Olimpiade Los Angeles 2028.

”Kami yakin, dengan duduk bersama, akan ada solusi konkret,” ucap Okto.

Efisiensi

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir tak memungkiri bahwa pemerintah tengah melakukan efisiensi anggaran. Meski begitu, ia menekankan, pemerintah membuka ruang dialog dan terus menyerap aspirasi dari cabang olahraga terkait kebutuhan pendanaan.

Erick juga menegaskan, kendati efisiensi anggaran, pengiriman kontingen ke Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tidak akan terganggu. ”Untuk pengiriman ke Asian Games 2026 sudah aman,” kata Erick.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyapa atlet selepas Justin Barki/Christopher Rungkat memenangi pertandingan hari kedua playoff Grup II Dunia Piala Davis 2026 melawan pasangan Togo, Kwami Stanislas Dussey/Jean-Paul Kadangah Kili, di Stadion Tenis Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (8/2/2026). Justin/Christo menang 6-0, 7-5 sekaligus memastikan Indonesia lolos ke Grup II Dunia.

”Saat ini kami juga mengajukan skema pelatnas jangka panjang kepada Menteri Keuangan, sesuai arahan Presiden. Karena pembinaan tidak hanya untuk satu event, tetapi berkelanjutan, mulai dari jangka pendek, menengah, hingga Olimpiade,” tuturnya.

Penghargaan

Rapat Anggota KOI 2026 dibuka dengan sejumlah agenda, termasuk pemberian penghargaan The Game Changer Award kepada para pelaku olahraga. Proses pemilihan penerima penghargaan yang dilakukan oleh tim panelis independen dari unsur KOI dan jurnalis senior didasarkan pada prestasi di ajang multicabang, kualitas performa dan kontribusi, serta implementasi nilai-nilai Olympism—excellence, friendship, dan respect—serta aspek tata kelola dan integritas untuk kategori pelatih dan federasi.

Dari kategori tersebut, atlet pencak silat Safira Dwi Meilani dinobatkan sebagai Atlet Terbaik Bela Diri, sedangkan petenis putri Janice Tjen meraih Atlet Terbaik Olahraga Permainan. Pada kategori olahraga akurasi, penghargaan diberikan kepada atlet panahan Diananda Choirunisa, sedangkan kategori olahraga terukur diraih oleh atlet triatlon Martina Ayu Pratiwi.

Di sektor kepelatihan, penghargaan Pelatih Terbaik diberikan kepada Muhammad Dhaarma Raj, pelatih timnas hoki. Sementara itu, pemenang The Rising Star adalah atlet skateboard Basral Graito Utomo. Penghargaan tertinggi, Best of the Best, diberikan kepada Rizki Juniansyah atas prestasi dan rekor dunia di angkat besi.

Rizki menyampaikan bahwa penghargaan tersebut menjadi motivasi besar untuk terus berprestasi. ”Penghargaan ini menjadi motivasi besar bagi saya untuk terus memberikan yang terbaik bagi Indonesia,” ujarnya.

Atlet, pelatih, federasi, dan tokoh olahraga nasional penerima penghargaan The Game Changer Award berfoto dalam Pembukaan Rapat Anggota Komite Olimpiade Indonesia (KOI) 2026 di Jakarta, Sabtu (9/5/2026).

Adapun timnas futsal putra Indonesia dinobatkan sebagai Tim Terbaik, sedangkan Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Indonesia meraih penghargaan sebagai Federasi Nasional Terbaik. Penghargaan Lifetime Achievement diberikan kepada almarhum Bob Hasan atas dedikasinya terhadap olahraga nasional.

Dalam kesempatan yang sama, President of United Through Sports (UTS) sekaligus ⁠⁠President of the Alliance of Independent Members of Sport (AIMS) dan ⁠⁠Executive Council Member SportAccord Stephan Fox juga memberikan penghargaan khusus Order of Merit. Penghargaan diberikan kepada anggota Komite Olimpiade Internasional dari Indonesia yang juga Menpora Erick Thohir serta Ketua NOC Indonesia dan Raja Sapta Oktohari atas kontribusi mereka dalam memajukan olahraga serta mempromosikan inklusi, kesetaraan, dan nondiskriminasi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul