Jelang Bertemu Trump, PM India Beri Potongan Tarif bagi AS

India berupaya mengurangi potensi ancaman tarif oleh AS. India juga berencana membeli alutsista dari AS.

10 Feb 2025 21:00 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

NEW DELHI, SENIN — Menjelang bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Perdana Menteri India Narendra Modi berencana memberikan potongan tarif ekstra bagi barang-barang impor dari AS. Untuk mengurangi potensi ancaman tarif oleh AS, India juga akan membeli dan memproduksi bersama alutsista dari AS.

Rencana potongan tarif ekstra disampaikan beberapa pejabat Pemerintah India yang tidak mau disebut namanya, Senin (10/2/2025). Kebijakan itu tidak terlepas dari pernyataan Trump yang menyebut India bertindak sewenang-wenang (a very big abuser) dalam hubungan dagang kedua negara. Trump, saat berbicara dengan Modi akhir bulan lalu, mendesak India untuk lebih banyak membeli alutsista buatan AS. Ini dinilai salah satu cara agar neraca perdagangan kedua negara menjadi lebih berimbang dan adil.

Tiga pejabat yang mengetahui rencana tersebut mengatakan, pemotongan tarif akan diberikan bagi barang-barang elektronik, peralatan medis dan bedah, sepeda, kendaraan bermotor roda dua dan empat dengan harga tertentu, serta bahan kimia. Hal itu juga telah disampaikan seorang pejabat Kementerian Keuangan India pekan lalu.

Salah satu contoh adalah pemangkasan tarif masuk sepeda motor dengan mesin di atas 1.600 cc, dari semula 50 persen menjadi 30 persen. Sepeda motor dengan kapasitas mesin yang lebih kecil juga dikurangi bea masuknya menjadi hanya 40 persen.

Trump di masa jabatan pertamanya (2017-2021) pernah berulang kali mengecam tarif bea masuk hingga 100 persen yang diterapkan India pada produk sepeda motor besar (moge), seperti Harley Davidson. Trump menyebut tindakan itu tidak bisa diterima dan praktik perdagangan yang tidak adil.

India menikmati surplus perdagangan dengan AS, salah satu mitra dagang terbesarnya. Mengutip laporan kantor Perwakilan Dagang AS, pada 2022, nilai perdagangan AS dengan India mencapai 191,8 miliar dollar AS. Nilai ekspor AS ke India sebesar 73 miliar dollar AS, sedangkan impor dari India ke AS sebesar 118,8 miliar dollar AS. Hal itu mengakibatkan defisit perdagangan barang dan jasa AS-India mencapai 45,7 miliar dollar AS.

Pada tahun fiskal 2023-2024, nilai perdagangan sebesar 118 miliar dollar AS dengan India membukukan surplus sebesar 32 miliar AS.

(FILES) (FILES) Indian Prime Minister Narendra Modi (L) and US President Donald Trump shakes hands as they speak during a bilateral meeting in Biarritz, south-west France on August 26, 2019, on the third day of the annual G7 Summit. US President Donald Trump pressed Indian Prime Minister Narendra Modi for "fair" trading ties in a call January 27, 2025, the White House said, as Trump continues to push his hardline trade agenda with world leaders. Trump however also discussed plans for a visit to the White House by Modi, the Hindu nationalist leader with whom he had close ties in his first term as president, a readout of the call said. (Photo by Nicholas Kamm / AFP)

Ekspor utama AS ke India meliputi minyak mentah dan produk minyak bumi, gas alam cair (LNG), batubara, perangkat medis, instrumen ilmiah, logam bekas, turbojet, komputer, dan almond.

Pernyataan Modi menyebutkan, kunjungan ke AS akan menjadi kesempatan bagi kedua negara untuk berkolaborasi setelah keberhasilan sebelumya pada masa jabatan pertama Trump. Modi menambahkan, teknologi, perdagangan, pertahanan, energi dan ketahanan rantai pasok adalah beberapa bidang kerja sama yang akan ditingkatkan dan diperdalam.

Pada pertemuan nanti, Modi diperkirakan akan membahas sejumlah hal, termasuk tarif. India, menurut dua pejabat pemerintahan Modi, terbuka untuk kemungkinan kesepakatan perdagangan mini. Seorang pejabat lainnya mengatakan, kunjungan ini untuk menghindari situasi yang terjadi antara AS dan China. Trump telah mengenakan tarif tambahan sebesar 10 persen pada impor dari China dan 25 persen pada Kanada dan Meksiko. Ketiga negara balas menjatuhkan tarif atas barang-barang dari AS.

Hampir seperlima dari ekspor barang teknik India, yang terdiri dari baja dan aluminium, terancam jika Trump mengadopsi tarif 25 persen yang diusulkan. Ekspor kedua komoditas itu bernilai sekitar 25 miliar dollar AS.

”Kami menunggu dan mengamati, dan berharap masalah ini dapat diselesaikan secara damai selama kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi,” kata pejabat yang berbicara dengan syarat anonim karena sensitivitas masalah ini.

Pembelian alutsista

Saat ini, Pemerintah India tengah merampungkan perundingan pembelian mesin jet tempur dan produksi bersama kendaraan tempur dengan AS. Dua sumber yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, kedua negara berupaya menyelesaikan pembicaraan kontrak produksi bersama mesin jet tempur di India untuk Angkatan Udara India (IAF). Hal ini pernah disepakati tahun 2023.

”Kami tentu ingin mempercepat transaksi dengan AS,” kata Menteri Produksi Pertahanan India Sanjeev Kumar, Minggu (9/2/2025).

Ia menambahkan, upaya semacam itu sedang berlangsung. Namun, ia tidak menjelaskan lebih lanjut.

Angkatan Udara India (IAF) memamerkan jet tempur, helikopter, hingga pesawat pengangkut miliknya pada Pameran Dirgantara India "Aero India 2025 ke-15" di Pangkalan Udara Yelahanka di Bengaluru, Senin (10/2/2025).

Pejabat Hindustan Aeronautics Ltd (HAL) India, menurut sumber, akan bertemu dengan sejumlah pejabat AS dan unit kedirgantaraan General Electric, pembuat mesin GE-414. Mereka akan menyelesaikan kesepakatan tersebut pada Maret.

Pada Juni 2023, HAL dan GE Aerospace mengumumkan kesepakatan produksi mesin jet tempur untuk IAF. Kesepakatan diumumkan saat Modi bertemu Presiden AS kala itu, Joe Biden. Kesepakatan ini bagian dari upaya IAF untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya.

IAF tengah dalam proses pengadaan 114 jet tempur multiperan (multi-role fighter jets), selain mengembangkan jet tempur menengah (advanced medium combat aircraft/AMCA) generasi kelima. Secara sistem atau teknologi, para desainer dan ahli India sejatinya bisa mengembangkan teknologi dirgantara. Namun, untuk urusan mesin, India masih mengandalkan buatan produsen jet terkemuka, seperti Pratt & Whitney, General Electric, Honeywell Aerospace dari AS,  Safran SA (Perancis), Rolls-Royce (Inggris), dan perusahaan besar Rusia seperti Aviadvigatel dan NPO Saturn.

Perjanjian tersebut mencakup potensi produksi bersama mesin F414 GE Aerospace di India. Bagi India, mesin F414 memiliki arti penting, mengingat mesin ini akan menggerakkan jet LCA Mk2 milik IAF.

Mesin GE F414 telah dikenal karena kinerjanya yang andal dan telah digunakan oleh Angkatan Udara AS selama lebih dari 30 tahun. Mesin ini juga digunakan dalam F-18 Super Hornet. F414G, varian mesin tunggal dari F414, menggerakkan pesawat Gripen E/F buatan Saab. Mesin F414 menggerakkan pesawat militer di delapan negara, membuat keandalannya dipercaya untuk jet tempur modern. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W