Jemaah Calon Haji dari Embarkasi Surabaya Dikenai Biaya Tertinggi Se-Indonesia

Melalui Keppres No 6/2025, biaya penyelenggaraan ibadah haji tahun 2025 ditetapkan.

13 Feb 2025 11:57 WIB · Humaniora

Oleh Iqbal Basyari

JAKARTA, KOMPAS — Jemaah calon haji yang berangkat dari embarkasi Surabaya, Jawa Timur, dikenai biaya paling tinggi dibandingkan dengan jemaah dari embarkasi lain. Jemaah harus membayar ongkos haji sebesar Rp 60,9 juta, lebih tinggi dibandingkan dengan biaya rata-rata nasional sebesar Rp 55,4 juta per orang.

Pemerintah telah menetapkan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Tahun 2025 melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 yang ditetapkan pada 12 Februari 2025. Dalam keppres tersebut, pemerintah menetapkan besaran BPIH 2025, termasuk ongkos yang dibayarkan oleh jemaah yang berangkat dari 13 embarkasi di Indonesia.

Keppres tersebut merupakan tindak lanjut dari kesepakatan biaya haji reguler yang telah ditetapkan oleh pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat. Dalam rapat yang digelar pada Senin (6/1/2025) disepakati biaya rata-rata penyelenggaraan haji sebesar Rp 89,4 juta. Namun, jemaah hanya perlu membayar rata-rata Rp 55,4 juta.

Sementara sisanya sebesar Rp 33,9 juta ditanggung menggunakan dana nilai manfaat yang diperoleh dari hasil pengembangan keuangan haji yang dikelola oleh BPKH (Badan Pengelola Keuangan Haji). Adapun total nilai manfaat yang digelontorkan untuk mendukung pelaksanaan ibadah haji tahun 2025 mencapai Rp 6,83 triliun.

Besaran Biaya Ibadah Haji 2025
Besaran ongkos haji yang dibayarkan jemaah

Berdasarkan Keppres No 6/2025, biaya haji untuk jemaah yang berangkat dari 13 embarkasi beragam. BPIH tertinggi dikenai untuk jemaah dari embarkasi Surabaya yang mencapai Rp 94,9 juta. Sementara BPIH terendah untuk jemaah dari embarkasi Aceh ialah Rp 80,9 juta.

Besaran BPIH itu juga berdampak pada ongkos yang harus dibayarkan setiap jemaah haji. Jemaah calon haji dari embarkasi Surabaya harus membayar Rp 60,9 juta agar dapat berangkat ke Tanah Suci. Biaya itu merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan jemaah dari embarkasi lainnya.

Di urutan selanjutnya adalah jemaah dari embarkasi Banjarmasin (Rp 59,3 juta), embarkasi Jakarta (Rp 58,8 juta), embarkasi Kertajati (Rp 58,8 juta), embarkasi Makassar (Rp 57,6 juta), dan embarkasi Balikpapan (Rp 57,2 juta). Kemudian embarkasi Lombok (Rp 56,7 juta), embarkasi Solo (Rp 55,4 juta), embarkasi Palembang (Rp 54,4 juta), embarkasi Batam (Rp 54,3 juta), embarkasi Padang (Rp 51,7), embarkasi Medan (Rp 47,9 juta), dan embarkasi Aceh (Rp 46,9 juta).

Lantas, mengapa biaya yang dikeluarkan oleh setiap jemaah di setiap embarkasi berbeda?

Dahnil Anzar Simanjuntak

Sesuai Keppres No 6/2025, besaran ongkos haji yang dibayarkan jemaah digunakan untuk empat hal, yakni biaya penerbangan haji, sebagian biaya akomodasi di Mekkah dan Madinah, serta biaya hidup. Biaya untuk setiap komponen itu dapat berbeda antara satu daerah keberangkatan dan daerah keberangkatan lain. Hal ini karena perbedaan jarak tempuh dan biaya kebutuhan pada setiap daerah yang berbeda.

Wakil Kepala Badan Penyelenggara Haji Dahnil Anzar Simanjuntak di Jakarta, Kamis (13/2/2025), mengatakan, satu-satunya komponen yang membedakan biaya haji antar-embarkasi adalah biaya penerbangan. Semakin jauh jarak keberangkatan dengan Arab Saudi, maka biaya penerbangan semakin tinggi. Biaya penerbangan itu berlaku untuk keberangkatan dan kepulangan.

”Semakin ke barat Indonesia, semakin murah biaya penerbangannya karena lebih dekat jarak penerbangannya ke Saudi,” ujarnya.

Dahnil melanjutkan, biaya haji untuk jemaah dari embarkasi Surabaya memang lebih tinggi dibanding embarkasi lain yang letaknya lebih jauh, seperti embarkasi Lombok dan Makassar. Hal ini lantaran jemaah dari Surabaya menggunakan pesawat Airbus 330 yang ukurannya lebih kecil dibanding pesawat jenis lain, seperti Boeing 777-300 atau Boeing 747-400.

Pesawat Saudia Arabian yang membawa calon jemaah haji kelompok terbang (kloter) 1 embarkasi Surabaya yang berasal dari Kabupaten Bojonegoro lepas landas di Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo, Minggu (12/5/2025). Pada musim haji tahun ini, tiga bandara memberlakukan layanan sistem fast track, yakni di Bandara Juanda Surabaya, Adi Soemarmo Solo dan Soekarno-Hatta Tangerang. Layanan tersebut merupakan penghargaan yang diberikan Pemerintah Arab Saudi kepada Indonesia, sebab pengecekan administrasi cukup dilakukan di embarkasi, sehingga jemaah saat turun pesawat di Madinah atau Jeddah bisa langsung menuju pemondokan. Pada tahun 2024 jumlah total sebanyak 39.228 orang calon jemaah haji berangkat melalui Embarkasi Surabaya yang tergabung dalam 106 kloter. Jamaah diberangkatkan ke Arab Saudi menggunakan Maskapai Saudia Arabian Airlines dengan tipe pesawat Airbus 330 berkapasitas 371 orang. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Penggunaan pesawat jenis tersebut dikarenakan Bandar Udara Internasional Juanda tidak bisa digunakan untuk pesawat jenis Boeing 777 yang lebih efisien. Pesawat jenis Airbus 330 itu akhirnya harus transit di Medan untuk mengisi bahan bakar. Sementara pesawat lain dari embarkasi lainnya bisa langsung menuju Arab Saudi tanpa harus transit.

"Biaya transit itu yang menyebabkan ongkos bagi jemaah dari embarkasi Surabaya lebih tinggi dibandingkan jemaah lain yang menggunakan penerbangan langsung," ucap Dahnil.

Lebih jauh, Dahnil menegaskan bahwa komponen biaya lainnya tetap sama. Komponen biaya akomodasi di Mekkah dan Madinah, serta biaya hidup di antara jemaah tak ada yang berbeda. Petugas pun tetap memberikan pelayanan yang sama saat jemaah menjalankan ibadah haji.

Direktur Jendral Penyelenggaraan Haji dan Umrah Hilman Latief menambahkan, beberapa faktor, seperti jenis pesawat, maskapai, dan kondisi bandara mengakibatkan pesawat dari embarkasi Surabaya tidak dapat mengisi bahan bakar secara penuh. Pesawat tersebut juga harus transit di Medan sebelum menuju ke Arab Saudi.

Jemaah haji mengelilingi Kabah untuk menjalankan tawaf wada (perpisahan) di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, Senin (3/7/2023). Tawaf wada adalah amalan terakhir yang dilakukan jemaah haji sebelum meninggalkan Mekkah sekaligus berpamitan dengan Kabah.

"Jenis pesawat, maskapai, dan kondisi kekuatan landasan di Bandara Juanda terbatas sehingga pesawat tidak mengisi bahan bakar secara penuh. Ini mengharuskan pesawat technical landing di Medan sebelum terbang langsung sehingga ada biaya tambahan," tutur Hilman.

Pada penyelenggaraan haji 2025, ada tiga maskapai yang akan membawa jemaah ke Tanah Suci. Ketiga maskapai itu adalah Garuda Indonesia, Lion Air Group, dan Saudi Airlines. Seluruh maskapai tersebut telah memenuhi persyaratan administratif dan kelayakan teknis.

Ketiga maskapai itu akan membawa 221.000 jemaah haji asal Indonesia. Rinciannya, sebanyak 203.320 jemaah haji reguler dan 17.680 jemaah haji khusus. Seluruh anggota jemaah akan diberangkatkan dari 13 embarkasi yang tersebar di sejumlah wilayah.

Sementara itu, Kantor Urusan Haji pada Konsulat Jenderal RI di Jeddah mulai membuka pendaftaran tenaga pendukung Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Mereka mengajak warga negara Indonesia yang bermukim di Arab Saudi untuk mengikuti seleksi.

Quote

Jenis pesawat, maskapai, dan kondisi kekuatan landasan di Bandara Juanda terbatas sehingga pesawat tidak mengisi bahan bakar secara penuh.

Konsul Haji KJRI Jeddah Nasrullah Jasam mengatakan, ada 18 formasi tenaga pendukung PPIH yang dibuka. Formasi itu, antara lain, ialah pelaksana kesekretariatan, pelaksana pengemudi, pelaksana layanan akomodasi, hingga pelaksana layanan kedatangan dan keberangkatan.

Pendaftaran dibuka mulai 14-20 Februari 2025 secara daring melalui laman https:/haji.kemenag.go.id/petugas. Para pendaftar dapat mengunggah persayaratan sesuai posisi yang dilamar.

Ada empat tahap seleksi yang akan dilakukan, yakni seleksi administrasi, tes Computer Assisted Test (CAT), wawancara, dan verifikasi administrasi faktual. Seluruh proses seleksi bersifat terbuka dan transparan.

”Melalui seleksi yang transparan, kami harap bisa mendapatkan calon tenaga pendukung PPIH yang kompeten dan mampu melaksanakan tugas dengan baik,” ujar Nasrullah dalam keterangan tertulis.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iqbal Basyari
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .