Jelang Pertemuan Trump-Putin, Eropa Bersatu Sokong Ukraina

Eropa berpandangan masa depan Ukraina tidak dapat diputuskan tanpa Ukraina. Eropa juga harus dilibatkan dalam negosiasi di Alaska.

11 Agt 2025 09:29 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

KYIV, SENIN — Jelang pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin, negara-negara di Eropa bersatu mendukung Ukraina. Mereka bersikeras, perundingan damai dengan Rusia harus melibatkan Ukraina.

Laporan kantor berita AFP, Senin (11/8/2025), menyebutkan, para pemimpin negara-negara Eropa mendesak agar Ukraina menjadi bagian dari negosiasi antara AS dan Rusia. ”Jalan menuju perdamaian di Ukraina tidak dapat diputuskan tanpa Ukraina,” demikian pernyataan bersama para pemimpin Inggris, Perancis, Italia, Jerman, Polandia, Finlandia, dan Komisi Eropa, Minggu.

Desakan Eropa diutarakan setelah Gedung Putih akhir pekan lalu mengonfirmasi Trump bertemu Putin pada Jumat di Alaska. Mereka hendak membahas upaya mengakhiri perang di Ukraina.

Kesepakatan pertemuan Trump-Putin dicapai setelah Putin bertemu Utusan Khusus Presiden AS Steve Witkoff di Moskwa pekan lalu. Trump menjelaskan agenda pertemuan kepada para pemimpin Eropa.

Pertemuan Trump-Putin tersebut akan berlangsung setelah Witkoff bertemu dengan pemimpin Rusia pekan lalu di Moskwa. Trump kemudian menjelaskan agenda pertemuan itu kepada para pemimpin Eropa.

Kepada mereka, Trump menjelaskan, Putin telah mengajukan proposal untuk perundingan. Menurut dua pejabat senior Eropa, proposal itu berisi antara lain keinginan Rusia agar Ukraina memberikan wilayah Donbas kepada Rusia. Trump mengatakan, akan ada pertukaran sejumlah wilayah untuk kebaikan bersama.

(COMBO) This combination of pictures created on May 19, 2025 shows President Donald Trump (L) on the phone on January 28, 2017 in Washington, and Russia's President Vladimir Putin (R) on the phone Moscow on December 27, 2023. US President Donald Trump will hold a phone call with Russia's Vladimir Putin on May 19, 2025 as part of his long-running effort to end the war set off by Moscow's 2022 invasion of Ukraine. (Photo by Drew ANGERER and Gavriil GRIGOROV / various sources / AFP)

Hal itu memicu kekhawatiran bahwa Trump akan memberikan konsesi kepada Rusia, yang tidak dapat diterima Ukraina. Bisa saja Kyiv ditekan untuk menyerahkan wilayahnya atau menerima pembatasan lain atas kedaulatannya.

BBC melaporkan, pertemuan Trump-Putin menyiratkan kekhawatiran lain, yakni mereka mengesampingkan Ukraina. Trump mengisyaratkan, ia bisa saja memulai pembicaraan dengan Putin terlebih dulu. Setelah itu, ia berencana menggelar pertemuan trilateral dengan Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Hingga saat ini, sikap Putin belum jelas, apakah menyetujui pertemuan trilateral atau tidak. Ia sudah menolak beberapa kesempatan berunding langsung dengan Zelenskyy. Keduanya belum pernah bertemu sejak Rusia melancarkan operasi militer besar-besaran ke Ukraina lebih dari tiga tahun lalu.

Wakil Presiden AS JD Vance dalam wawancara dengan Fox News yang ditayangkan pada Minggu mengatakan, Trump sudah berhasil membujuk Putin untuk setuju bertemu dengan Zelenskyy. Sekarang hanya masalah penjadwalan sebelum pertemuan akan berlangsung.

Kremlin sebelumnya mengungkapkan, Putin dan Zelenskyy hanya boleh bertemu ketika kesepakatan yang dinegosiasikan oleh delegasi mereka hampir tercapai.

This handout photograph taken and released by the Ukrainian Emergency Service on August 10, 2025, shows Ukrainian rescuers working on the site of an attack, in Zaporizhzhia, amid the Russian invasion of Ukraine. (Photo by Handout / UKRAINIAN EMERGENCY SERVICE / AFP)

Galang dukungan

Menyikapi rencana pertemuan Trump-Putin, menurut laporan The New York Times, Zelenskyy menelepon para pemimpin Eropa, Sabtu. Dua pejabat senior Ukraina dan perwakilan Eropa juga bertemu Vance di luar London. Mereka mencoba mengukur posisi negosiasi Moskwa dan mendesak Ukraina untuk memperjuangkan kepentingannya menjelang pertemuan Trump-Putin.

Ukraina berupaya menggalang dukungan dari sekutu-sekutunya di Eropa. Kyiv bertekad tidak membiarkan Rusia menentukan syarat dan struktur perundingan damai di masa mendatang.

”Negosiasi yang bermakna hanya dapat dicapai dalam konteks gencatan senjata atau pengurangan permusuhan,” sebut pernyataan bersama para pemimpin Eropa setelah telepon dari Zelenskyy.

Ukraina sejak lama mendukung gencatan senjata. Namun, Rusia terus saja menolaknya.

Para pemimpin Eropa juga mengatakan, mereka tetap berkomitmen pada prinsip bahwa perbatasan internasional tidak boleh diubah dengan paksa. Garis depan saat ini harus menjadi titik awal negosiasi. Pernyataan tersebut merupakan penolakan implisit atas usulan Trump bahwa kesepakatan gencatan senjata dapat mencakup beberapa pertukaran wilayah.

Mereka menekankan perlunya perdamaian yang adil dan abadi bagi Ukraina, termasuk jaminan keamanan yang kuat dan kredibel. ”Ukraina memiliki kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri,” demikian pernyataan tersebut.

Para pemimpin Eropa menekankan, negara-negara Eropa akan terus mendukung Ukraina secara diplomatis, militer, dan finansial. Menurut mereka, solusi diplomatik sangat penting, tidak hanya untuk melindungi Ukraina, tetapi juga keamanan Eropa.

Bukan hanya Ukraina yang merasa kesulitan untuk menjadi bagian dari pertemuan Alaska. Negara-negara Eropa khawatir AS dan Rusia mengecualikan mereka dalam menentukan kesepakatan di pertemuan itu.

Campaigners hold placards and wave flags as they take part in a rally to raise awareness to the fate of Ukrainian prisoners of war from the Azov Brigade and other military units, in Kyiv, on August 10, 2025, amid the Russian invasion of Ukraine. (Photo by Roman PILIPEY / AFP)

Dalam unggahan di X pada Sabtu, Presiden Perancis Emmanuel Macron menyuarakan kekhawatiran tentang Rusia dan AS yang mengecualikan keterlibatan Eropa. ”Orang-orang Eropa juga akan menjadi bagian dari solusi karena keamanan mereka sendiri dipertaruhkan,” tulisnya.

Pada Minggu, Zelensky berterima kasih kepada sekutu atas dukungan mereka melalui unggahan di X. ”Akhir perang harus adil dan saya berterima kasih kepada semua orang yang mendukung Ukraina serta rakyat kita hari ini demi perdamaian di Ukraina, yang membela kepentingan keamanan vital negara-negara Eropa kita,” ujarnya.

Senator AS Lindsey Graham dalam acara ”Meet the Press” di NBC, Minggu, mengatakan, kesepakatan yang baik berarti mencegah Rusia yang semakin berani, dan para agresor di tempat lain, untuk mencoba sekali lagi menggambar ulang perbatasan dengan paksa.

”Saya berharap Zelenskyy dapat menjadi bagian dari proses ini. Saya sangat yakin Presiden (Trump) akan menemui Putin dari posisi yang kuat, dia akan memperhatikan bahwa Eropa dan Ukraina perlu mengakhiri perang ini dengan terhormat,” katanya.

Kremlin awal pekan ini kembali menegaskan tuntutannya untuk prasyarat damai. Kremlin menuntut agar Ukraina menyerahkan wilayah, membatalkan upaya untuk bergabung dengan NATO, berkomitmen menjadi wilayah netral, dan menerima pembatasan militer. Imbalannya, penarikan pasukan Rusia dari wilayah lain di negara itu.

Kyiv semakin dibuat jengkel karena Rusia mendesak Ukraina untuk menyerahkan wilayah-wilayah kantong di Ukraina timur dan selatan yang diklaim Kremlin telah dianeksasi. Padahal, di wilayah itu Rusia tidak memiliki kendali militer penuh.

Mark Galeotti, pakar politik Rusia asal Inggris dan pemimpin konsultan Mayak Intelligence, mengatakan, taktik Rusia mengepung kota-kota di Ukraina timur membawa serangkaian keuntungan teritorial bagi Rusia. ”Putin tampaknya tidak merasa tertekan,” kata Galeotti.

”Bagi Kremlin, menunda tindakan AS yang lebih serius dan ekspektasi pertemuan dengan Presiden AS sudah merupakan kemenangan,” imbuh Galeotti dalam analisis yang diterbitkan surat kabar Sunday Times di Inggris.

Zelenskyy mengatakan, ia tidak akan menerima kesepakatan apa pun yang mengharuskan Ukraina menyerahkan wilayah yang saat ini tidak diduduki Rusia. ”Keputusan apa pun yang dibuat melawan kami, keputusan apa pun yang dibuat tanpa Ukraina, pada saat yang sama merupakan keputusan yang menentang perdamaian,” katanya.

”Keputusan itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Itu keputusan yang sia-sia, tidak akan pernah berhasil,” imbuh Zelenskyy.

(FILES) Hunters return from a trip along the coast of the Bering Sea near the climate change affected Yupik Eskimo village of Quinhagak on the Yukon Delta in Alaska on April 12, 2019. Presidents Donald Trump and Vladimir Putin will hold a high-stakes meeting about the Ukraine war on August 15, 2025, in Alaska, which the United States bought from Russia more than 150 years ago. Russian influence still endures in parts of the remote state on the northwest edge of the North American continent, which extends just a few miles from Russia. (Photo by Mark RALSTON / AFP)

Kaja Kallas, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, mengatakan akan mengadakan pertemuan darurat para menteri luar negeri Uni Eropa pada Senin ini untuk membahas langkah selanjutnya. ”Setiap kesepakatan antara AS dan Rusia harus melibatkan Ukraina dan Uni Eropa karena ini masalah keamanan Ukraina dan seluruh Eropa,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte juga menyatakan dukungannya kepada Ukraina. ”Rusia harus mengakui bahwa Ukraina menentukan masa depannya sendiri bahwa Ukraina harus menjadi negara berdaulat, yang menentukan masa depan geopolitiknya sendiri,” katanya.

”Jumat depan akan menjadi penting karena ini akan menguji Putin, seberapa serius dia mengakhiri perang yang mengerikan ini,” kata Rutte dalam wawancara dengan acara ”This Week” di ABC.

Tiga putaran perundingan antara Rusia dan Ukraina tahun ini gagal membuahkan hasil. Sementara puluhan ribu orang tewas sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022. Jutaan orang juga terpaksa meninggalkan rumah mereka. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan