Secara bertahap jemaah haji mulai dipulangkan ke Tanah Air. Berbeda dengan jemaah gelombang pertama yang mulai pulang, jemaah gelombang kedua bersiap ke Madinah.
11 Jun 2025 18:59 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
MEKKAH, KOMPAS — Jemaah haji Indonesia gelombang pertama secara berangsur mulai diterbangkan ke Tanah Air. Sebagian besar jemaah haji gelombang pertama dipulangkan melalui Bandara King Abdul Aziz di Jeddah dan ada delapan kelompok terbang yang pulang melalui bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah.
Jemaah haji yang terbang pertama adalah jemaah Kloter 1 Embarkasi UPG atau Makassar, Sulawesi Selatan. Penerbangan menggunakan pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA 1401 ini membawa 388 anggota jemaah.
Keberangkatan selanjutnya adalah jemaah Kloter 1 asal Embarkasi Lombok menggunakan pesawat Garuda dengan nomor penerbangan 5401. Penerbangan ini membawa 385 anggota jemaah.
”Seluruh jemaah dan petugas kelompok terbang pukul 03.30 waktu Arab Saudi. Secara bertahap seluruh jemaah gelombang pertama yang pulang lewat Madinah akan diberangkatkan pekan ini,” kata Wakil Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Abdillah, Rabu (11/6/2025), kepada Media Center Haji.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/10/1c57d83c530bae304aa1a85df94a6daf-IMG_2651.jpeg)
Sebelumnya, pemulangan jemaah haji gelombang pertama dilepas Menteri Agama Nasaruddin Umar di sektor 3 wilayah Syisyah, Arab Saudi, Selasa (10/5/2025). ”Hari ini kita memasuki tahap pemulangan jemaah haji dari Tanah Suci ke Tanah Air. Saya berharap jemaah tetap menjaga kesehatan,” kata Menag.
Seluruh jemaah dan petugas kloter terbang pukul 03.30 waktu Arab Saudi. Secara bertahap seluruh jemaah gelombang pertama yang pulang lewat Madinah akan diberangkatkan pekan ini.
Pemulangan jemaah haji gelombang pertama berlangsung pada 11-25 Juni 2025. Ada 266 kelompok terbang (kloter) yang berangkat pada gelombang I dan mendarat di Madinah.
Mereka akan dipulangkan melalui Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah. Namun, ada delapan kloter yang akan pulang melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah.
Jemaah yang berangkat melalui Madinah adalah Kloter 1 Embarkasi Makassar (UPG 01), Kloter 1 Embarkasi Lombok (LOP 01), Kloter 1 Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG 01), dan Kloter 2 Embarkasi Makassar (UPG 02).
Selain itu, Kloter 2 Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG 02), Kloter 2 Embarkasi Lombok (LOP 02), Kloter 11 Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG 11), dan Kloter 7 Embarkasi Makassar (UPG 07).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/10/79ae782e3c08be9cdf086f6826a1642f-IMG_2618.jpeg)
”Rasanya sangat bersedih. Rasa-rasanya belum mau pulang ke Indonesia. Bersyukur sudah kami lewati semua tahapan ibadah dengan baik,” kata Suwardi Yusuf Abdullah, jemaah Kloter Embarkasi Makassar.
Jemaah gelombang kedua yang saat ini berada di Mekkah masih menunggu pemberangkatan ke Madinah. Selama menunggu, jemaah menghabiskan waktu dengan menyelesiakan tawaf ifadah dan tawaf wada. Selebihnya bersantai dan berbelanja.
Winartomo (64), asal Solo, dan istrinya, Eli Dwi Saptawiyani (60), misalnya, masih menunggu pemberangkatan menuju Madinah, Arab Saudi.
”Sudah menyelesiakan tawaf ifadah. Sekarang lebih santai. Saya dan istri sudah jalan-jalan belanja di pasar kaget. Beli oleh-oleh pakaian dan perhiasan. Sebagian buat kerabat dan teman di kampung. Nanti di Madinah belanja lagi,” kata Winartomo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/11/4bf9f995607212a8110744b81a33cd88-IMG_2688.jpeg)
Selain jemaah kloter, pemulangan lebih cepat akan dilakukan untuk jemaah yang sakit, tetapi bisa diterbangkan. Hal ini dilakukan untuk mencegah kondisi jemaah menjadi lebih berat di Mekkah. Terlebih jika mereka masih memaksakan melakukan ibadah sunah.
”Mereka ini yang dikhawatirkan jika berlama-lama di Mekkah, bisa bertambah parah kondisinya. Jadi mereka akan diupayakan dipulangkan lebih dahulu,” kata Kepala Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mekkah Edi Supriyatna, Rabu (11/6/2025).
Terkait pasien yang sakit, saat ini masih ada 35 anggota jemaah yang dirawat di KKHI. Adapun anggota jemaah yang meninggal berjumlah 204 orang. Sebagian besar berusia 50-69 tahun. Penyebab utama adalah penyakit jantung dan sebagian dipicu kelelahan.
Terkait masalah isthita’ah (kemampuan jemaah haji secara jasmani, rohani, dan keamanan untuk menunaikan ibadah haji tanpa menelantarkan kewajiban kepada keluarga), terutama yang menjalani safari wukuf, Menteri Agama Nasaruddin Umar membantah bahwa ada pembayaran atau pungutan. Dia menyebut terjadi misinformasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/04/fe4e0673f80534f18e0e29f17b6249c3-IMG_2144.jpeg)
”Saya berikan satu contoh, ada pembayaran yang dilakukan di safari wukuf, tapi setelah dicek oleh pak irjen lengkap dengan nama-namanya, ternyata itu bukan pungutan dari safari itu, melainkan badal,” katanya.
Badal adalah ibadah yang digantikan oleh orang lain karena jemaah tak bisa melaksanakan sendiri. Badal ini meliputi umrah wajib hingga tawaf ifadah.
”Ada banyak hal yang dibayar dan itu bukan pungutan. Itu dilakukan KBIHU (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah), bukan petugas kita. Jadi, saya sekaligus menjelaskan bahwa informasi yang berkembang itu tidak benar, tidak akurat, dan itu sudah kita klarifikasi kepada pihak yang bersangkutan,” tegas Nasaruddin.
Penulis:
Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab SaudiEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul