Pertemuan Trump dan Putin diharapkan membuahkan kesepakatan setelah berbagai perundingan untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina tidak membuahkan hasil.
09 Agt 2025 10:05 WIB · Internasional
WASHINGTON, SABTU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan akan bertemu pada Jumat pekan depan di Alaska. Trump berharap pertemuan itu akan menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina.
Pertemuan tersebut sekaligus menjadi upaya baru setelah sejumlah perundingan untuk mengakhiri perang belum membuahkan hasil.
Presiden Trump, menurut laporan The New York Times, menyampaikan rencana itu kepada wartawan di Gedung Putih, Jumat (8/8/2025) waktu setempat atau Sabtu (9/8/2025) WIB. Pada kesempatan itu, ia menjamu para pemimpin Armenia dan Azerbaijan dalam pertemuan tinggi untuk perdamaian di Gedung Putih.
Awalnya, Trump hanya menyebutkan akan segera bertemu Putin. Ia tidak menjelaskan kapan dan di mana pertemuan akan berlangsung. Kemudian melalui media sosial Truth Social miliknya, Trump menyampaikan, pertemuan itu akan berlangsung pada Jumat, 15 Agustus, di Alaska.
Pertemuan tersebut akan menjadi pertemuan pertama antara Presiden AS dan Presiden Rusia sejak Presiden Joe Biden bertemu dengan Putin di Geneva, Swiss, pada 2021. Kantor berita Rusia, TASS, mengutip salah satu pejabat Kremlin, Yury Ushakov, juga melaporkan tentang rencana pertemuan Trump dan Putin di Alaska pekan depan.
Terkait pertemuan tersebut, menurut laporan The New York Times, Trump sudah menyampaikan rencananya itu kepada para pemimpin Eropa, awal pekan ini. Kepada para pemimpin Eropa, Trump mengatakan, ia akan mengupayakan pertemuan trilateral dengan melibatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
”Presiden Putin, saya yakin, ingin melihat perdamaian, dan Zelenskyy ingin melihat perdamaian,” kata Trump.
Trump mengatakan, kesepakatan damai kemungkinan berarti Ukraina dan Rusia akan saling bertukar sebagian wilayah yang mereka kuasai. ”Tidak mudah. Namun, kita akan mendapatkan kembali sebagian. Kita akan menukar sebagian. Akan ada pertukaran wilayah demi kebaikan keduanya,” kata Trump.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/12/8dfc47dd-f9b1-450b-a139-b46f26cb068c_jpg.jpg)
Rusia menuntut agar Ukraina menyerahkan empat wilayah yang diklaim Moskwa telah ”dianeksasi” dari Ukraina pada akhir 2022. Wilayah itu meliputi Luhansk, Donetsk, Zaporizhzhia, dan Kherson, serta semenanjung Laut Hitam Crimea yang dianeksasi Rusia pada tahun 2014.
Pasukan Rusia tidak sepenuhnya menguasai seluruh wilayah di keempat wilayah tersebut. Sebagian wilayah tersebut masih berada di bawah kendali Ukraina.
Ukraina dengan tegas menentang penyerahan tanah mereka kepada Rusia. Kehilangan sekitar seperlima wilayah menjadi hal menyakitkan bagi Ukraina.
Terlebih, Konstitusi Ukraina melarang Presiden Zelenskyy untuk menyerahkan wilayah apa pun. Akan ada banyak rintangan politik dan militer bagi Ukraina dalam menyerahkan tanah kepada Rusia.
Penolakan Ukraina atas usulan kesepakatan itu juga dinyatakan oleh Tyson Barker, mantan wakil khusus Departemen Luar Negeri AS untuk pemulihan ekonomi Ukraina. Dalam Bloomberg News, Jumat, ia mengatakan, proposal perdamaian akan langsung ditolak oleh Ukraina.
”Yang terbaik yang dapat dilakukan Ukraina adalah tetap teguh dalam keberatan dan persyaratan mereka untuk penyelesaian yang dinegosiasikan sambil menunjukkan rasa terima kasih mereka atas dukungan Amerika,” kata Barker, peneliti senior di Atlantic Council.
Sebelumnya, Ukraina sudah mengisyaratkan kesediaan untuk bersikap fleksibel dalam upaya mengakhiri perang. Selama tiga tahun perang, kota-kota hancur dan banyak tentara dan warga Ukraina tewas.
Setelah resmi menjabat, Trump menggagas sejumlah perundingan gencatan senjata. Sejauh ini, tiga putaran negosiasi antara Rusia dan Ukraina gagal membuahkan hasil. Putin menolak berbagai seruan dari AS, Eropa, dan Kyiv untuk gencatan senjata.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/02/2a509a5e-6561-4c2a-a091-a74fc1dc903e_jpg.jpg)
Rusia justru semakin meningkatkan pengeboman ke kota-kota di Ukraina. Pasukan Kremlin perlahan-lahan maju lebih dalam ke Ukraina dengan mengorbankan banyak pasukan dan persenjataan.
Trump jengkel karena Putin tidak mengindahkan seruannya untuk menghentikan pengeboman kota-kota Ukraina, juga lambannya kemajuan menuju gencatan senjata. Sekitar dua minggu lalu, ia meningkatkan tekanan kepada Moskwa. Di tengah perundingan tarif dagang dengan sejumlah negara, Trump mengancam akan memberikan sanksi sekunder kepada negara-negara yang membeli minyak Rusia.
Sanksi sekunder itu dinyatakan berlaku mulai Jumat kemarin. Alhasil, kepada negara-negara seperti India dan China yang membeli minyak Rusia, AS menjatuhkan tarif tambahan 25 persen.
Hal itu membuat India, selain mendapatkan tarif 25 persen dari kebijakan tarif resiprokal AS, juga menanggung 25 persen lagi akibat sanksi sekunder ini. Baik India maupun China mengecam sanksi sekunder AS atas pembelian minyak Rusia itu.
Putin kemudian melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri India Narendra Modi pada Jumat. Dalam pembicaraan dengan Xi, Putin juga menyampaikan informasi terbaru tentang hasil percakapannya dengan utusan khusus AS, Steve Witkoff. Witkoff mengunjungi Moskwa awal pekan ini.
Kremlin menyatakan, Xi menyatakan dukungannya terkait solusi jangka panjang atas konflik Rusia-Ukraina. Menurut laporan kantor berita Pemerintah China, Xinhua, Xi mengatakan kepada Putin, ”China senang melihat Rusia dan AS mempertahankan kontak, meningkatkan hubungan mereka, dan mendorong penyelesaian politik atas krisis Ukraina.”
Dari pembicaraan dengan pemimpin China dan India, Xi dan Modi sama-sama mencoba mempromosikan inisiatif perdamaian mereka untuk Ukraina.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/12/eb0712c1-efa8-43aa-879e-7e8bd138b621_jpg.jpg)
Pembicaraan telepon tersebut, menurut Sergei Markov, analis pro-Kremlin yang berbasis di Moskwa, menunjukkan setidaknya satu analisis bahwa Putin mungkin ingin memberi pengarahan kepada sekutu terpenting Rusia. Arahan itu terkait potensi penyelesaian yang dapat dicapai pada pertemuan tingkat tinggi dengan Trump.
”Ini berarti semacam kesepakatan damai yang nyata telah dicapai untuk pertama kalinya,” kata Markov.
Adapun Institute for the Study of War, sebuah lembaga kajian di Washington, Kamis, menyampaikan penilaiannya, ”Putin tetap tidak tertarik untuk mengakhiri perangnya. Putin berusaha mendapatkan konsesi bilateral dari AS tanpa terlibat secara berarti dalam proses perdamaian.”
”Putin terus percaya bahwa waktu ada di pihak Rusia dan bahwa Rusia dapat bertahan lebih lama dari Ukraina dan Barat,” kata Institute for the Study of War.
Secara terpisah, dalam pidato Jumat malam, Zelenskyy mengatakan, gencatan senjata dapat dicapai selama tekanan yang memadai diberikan kepada Rusia. Ia mengatakan sudah melakukan lebih dari selusin percakapan dengan para pemimpin sejumlah negara dan timnya terus berkomunikasi dengan AS. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan