Skema murur dan tanazul diatur untuk memudahkan jemaah melaksanakan tahapan puncak ibadah haji dan mengurai kepadatan di Muzdalifah dan Mina.
02 Jun 2025 19:01 WIB · Humaniora
MEKKAH, KOMPAS — Skema murur dan tanazul kembali diberlakukan dalam puncak pelaksanaan ibadah haji tahun ini. Selain untuk mengurai kepadatan dan penumpukan jemaah di Muzdalifah dan Mina, skema ini juga memudahkan jemaah haji lansia, jemaah sakit, dan penyandang disabilitas.
Skema murur adalah pergerakan jemaah dari Arafah dengan bus yang hanya melewati Muzdalifah tanpa turun dari kendaraan. Mereka langsung melanjutkan perjalanan ke Mina untuk melempar jumrah dan mabit (bermalam). Skema ini akan diterapkan secara selektif, khususnya bagi jemaah lansia, penyandang disabilitas, dan mereka yang memiliki uzur.
Adapun untuk skema tanazul, jemaah akan melontar jumrah pada 10 Zulhijah, lalu kembali ke hotel. Mereka tidak bermalam di Mina, tetapi langsung ke pemondokan. ”Skema ini bertujuan untuk mengurai kepadatan di tenda Mina. Skema tanazul umumnya dilakukan jemaah yang tinggal di hotel pemondokan di wilayah Syisyah dan Raudhah,” kata Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Hilman Latief.
Selain itu, safari wukuf tetap dilakukan. Safari wukuf merupakan layanan khusus bagi jemaah haji yang sakit atau uzur untuk dapat berwukuf di Arafah meski tak bisa berdiri atau berjalan. Wukuf adalah berdiam diri di Padang Arafah khususnya pada tanggal 9 Zulhijah sejak matahari tergelincir (masuk waktu dhuhur) hingga terbit pada 10 Zulhijah. Wukuf menjadi salah satu rukun haji.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/07/08/1ecfed3d-115e-4e9c-aa10-f3aa741617b3.jpg)
”Ada tiga skema utama pergerakan jemaah. Pertama adalah skema reguler yang diikuti mayoritas jemaah yang mencakup 67 persen atau sekitar 136 ribu orang. Kedua adalah skema murur yang melibatkan 67.000 jemaah. Adapun tanazul akan diikuti 37.000 jemaah,” kata Hilman.
Anita Suardi adalah salah satu anggota jemaah haji yang akan mengikuti skema tanazul. Walau bukan jemaah lansia, Anita mendampingi ibunya yang lansia.
”Sudah disampaikan kalau nanti kami berdua pakai skema tanazul. Selain karena ibu sudah tua, hotel pemondokan juga dekat Mina. Nanti setelah jumrah Aqabah, langsung kembali ke hotel. Besok hari baru kembali lagi ke Mina untuk lontar jumrah,” katanya.
Aulia Purnamasari, anggota jemaah lain, juga mengambil skema tanazul. ”Karena hotel dekat lokasi melontar jumrah, jadi kami balik ke hotel setelah jumrah Aqabah. Biar bisa istirahat di hotel,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/29/604f6605be7c9c92eefb400545ebf09c-IMG_1941.jpeg)
Sementara itu, safari wukuf akan dilakukan jemaah yang sakit dan dalam kondisi tak bisa mengikuti wukuf secara reguler. Jemaah yang mengikuti safari wukuf akan dibawa menggunakan ambulans.
Dalam skema safari wukuf ini, mobil ambulans yang membawa jemaah akan berhenti beberapa saat dan memberi kesempatan kepada jemaah untuk berdoa. Setelah itu, jemaah akan kembali dibawa ke rumah sakit tempat perawatan. Adapun lontar jumrah biasanya akan diwakilkan.
Bagi jemaah yang telah wafat, pelaksanaan ibadahnya akan dibadalkan atau digantikan oleh orang yang telah ditunjuk. Berdasarkan data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), hingga Minggu (1/6/2025), jemaah yang meninggal berjumlah 125 orang.
Terkait pergerakan dari Mekkah ke Arafah, Hilman mengatakan, jemaah akan dibagi dalam tiga gelombang. Jemaah berangkat dari Mekkah secara bertahap mulai Rabu (4/6/2025) pagi. Gelombang terakhir berangkat Rabu tengah malam pukul 00.00 waktu Arab Saudi atau 8 Zulhijah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/02/47790bba376fee59abb940b797a6cc1c-IMG_1680.jpeg)
Jemaah murur bergerak dari Arafah pada 9 Zulhijah atau Kamis pukul 19.00 malam waktu setempat. Sementara jemaah reguler berangkat ke Muzdalifah mulai pukul 22.00. Dari Muzdalifah ke Mina menggunakan angkutan transportasi yang bolak-balik menjemput dan mengantar jemaah hingga menjelang subuh.
”Setelah itu, jemaah akan kembali ke Mekkah secara bertahap. Proses ini disesuaikan dengan kapasitas dan kondisi lapangan. Kami terus konsolidasikan data agar tidak ada jemaah tercecer,” ujar Hilman.
Karena hotel dekat lokasi melontar jumrah, jadi kami balik ke hotel setelah jumrah Aqabah. Biar bisa istirahat di hotel.
Sebelumnya, Kepala Bidang Layanan Lansia, Disabilitas, Penanganan Krisis, dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKP2JH) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Suviyanto mengatakan, jemaah haji Indonesia banyak yang berusia lanjut. Salah satu penyebabnya adalah masa tunggu yang panjang.
Sejumlah anggota jemaah yang ditemui Kompas di hotel-hotel pemondokan umumnya berangkat setelah masa tunggu 15 tahun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/20/b4878fce165d8f3f4ff5f723df34d022-IMG_1234.jpeg)
Pasangan suami istri Khuyadi (67) dan Endang Tri Nurniningsih (60), misalnya, menunggu 13 tahun untuk berhaji. Sementara Makku (65), anggota jemaah asal Gowa, Sulawesi Selatan, harus menunggu 15 tahun. Tidak jarang jemaah berusia lanjut harus dirawat di klinik kesehatan di hotel-hotel hingga rumah sakit setiba di Mekkah akibat kelelahan dalam perjalanan.
Berdasarkan data Bidang Lansia dan Disabilitas PPIH Arab Saudi, jumlah total jemaah disabilitas mencapai 513 orang yang terdiri dari 245 laki-laki dan 268 perempuan.
Sementara jemaah haji lansia usia 65-70 tahun berjumlah 26.408 orang. Jemaah usia 71-79 tahun sebanyak 14.599 orang dan usia 80-89 tahun sebanyak 5.958 orang. Adapun jemaah usia 90-99 tahun tercatat 411 orang dan di usia atas 100 tahun sebanyak 6 orang. Total keseluruhan jemaah lansia adalah 47.384 orang.
Tahun ini, Indonesia mendapat kuota 221.000 anggota jemaah haji. Sebanyak 203.320 orang adalah jemaah haji reguler. Sementara kuota jemaah haji khusus sebanyak 17.680 orang yang dilayani oleh 335 penyelenggara ibadah haji khusus (PIHK). Seluruh jemaah haji saat ini sudah berada di Mekkah.
Sambil menunggu puncak pelaksanaan ibadah haji, jemaah kini menghabiskan waktu di hotel untuk menjaga kebugaran fisik dan memperdalam manasik haji.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/31/15eeb67cd59fe4f55352b388fb876081-IMG_1972.jpeg)
Penulis:
Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab SaudiEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti