Jelang Puncak Haji  Operasional Bus Shalawat Lebih Singkat, Razia Kian Gencar

Dengan waktu operasional bus shalawat lebih singkat, jemaah diminta berangkat ke Masjidil Haram lebih pagi dan pulang lebih sore.

29 Mei 2025 19:32 WIB · Dikbud

Oleh Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab Saudi

MEKKAH, KOMPAS — Sepekan jelang pelaksanaan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Arab Saudi, operasional bus Shalawat menjadi lebih singkat. Pemeriksaan yang dilakukan aparat keamanan terhadap jemaah juga makin ketat.

Jika Jumat pekan lalu operasional bus Shalawat dihentikan pada pukul 09.00 waktu Arab Saudi, pada Jumat (30/5/2025), bus akan berhenti lebih pagi, sekitar pukul 07.00.

”Kami masih mengonfirmasi ke pihak berwenang. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, Jumat terakhir jelang wukuf, operasional bus Shalawat dihentikan pada pukul 07.00 dan kembali beroperasi selepas ashar,” kata Kepala Bidang Transportasi PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi Mujib Roni di Mekkah, Kamis (29/5/2025).

Mengingat pendeknya waktu operasional bus Shalawat, jemaah diimbau agar berangkat lebih pagi. Begitu pun saat pulang, diimbau agar lebih sore. Hal ini untuk mencegah penumpukan dan kepadatan di terminal-terminal bus Shalawat.

Kepala Bidang Transportasi PPIH (Petugas Pelaksana Ibadah Haji) Arab Saudi Mujib Roni menyampaikan keterangan terkait operasional bus Shalawat kepada wartawan di Mekkah, Arab Saudi, Kamis (29/5/2025). Sepekan jelang wukuf, operasional bus menjadi lebih singkat.

”Jika bisa kami mengimbau agar jemaah, terutama yang lanjut usia dan berkebutuhan khusus, shalat Jumat di sekitar masjid atau mushala yang disiapkan hotel. Suhu juga sekarang lebih panas. Lebih baik menyiapkan fisik untuk puncak pelaksanaan ibadah haji di Armuzna nanti,” tuturnya.

Saat ini situasi di Mekkah makin padat. Masjidil Haram juga terus dipenuhi jemaah dari bagai belahan dunia. Dikhawatirkan jika terus memaksakan beribadah di Masjidil Haram dengan suhu panas ekstrem saat ini, jemaah akan kelelahan dan sakit saat puncak ibadah haji.

Selain padatnya jemaah, pemeriksaan dan razia yang dilakukan askar—aparat keamanan Arab Saudi—kian gencar. Sebagai gambaran, pada Kamis dini hari, razia dilakukan di hotel-hotel pemondokan jemaah.

Quote

Kami mengimbau agar jemaah, terutama yang lanjut usia dan berkebutuhan khusus, shalat Jumat di sekitar masjid atau musalah yang disiapkan hotel.

Kantor Daerah Kerja Mekkah juga tak luput dari razia oleh askar. Pintu-pintu kamar digedor dan petugas masuk memeriksa kartu Nusuk. Pemeriksaan yang kian ketat ini membuat pihak Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi meminta jemaah tak banyak berkeliaran, terlebih tanpa membawa kartu Nusuk.

Suasana Masjidil Haram nampak dari Menara Zamzam, Selasa (27/5/2025).  Aktivitas umrah selalu ada walau siang hari.

Terkait pelaksanaan puncak ibadah haji, Pemerintah Arab Saudi mengeluarkan maklumat. Adapun maklumat itu berisi antara lain mewaspadai kenaikan suhu hingga 50 derajat celsius. Selain itu, jemaah diminta menaati jadwal pergerakan jemaah haji dan melontar jumrah.

Ketua PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi Muchlis M Hanafi menyampaikan hal itu kepada wartawan di Mekkah pada Rabu (28/5/2025). Sebelumnya pada Selasa Sore, pertemuan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi dan pihak Kementerian Agama RI telah digelar.

Pertemuan tersebut dipimpin Al Hasan Bin Yahya, Deputi Hubungan Internasional Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi. Sementara Indonesia diwakili Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Hilman Latief. Pertemuan dihadiri petugas kloter se-Indonesia.

”Dalam pertemuan ini, Pemerintah Arab Saudi menyampaikan sembilan maklumat. Yang pertama yakni menekankan agar jemaah dilarang keluar dari tenda Arafah dan Mina pada pukul 10.00-16.00 waktu Arab Saudi karena karena suhu diperkirakan mencapai 50 derajat celsius. Imbauan ini untuk menjaga keselamatan dan kesehatan seluruh jemaah,” kata Muchlis.

Ketua PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi, Muchlis M Hanafi (menggunakan rompi) menyampaikan maklumat Pemerintah Arab Saudi terkait puncak pelaksanaan ibadah haji, Rabu (28/5/2025) di Mekkah, Arab Saudi.

Maklumat kedua adalah terkait kedisiplinan dalam pergerakan Armuzna. Jemaah harus mengikuti jadwal pergerakan resmi sesuai syarikahnya masing-masing. Dengan kata lain, dilarang bergerak sendiri-sendiri yang tak sesuai penempatannya.

Ketiga, larangan penyembelihan di luar program Adahi. Jadi, penyembelihan hewan dam atau alhajj dan kurban hanya dapat dilakukan melalui proyek atau program Adahi yang resmi dikelola Pemerintah Arab Saudi. Penyembelihan di luar program resmi, termasuk melalui calo atau tempat-tempat tak berizin, dilarang keras.

”Keempat, pengaturan jadwal melontar jumrah. Pelaksanaan melontar jumrah harus sesuai jadwal resmi yang ditetapkan syarikah dan markaz layanan sepengetahuan Kementerian Haji dan Umrah. Jadi dilarang melontar jumrah secara bebas dan individual,” tambah Muchlis.

Selain itu, terkait kartu nusuk, semua anggota jemaah wajib membawa dan menjaga kartu nusuk. Petugas diminta memastikan tak ada jemaah yang kehilangan atau tak memiliki kartu itu. Jangan sampai ada jemaah haji tidak bisa ke Masjidil Haram karena terkendala nusuk.

”Keenam, terkait kesehatan, jemaah diminta menjaga kesehatan dengan selalu memakai masker, menggunakan payung saat di luar tenda, mencuci tangan dan memakai hand sanitizer, mengonsumsi makanan sehat dan cukup cairan,” katanya.

Tim yang akan bertugas pada puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina melaiukan orientasi lapangan di Mina, Arab Saudi, Minggu (25/5/2025)

Maklumat lain yakni saluran pengaduan terkait dengan layanan syarikah. Jika ada keluhan mengenai listrik, pendingin ruangan, air bersih atau fasilitas lainnya, jemaah bisa menghubungi nomor pengaduan resmi 1966. Seluruh petugas diminta menyosialisasikan nomor pengaduan ini.

Pemerintah Arab Saudi juga meminta petugas kloter wajib hadir di tenda bersama jemaah. Selain itu, agar nomor kontak petugas harus dapat diakses dengan mudah jika terjadi kondisi darurat.

”Kesembilan, terkait jemaah Indonesia yang mewakili  seperempat atau 25 persen dari total jemaah haji dunia, kita diharapkan tampil sebagai teladan dalam ketaatan terhadap aturan dan disiplin. Kita tentu harus menjaga citra positif bangsa indonesia di mata dunia,” kata Muchlis.


Kerabat Kerja

Penulis:

Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab Saudi
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan